RSS Amplifier

Miciela's Universe · Aug 20, 2026

5 Altitude of Desire

0
Sign in to vote or save

𝐌𝐈𝐂𝐈𝐄𝐋𝐀 · Miciela's Universe

jangan lupa like

Pukul 04.15 pagi.

Lift pribadi penthouse meluncur turun dengan mulus tanpa hambatan. Ketika denting halus berbunyi dan pintu lift terbuka di area lobi utama gedung apartemen mewah kawasan Hannam-dong, suasana masih sangat sepi dan remang-remang.

Sunghoon melangkah keluar dengan langkah kaki yang panjang, tegas, dan berwibawa. Mantel hitam tersampir rapi di lengannya, sementara tangan kanannya menarik koper kabin beroda halus di atas lantai marmer yang mengilap. Aura ketenangan dan ketampanannya yang tajam terpancar kuat dari balik seragam pilot yang ia kenakan.

Pada saat yang bersamaan, pintu putar kaca lobi depan berputar.

Seorang wanita berusia awal tiga puluhan berpakaian kasual rapi melangkah masuk dengan langkah terburu-buru sembari membawa tas jinjing besar dan beberapa kantong belanjaan berisi makanan sehat. Dia adalah Manajer Yeri, manajer utama yang selama lima tahun ini bertanggung jawab penuh atas segala aktivitasmu di Firestar dan proyek solomu.

Saat mereka berdua berpapasan di tengah lorong lobi marmer yang luas, langkah Manajer Yeri mendadak melambat tanpa sadar.

Matanya secara refleks tertuju pada sosok pria jangkung berseragam pilot yang melintas tepat di sebelahnya. Manajer Yeri yang sudah terbiasa melihat ratusan idol tampan dan aktor ternama di industri hiburan bahkan sempat terpaku sesaat. Garis rahang pria itu yang luar biasa tegas, hidung bangir yang proporsional, serta tatapan mata dingin nan maskulin dari balik seragam penerbangannya memancarkan pesona yang sangat langka dan intimidatif.

Wah, gila... tampan banget. Pilot maskapai mana itu? Jarang-jarang lihat tetangga di lantai atas yang visualnya begini, batin Manajer Yeri dalam hati sembari menatap punggung tegap Sunghoon yang terus melangkah lurus menuju pintu keluar tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.

Sama sekali tidak terlintas di benak Manajer Yeri bahwa pria berkarisma luar biasa yang baru saja ia kagumi itu sebenarnya baru saja keluar dari unit penthouse milik artis binaannya sendiri—dan baru saja menghabiskan malam yang teramat panas bersama sang center Firestar.

Menggelengkan kepalanya untuk membuyarkan lamunan singkat itu, Manajer Yeri mempercepat langkahnya menuju lift pribadi, menekan tombol lantai teratas untuk menjemputmu.

Ting!

Pintu lift terbuka tepat di koridor penthouse-mu. Manajer Yeri memasukkan kode sandi pintu digital unitmu yang memang sudah ia hafal di luar kepala.

Pintu terbuka dengan bunyi klik, dan suasana hening seketika menyambutnya. Aroma kopi yang sempat diseduh Sunghoon sebelum berangkat dan sisa wangi kayu cedar masih melayang samar di ruang tengah, namun Manajer Yeri tidak terlalu menaruh curiga karena menduga kamu menyalakan diffuser aromaterapi baru.

“Dek? (y/n)? Kamu udah bangun belum?” seru Manajer Yeri sembari meletakkan kantong belanjaan di atas meja konter dapur.

Tidak ada sahutan dari dalam kamar.

Manajer Yeri mendesah pelan, melepaskan sepatunya lalu berjalan menuju kamar tidur utama. Ketika pintu kamar dibuka perlahan, pemandangan yang menyambutnya adalah dirimu yang masih meringkuk rapat di bawah selimut bulu tebal, hanya menampakkan helaian rambut merah mudamu yang berantakan di atas bantal sutra.

“Astaga, anak ini... bener-bener ya,” gumam Manajer Yeri sembari melangkah masuk dan membuka tirai jendela kaca sedikit agar cahaya fajar mulai menyinari kamar.

Ia mendekati ranjang, lalu menepuk pelan bahumu yang terbalut piyama sutra putih.

“(y/n)-, bangun yuk. Hari ini jadwal gladi resik jam enam pagi di Sangam-dong. Van agensi udah nunggu di bawah bareng tim keamanan,” ujar Manajer Yeri dengan nada keibuan yang terbiasa disiplin.

Kamu mengerang pelan dari balik bantal, mencoba menggerakkan tubuhmu. Namun begitu pinggul dan kakimu bergerak, rasa ngilu yang pekat seketika menyengat dari pangkal paha hingga tulang pinggangmu—jejak nyata dari permainan liar Sunghoon dari berbagai posisi tadi malam.

“Aduh...” rintihmu tanpa sadar, memegangi pinggangmu sembari memejamkan mata rapat-rapat.

Manajer Yeri langsung menatapmu heran. “Kenapa kamu? Pinggangmu encok? Kemarin perasaan latihannya nggak ada gerakan salto deh.”

Kamu buru-buru menelan rasa panik, menarik piyama putihmu agar kerahnya tetap tertutup rapat menutupi tanda hisapan Sunghoon yang tersembunyi rapi di area dadamu.

“N-nggak apa-apa, Eonnie... cuma agak salah urat pas tidur tadi malam,” kilihmu dengan suara serak yang kamu buat-buat seperti orang serak biasa.

“Makanya, posisi tidurnya jangan aneh-aneh. Untung suaramu nggak hilang,” ujar Manajer Yeri yang sama sekali tidak menaruh curiga. Ia berbalik menuju dapur. “Aku udah buatin roti panggang alpukat sama green smoothie buat sarapanmu. Cepetan bangun, mandi air hangat biar ototmu lemas lagi. Kita punya waktu tiga puluh menit sebelum jalan ke studio.”

Setelah Manajer Yeri keluar dari kamar, kamu perlahan menarik selimutmu, bangkit duduk di tepi ranjang dengan napas tertahan menahan rasa pegal yang nikmat di sekujur tubuhmu.

Jemarimu terangkat, menyentuh liontin bintang perak yang masih melingkar manis di lehermu dan jatuh di balik piyama putihmu. Senyum tipis yang penuh binar kebahagiaan terbit di wajahmu saat mengingat tatapan memuja dan janji kepulangan Sunghoon dua hari lagi.

Dengan semangat baru yang menyala di dalam dadamu, kamu melangkah menuju kamar mandi untuk bersiap menyambut hari besarmu—siap menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa bintang yang selama ini bersinar telah siap menguasai panggung solonya, dengan hati yang kini telah berlabuh seutuhnya.

Ruang tunggu backstage studio penyiaran di Sangam-dong terasa seperti kapal induk yang sedang bersiap meluncurkan pesawat tempurnya. Suasana dipenuhi hiruk-pikuk puluhan staf produksi, asisten manajer yang berlari mondar-mandir membawa cue card, penata rias yang sibuk membaurkan shimmer cair di bawah kelopak mata, serta tim audio yang tengah memeriksa koneksi pemancar nirkabel di saku belakang kostum panggungmu.

Di depan cermin rias dengan lampu sorot putih benderang, kamu duduk tegak dengan balutan kostum pembuka debut solomu, atasan korset satin warna baby pink berpita sutra lembut, dipadu rok tule mengembang beraksen kristal kecil yang memancarkan kilau halus setiap kali kamu bergerak. Rambut soft pink-mu ditata bergelombang lembut dengan sebagian diikat ke atas menggunakan jepit mutiara tipis.

Saat penata rias menyelesaikan sentuhan akhir lip gloss beraroma stroberi di bibirmu, kepala pengarah busana (head stylist) menghampirimu sambil membawa kotak hitam berisi perhiasan mewah dari Fashion house Prancis terkemuka, World-class jewelry brand yang mengontrakmu sebagai duta global (House Ambassador).

“Sayang, yuk lepas dulu kalung silver chain kecil yang kamu pakai itu,” ujar sang stylist dengan nada terburu-buru seraya mengulurkan kalung choker pita sutra merah muda yang dihiasi liontin berlian berbentuk hati dari Brand sponsor. “Kita harus pakai set resmi dari brand. Choker pita ini wajib masuk close-up shot di siaran langsung nanti sesuai klausul kontrak promosi.”

Kedua tanganmu secara spontan terangkat, jemarimu mencengkeram erat liontin bintang kecil pemberian Sunghoon yang tergantung di lehermu. Logam dingin itu terasa begitu hangat di atas kulitmu, bagai jimat pelindung yang menghubungkan jiwamu dengan pria yang saat ini sedang meluncur di ketinggian tiga puluh ribu kaki menuju Hong Kong.

“Eonnie, apa nggak bisa kalung ini tetap kupakai di balik choker pita?” tanyamu dengan nada memohon, sesuatu yang nyaris tidak pernah kamu lakukan sebelumnya sepanjang lima tahun berkarier. “Liontinnya kecil banget, bentuknya bintang, masih masuk kok sama konsep sweet and dreamy debutku.”

Manajer Yeri yang sedang memeriksa lembar susunan acara di sudut ruangan langsung menghentikan kegiatannya. Matanya memicing tajam menatapmu melalui pantulan cermin. Selama lima tahun mendampingimu, kamu dikenal sebagai sosok idol yang paling patuh, profesional, dan tidak pernah mendebat arahan Fashion team mengenai perhiasan sponsor.

“Tumben banget kamu nawar urusan aksesoris, (y/n)?” tegur Manajer Yeri dengan nada heran seraya melangkah mendekat. “Itu commercial clause bernilai miliaran won. Kalau perwakilan brand melihat ada silver chain non-sponsor yang nongol di siaran televisi nasional, agensi bisa kena penalti denda. Buka dulu sebentar, nanti setelah turun panggung kan bisa dipakai lagi.”

Kamu terdiam, menatap pantulan dirimu sendiri di cermin. Kesadaran profesionalitasmu sebagai artis papan atas akhirnya menang atas keinginan emosionalmu. Dengan helaan napas berat, jemarimu bergerak ke tengkuk, membuka kait rantai perak tipis itu dengan sangat hati-hati. Kamu meletakkan kalung bintang itu di telapak tangan penata gayamu, menatapnya lekat-lekat dengan pandangan yang teramat protektif.

“Eonnie, tolong simpan ini di kotak perhiasan pribadiku yang ada kuncinya ya,” pintamu dengan suara pelan namun sarat penekanan. “Jangan sampai hilang, jangan sampai tertukar sama properti syuting. Kalung ini... paling berharga buatku.”

Penata busanamu terkekeh geli melihat ekspresimu yang luar biasa tegang hanya karena seuntai kalung sederhana tanpa merk ternama. “Iya, tenang aja, Princess. Bakal kumasukkan ke brankas kecil di van agensi.”

Setelah choker pita resmi terpasang rapi di lehermu, kamu bangkit berdiri, menenangkan detak jantungmu, lalu melangkah keluar lorong menuju panggung utama untuk menjalani sesi gladi bersih (dry rehearsal) bersama tim penari latar.

Gladi bersih berlangsung lancar tanpa cela. Vokalmu stabil, transisi formasi tariannya presisi, dan arahan kamera berhasil menangkap setiap ekspresi manis dari konsep solomu. Setelah turun dari panggung dan berjalan menyusuri lorong sempit menuju ruang tunggu, kamu berpapasan dengan rombongan staf lain yang mengenakan tanda pengenal berlogo khusus.

Di tengah rombongan itu, berjalan seorang pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam beraksen perak.

Evan Lee.

Evan adalah solois pria papan atas yang debut satu tahun lebih dulu darimu. Memiliki visual tampan bergaya bad boy dengan sorot mata tajam dan karisma panggung yang kuat, Evan sering kali dijodoh-jodohkan (shipped) denganmu oleh komunitas penggemar di internet. Narasi fiksi penggemar dan suntingan video TikTok yang mempertemukan interaksi panggung kalian berdua selalu mendulang jutaan penayangan. Namun, secara pribadi, kamu tidak pernah menjalin komunikasi intens dengannya selain saling membungkuk sopan di lorong stasiun televisi.

Hari ini, secara kebetulan, Evan juga merilis lagu terbarunya dan tampil di program musik yang sama.

“Hai, (y/n)-ssi. Congratulations on your solo debut,” sapa Evan ramah saat rombongan kalian berpapasan. Senyumnya terkembang manis, menampakkan lesung pipit di sisi kirinya.

Kamu membungkuk sembilan puluh derajat dengan formalitas yang kaku. “Terima kasih banyak, Sunbaenim. Selamat juga untuk comeback barumu.”

Langkah Evan terhenti, membuat seluruh staf di belakangnya ikut berhenti. “I heard your main song is so addictive. If you don’t mind, bagaimana kalau nanti kita saling bertukar konten dance challenge untuk TikTok dan kanal YouTube masing-masing? Penggemar kita pasti senang melihatnya.”

Ada sesuatu dalam sorot mata Evan—binar percaya diri yang sedikit terlalu menuntut—yang membuat alarm kehati-hatianmu menyala seketika. Mengingat komitmen hatimu yang kini telah terkunci rapat untuk Sunghoon, nalurimu menolak untuk membuat konten yang dapat memicu rumor asmara tak berdasar.

“Maaf, Sunbaenim, jadwal rekaman wawancara dan siaran langsungku hari ini cukup padat—”

“Tentu saja bisa, Evan-ssi!” seru Manajer Yeri yang tiba-tiba memotong kalimatmu dari samping dengan senyum lebar seorang pebisnis ulung. “Sinergi promosi kalian berdua akan sangat bagus untuk mendongkrak engagement di media sosial. Nanti setelah rekaman panggung utama selesai, kita atur waktunya di ruang tunggu khusus ya.”

Evan mengangguk puas seraya menatapmu dengan senyum penuh arti. “Baguslah. Sampai jumpa nanti, (y/n).”

Setelah rombongan Evan menjauh, kamu menoleh ke arah Manajer Yeri dengan tatapan protes yang tertahan. “Eonnie, kenapa diterima? Aku nggak mau bikin rumor yang aneh-aneh di hari pertama debut soloku.”

“Ini murni Marketing strategy , (y/n),” sahut Manajer Yeri santai sambil memeriksa pesan di ponselnya. “Interaksi kalian berdua selalu jadi trending topic. Agensi butuh eksposur besar untuk mengamankan posisi lagu barumu di puncak tangga lagu digital. Jangan terlalu kaku, bersikaplah profesional seperti biasa.”

Kamu menghela napas panjang, menelan kembali rasa ketidaknyamananmu demi kelancaran pekerjaan.

Tiga jam berikutnya berlangsung bagai angin puyuh. Sorak-sorai ribuan penggemarmu yang memenuhi studio utama menggema riuh saat kamu membawakan lagu debut solomu untuk siaran langsung. Penampilanmu sukses besar, setiap nada tinggi tereskusi sempurna, dan visual rambut merah mudamu berhasil memikat seluruh penonton di studio maupun di layar kaca.

Begitu turun panggung dan menyelesaikan sesi wawancara kemenangan sementara, kamu langsung digiring oleh Manajer Yeri menuju sebuah ruangan kosong berlatar belakang dinding bercat putih yang telah disiapkan untuk perekaman konten media sosial.

Evan Lee sudah berdiri di sana bersama tim kameranya. Pria itu telah berganti pakaian mengenakan kemeja sutra longgar yang sedikit memperlihatkan dadanya, tampak sangat santai dan percaya diri.

“Ayo, kita mulai dari koreografi lagumu dulu,” ujar Evan seraya mendekat.

Perekaman dance challenge pun dimulai. Namun, tidak seperti biasanya saat kamu menari bersama rekan satu grupmu di Firestar, gerakanmu kali ini terasa agak kaku dan berjarak. Kamu secara sadar membatasi kontak fisik, saat koreografi menuntutmu untuk berputar mendekatinya, kamu menyisakan ruang ekstra, dan pandangan matamu lebih banyak terfokus pada lensa kamera ketimbang membalas tatapan intens yang dilemparkan Evan.

Sikap canggungmu yang berusaha menjaga batas itu, ironisnya, justru menghasilkan dinamika visual yang berbeda di monitor rekaman. Di mata penonton dan penggemar yang menyukai fiksi romansa selebriti, ekspresi malu-malu dan jarak yang kamu buat justru terlihat seperti ketegangan romantis yang manis (romantic tension) antara dua insan yang saling menyukai di balik layar.

Good job,” puji Evan saat sesi perekaman selesai. Ia melangkah mendekat saat staf sedang merapikan tripod kamera, lalu menyodorkan sebuah salinan album fisiknya yang masih tersegel rapi. “Ini album terbaruku untukmu.”

Kamu menerima album itu dengan kedua tangan dan membungkuk sopan. “Terima kasih banyak, Sunbaenim. Aku juga sudah menyiapkan album soloku untukmu.”

Saat kamu menyerahkan albummu, ujung jemari Evan menyentuh punggung tanganmu sedikit lebih lama dari batas kesopanan biasa. Matanya menatapmu lurus dengan intensitas yang tidak lagi tersembunyi.

“Kapan-kapan, apa kita bisa makan malam bersama untuk merayakan debut solomu ini, (y/n)?” bisik Evan cukup rendah sehingga hanya kamu yang mendengarnya. “I have written a special message inside the album booklet.”

Kamu menatapnya dengan senyum formal yang dingin, senyum diplomatis yang selalu kamu pasang untuk menolak pendekatan di industri hiburan. “Jadwal promosi grup dan soloku sangat padat beberapa bulan ke depan, Sunbaenim. Semoga album barumu meraih banyak trofi.”

Tanpa menunggu balasannya, kamu berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruangan itu.

Beberapa menit kemudian, di lorong studio yang lebih lengang, kamu melakukan dance challenge kedua bersama anggota grup idola wanita pendatang baru yang baru saja debut. Bersama gadis-gadis muda itu, seluruh ketegangan di tubuhmu sirna seutuhnya. Kamu tertawa lepas, menari dengan ceria dan penuh energi, memeluk mereka di akhir video, dan memperlihatkan sisi dirimu yang sesungguhnya yang hangat dan tanpa beban.

Malam harinya, van agensi membawamu kembali ke gedung pusat agensi di kawasan Gangnam untuk menyelesaikan rangkaian siaran langsung di platform komunitas penggemar.

Begitu masuk ke ruang istirahat artis di lantai lima agensi, hal pertama yang kamu lakukan adalah menghampiri penata busanamu.

“Eonnie, kalungku mana?” tanyamu langsung.

Sang stylist tersenyum seraya menyerahkan kotak hitam kecil yang terkunci rapat. Kamu membukanya, mengambil seuntai kalung silver dengan liontin bintang kecil itu, lalu segera memasangnya kembali di lehermu. Logam dingin itu menyentuh kulitmu di balik kaos oversized yang kamu kenakan untuk bersantai, seketika menghadirkan rasa tenang yang tak ternilai harganya.

Sembari menunggu tim produksi menyiapkan peralatan siaran langsung, kamu duduk di sofa panjang dan membuka tas jinjingmu. Kamu mengeluarkan album fisik milik Evan Lee yang tadi diserahkan padamu.

Ketika kamu membuka halaman pertama buklet foto album tersebut, selembar kartu nama pribadi berwarna hitam pekat terjatuh ke pangkuanmu. Di atas kartu itu, tertulis nomor telepon pribadi Evan dengan tinta emas beserta sebuah pesan singkat:

“Hubungi aku kapan pun kamu punya waktu luang. Aku ingin mengenalmu lebih jauh di luar panggung panggung musik ini. – Evan.”

Kamu menatap kartu nama itu selama beberapa detik dengan ekspresi datar. Tidak ada sedikit pun rasa tersanjung di hatimu. Sebaliknya, kamu menyadari sepenuhnya bahwa kamu harus memasang batas tegas yang tak tertembus agar pria itu tidak salah mengartikan sikap profesionalmu.

Tanpa ragu, kamu mengambil kartu nama itu, menyelipkannya kembali ke halaman paling belakang album, lalu menutupnya rapat-rapat dan memasukkannya ke dasar tas pribadimu—memutuskan dalam hati untuk tidak akan pernah menghubungi nomor tersebut.

Kamu kemudian menyalakan ponsel pintarmu.

Layar menunjukkan pukul 20.30 malam. Sinyal penerbangan internasional Sunghoon pasti sedang melintasi wilayah udara laut lepas menuju Hong Kong, membuatnya berada di luar jangkauan jaringan seluler selama beberapa jam ke depan.

Meskipun tahu pesanmu tidak akan terkirim secara instan, jemarimu tetap mengetik panjang di ruang obrolan dengan kontak bertuliskan Hoonie:

You: Sunghoonie, panggung siaran debut soloku hari ini lancar banget! Tadi sempat disuruh lepas kalung bintangmu gara-gara sponsor pakaian, tapi sekarang udah kupakai lagi dan nggak bakal kulepas. Tadi juga sempat syuting video dance challenge sama beberapa idol lain di backstage. Capek banget, tapi lega karena semuanya berjalan sukses. Pasti kamu sekarang lagi di kokpit ya? Fokus terbangnya ya, First Officer Park. Jangan lupa kabari aku begitu rodanya mendarat di bandara Hong Kong. Aku kangen.

Kamu menekan tombol kirim. Tanda centang satu abu-abu muncul di samping pesan tersebut, menandakan ponsel Sunghoon sedang dalam mode terbang. Menatap tanda centang itu, senyum lembut terbit di bibirmu. Kamu menyandarkan kepalamu di sandaran sofa, memegang liontin bintang di dadamu dengan jemari yang tenang.

Di tengah gemerlap lampu panggung, tuntutan industri yang bising, dan godaan popularitas yang mengelilingimu, kamu tahu persis di mana hatimu berlabuh—pada seorang pria berkarisma dingin yang kini tengah membelah awan malam demi menjaga langit, tempat bintangmu bersinar terang.

to be continued

duh susah kalo dah kyk gini wkwkwk

kesempatan jadi idol buat bisa di shipperin sama bias tp kecantolnya sama temen smp

tp disini y/n ga biasin evan ya..

pure dia mau jadi idol karena impiannya sendiri..

No posts

Read the original on micimaseven.substack.com

Comments

Nothing yet. Say the first thing.

    Sign in to join the conversation.