RSS Amplifier

Miciela's Universe · Aug 19, 2026

4 Altitude of Desire

0
Sign in to vote or save

𝐌𝐈𝐂𝐈𝐄𝐋𝐀 · Miciela's Universe

JANGAN LUPA LIKE

Ritme yang semula teratur dan penuh kehati-hatian itu perlahan mulai membakar habis sisa-sisa kesabaranmu. Di bawah kungkungan tubuh Sunghoon yang kokoh, rasa penuh yang mengalir hangat di dalam dirimu justru memicu dahaga yang kian tak terkendali. Kamu tidak lagi menginginkan kelembutan yang terukur, kelelahan dari jadwal latihan berminggu-minggu seolah luluh lantak, digantikan oleh letupan gairah murni yang menuntut pelepasan mutlak.

Kedua kakimu yang melingkari pinggangnya kian mengunci erat, menarik pinggulnya agar menekan lebih dalam tanpa menyisakan celah udara sedikit pun. Jemarimu yang semula bertaut pasrah di atas bantal kini bergerak ke atas, mencengkeram helai rambut hitamnya yang basah oleh peluh, menarik kepalanya turun hingga bibirnya nyaris menyentuh daun telingamu.

“Hoon... jangan lambat-lambat,” bisikmu dengan nada merengek yang serak, napasmu yang panas membelai lehernya yang berurat kencang. “I want more... take over everything, please...”

Sunghoon menarik napas tajam melalui hidung, mencoba mempertahankan tempo stabilnya demi menjaga staminamu untuk jadwal panggung esok hari. Otot-otot rahangnya mengeras, menahan dorongan insting liarnya yang terus meronta di balik ketenangan palsunya.

“Kamu besok harus gladi resik subuh, (y/n),” jawabnya parau, suaranya bergetar berat menahan diri saat pinggulnya terus bergerak maju-mundur dalam ritme lambat yang menyiksa. “If I’m out of control now, besok kakimu bakal lemas di panggung.”

Mendengar penolakannya yang berlandaskan rasa protektif itu, insting nakalmu justru terpicu. Kamu mendongakkan kepala sedikit, menggesekkan ujung hidungmu di sepanjang garis rahangnya yang tegas, lalu berbisik tepat di samping telinganya dengan nada rendah yang sarat akan godaan mematikan.

“Nggak peduli... cepetin, Daddy.”

Kata terlarang itu meluncur dari bibirmu dengan begitu lugas dan berani. Tubuh Sunghoon seketika membeku selama satu detik penuh. Tatapan matanya yang semula teduh dan berhati-hati mendadak menggelap pekat, pupilnya melebar menelan seluruh warna hazel di manik matanya. Panggilan itu menghancurkan rantai kendali besi yang ia pasang rapat-rapat sejak menginjakkan kaki di kamarmu malam ini.

What did you just call me?” geram Sunghoon rendah, suaranya berubah menjadi getaran dingin dan dominan yang mengirimkan sengatan listrik ke sekujur tulang belakangmu.

Belum sempat kamu mengulang kata itu untuk memancingnya lebih jauh, Sunghoon sudah bergerak dengan kecepatan dan kekuatan yang tak terduga.

Dengan satu cengkeraman mantap di pinggulmu, ia membalikkan tubuhmu di atas ranjang tanpa melepaskan penyatuan kalian, membuatmu tersentak dan kini terbaring telungkup di atas kasur sutra. Sebelum kamu sempat mencerna perubahan posisi itu, kedua tangannya yang besar menarik pinggulmu naik ke atas, memosisikan tubuhmu menungging dengan dada dan wajah yang terbenam di atas bantal lembut.

“Kamu yang minta ini, (y/n),” bisik Sunghoon tepat di belakang tengkukmu, hembusan napasnya yang berat terasa membakar kulit punggungmu yang terbuka. “Don’t you dare ask me to stop later.”

Tanpa memberi ampun atau jeda sedetik pun, Sunghoon menghujamkan pinggulnya maju dengan kekuatan penuh. Sentakan kasar dan teramat dalam itu menghantam titik paling sensitif di dalam dirimu dengan presisi yang brutal. Tubuhmu terdorong ke depan di atas kasur, sementara pekikan tertahan lolos bebas dari tenggorokanmu yang terbenam di bantal. Cengkeraman jemari Sunghoon di kedua sisi pinggulmu menancap begitu kuat, menahan posisimu agar tidak bergeser saat ia mulai memacu ritmenya bagai badai yang mengamuk.

Hentakannya kini berubah menjadi tempo yang cepat, rapat, dan tanpa kompromi. Setiap dorongan pinggulnya menghasilkan suara peraduan kulit yang berdebum berat, bergema di seluruh sudut kamar tidur mewah yang kedap suara itu. Rambut merah mudamu berantakan di atas seprai, bergoyang seirama dengan setiap sentakan liar yang ia berikan dari belakang.

Satu tangan Sunghoon meluncur turun ke punggungmu, lalu bergerak ke depan untuk meremas salah satu payudaramu dari bawah, menarik puncaknya yang mengeras sembari pinggulnya terus menumbuk maju tanpa melambat sedikit pun. Sensasi ganda dari remasan tangan kasarnya di dadamu dan hujaman bertenaga di pusat kewanitaanmu membuat kepalamu mendongak ke belakang, bibirmu terbuka lebar meraup oksigen di sela desahan dan rintihan yang tak lagi bisa kamu sembunyikan.

“Hoon... ah... Daddy... Too deep...” rintihmu dengan suara yang nyaris pecah, jemarimu mencengkeram seprai sutra hingga robek di beberapa bagian.

Mendengar panggilan itu terucap kembali di tengah desahan pasrahmu, Sunghoon mendengus kasar. Laki-laki itu menarik tubuh bagian atasmu ke belakang dengan satu tangan yang melingkari dadamu, memaksa punggungmu melengkung rapat menempel di dada bidangnya yang basah berkilat oleh peluh.

Dengan posisi setengah terduduk dan menungging dari belakang, sudut penetrasinya menjadi jauh lebih tajam dan menghunjam ke batas terdalam yang sanggup kamu terima.

“Tatap cermin di depanmu,” perintah Sunghoon dengan nada memerintah yang serak dan tak terbantahkan, mengarahkan dagumu ke arah pintu lemari kaca besar di seberang ranjang.

Dalam pantulan cermin temaram itu, kamu bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh jangkung dan atletis sang pilot muda mendominasi dirimu seutuhnya—otot-otot lengannya yang menegang keras, urat-urat di lehernya yang menonjol menahan ekstasi, dan ekspresi wajahnya yang begitu intens menatapmu melalui kaca sembari menghujamkan setiap sentakannya tanpa henti.

“Lihat siapa yang punya kamu malam ini,” bisik Sunghoon di telingamu, giginya menggigit pelan puncak bahumu dengan tekanan yang terkontrol. “Bukan ribuan penonton di panggung besok. Cuma aku.

Ritme dorongannya semakin menggila, mencapai puncak kecepatan yang membuat seluruh indramu kehilangan orientasi ruang dan waktu. Dinding kewanitaanmu berkedut hebat menjepitnya dengan sangat rapat, terseret ke dalam jurang orgasme yang teramat pekat dan dahsyat.

Kamu menjerit tertahan saat gelombang kenikmatan yang luar biasa meledak di sekujur tubuhmu, membuat seluruh ototmu menegang kaku dan bergetar hebat di dalam dekapannya.

Merasakan jepitan kuat dari puncak pelepasanmu, Sunghoon menggeram panjang dari dasar tenggorokannya. Dengan tiga sentakan terakhir yang teramat dalam dan bertenaga, tubuhnya menegang keras, menuntaskan pelepasannya yang kedua ke dalam pengaman yang terpasang, menghempaskan kalian berdua ke dalam keheningan malam yang sunyi dan sarat akan kepuasan mutlak.

Hawa panas yang menyesakkan di dalam kamar tidur utama itu belum sepenuhnya memudar ketika tubuh Sunghoon akhirnya meluruh ke atas kasur, membawa tubuhmu ikut tumbang dalam dekapannya. Ranjang berukuran king size itu kini berantakan total, seprai sutra abu-abu gelap terpilin tak beraturan, sementara bantal-bantal terlempar ke sudut lantai kayu.

Napas kalian berdua beradu dalam ritme yang kasar dan terputus-putus. Tubuh jangkung sang pilot muda basah oleh lapisan peluh tipis yang berkilau di bawah temaram lampu nakas, menempel lekat pada punggung dan dadamu yang sama-sama bergetar hebat akibat sisa-sisa pelepasan yang baru saja membakar seluruh sarafmu.

Sunghoon perlahan menarik tubuhnya menjauh, melepaskan pengaman yang telah terpakai dengan gerakan terampil dan membuangnya ke tempat sampah kecil di samping nakas. Setelah itu, ia kembali menjatuhkan dirinya terlentang di sampingmu, lengannya yang berotot terentang bebas sementara dadanya yang bidang naik-turun meraup oksigen.

“Istirahat...” bisik Sunghoon parau. Suara beratnya terdengar begitu serak dan letih, namun sarat akan kepuasan yang mendalam. Tangannya yang besar bergerak perlahan, menarik ujung selimut untuk menutupi bahumu yang terbuka. “Tidur, (y/n). Jam lima pagi tim riasmu sudah bakal gedor pintu.”

Namun, di dalam kepalamu, kabut gairah belum sepenuhnya buyar. Alih-alih merasa lelah, aliran adrenalin dari pelepasan kedua justru menyulut percikan api baru yang menolak padam. Sensasi dominasi Sunghoon beberapa menit lalu masih menyengat di setiap jengkal kulitmu, membangkitkan rasa lapar yang aneh dan tak terpuaskan.

Perlahan, kamu menggeser tubuhmu di atas kasur, merangkak mendekatinya. Kedua lututmu bertumpu di samping pinggulnya. Kamu menundukkan tubuh, menopang kedua telapak tanganmu di atas dada bidang Sunghoon yang masih berdetak liar. Helai-helai rambut merah mudamu yang berantakan jatuh menjuntai, menyapu kening dan rahang tegasnya bagai sutra tipis.

“Satu kali lagi, Hoon...” bisikmu lirih, suara manjamu kini terdengar serak dan begitu sensual di udara kamar yang sunyi.

Sunghoon membuka matanya perlahan. Pupil matanya yang gelap menatapmu lurus, lalu jemarinya yang hangat terangkat, menyentuh pahamu yang masih menunjukkan getaran-getaran halus tanpa bisa kamu sembunyikan.

“Nggak,” tolak Sunghoon tegas, meski suaranya terdengar goyah di ujung kalimat. “Lihat kaki kamu. Masih gemetar kayak gitu. Aku nggak mau kamu pingsan pas gladi resik besok.”

Bukannya menurut, kamu justru menyunggingkan senyum tipis yang memabukkan—senyum yang jarang sekali kamu tunjukkan di depan kamera mana pun.

Kamu mencondongkan wajahmu ke bawah, menempelkan bibirmu tepat di atas bibirnya. Ciuman itu tidak terburu-buru, kamu menyesap bibir bawahnya perlahan, membasahinya dengan lidahmu, lalu menariknya dengan gigitan-gigitan kecil yang menggoda sebelum membisikkan kata-kata panas tepat di celah bibirnya.

“Kali ini... biar aku yang gerak,” bisikmu menantang, tanganmu meluncur turun ke perutnya yang berotot keras, meraba jalur urat-urat tegas di sepanjang pinggulnya. “Kamu cuma perlu diam dan nikmatin, Hoon...”

Sentuhan lembut jemarimu dan aroma manis tubuhmu yang menguar kuat menghancurkan sisa-sisa pertahanan rasional yang tersisa di kepala Sunghoon. Rahang pria itu mengeras, otot lehernya menegang saat ia merasakan bagaimana tubuh bagian bawahnya kembali bereaksi tanpa bisa dicegah.

Dengan satu helaan napas berat yang terdengar seperti erangan frustrasi, Sunghoon meraih laci nakas di sampingnya dengan gerakan cepat. Ia mengeluarkan satu bungkus pengaman baru, lalu melemparkannya ke atas dadanya sendiri, tepat di bawah pandanganmu.

“Pasang,” perintah Sunghoon dengan suara yang berubah dingin dan begitu dalam, kedua tangannya terlipat di bawah kepalanya sendiri di atas bantal, membiarkanmu mengambil alih kendali penuh seperti yang kamu minta.

Dengan jemari yang sedikit gemetar namun penuh tekad, kamu merobek bungkus foil itu dengan gigi, mengeluarkannya, lalu mengarahkannya ke miliknya yang sudah kembali tegang sempurna. Kamu meraba ujungnya perlahan, merasakan bagaimana denyut nadi di bawah kulitnya berdetak kencang, sebelum menggulung pelindung itu ke bawah hingga menutupi seluruh panjangnya dengan presisi yang rapi.

Tatapan Sunghoon tidak pernah lepas dari wajahmu sedetik pun saat kamu melakukan itu. Kilatan di matanya begitu intens, menelusuri bagaimana rona merah kembali membakar kedua pipimu.

Setelah selesai, kamu mengangkat tubuhmu perlahan, memosisikan dirimu berlutut tepat di atas pinggulnya (woman on top). Dengan satu tangan memegang bahunya sebagai tumpuan dan tangan lainnya membimbing keberadaannya ke celah intimu yang masih basah dan hangat, kamu mulai menurunkan tubuhmu ke bawah secara perlahan. Sensasi ketika kepalanya yang padat mulai membelah kembali dinding kewanitaanmu seketika membuat seluruh napasmu tertahan di tenggorokan.

Ahhh...“ sebuah desahan panjang yang teramat serak dan nikmat meluncur tanpa daya dari bibirmu saat kamu menekan tubuhmu turun hingga batas terdalam—membiarkan intimu memeluk erat seluruh miliknya sampai mentok tanpa menyisakan jarak sedikit pun.

Di bawahmu, Sunghoon menggeram rendah—suara seksi dan bergetar yang datang dari dasar dadanya saat ia merasakan betapa ketat dan panasnya dinding kewanitaanmu yang menyedotnya seutuhnya. Kamu berhenti sejenak, memejamkan mata sembari merasakan denyut kepuasan yang luar biasa mengisi setiap rongga tubuhmu. Tanganmu mencengkeram erat bahu lebarnya, sementara punggungmu melengkung indah di bawah temaram lampu.

Perlahan, kamu mulai menggerakkan pinggulmu.

Kamu mengangkat tubuhmu beberapa inci ke atas, membiarkan gesekan padat itu menelusuri setiap saraf sensitifmu, sebelum kembali menekannya turun dengan putaran pinggul yang lambat dan terarah. Setiap gerakan naik-turun yang kamu pimpin menciptakan ritme yang begitu intim, membuat seprai di bawah tubuh Sunghoon semakin kusut.

Sunghoon menatapmu dari bawah dengan sorot mata yang sarat akan kerinduan mendalam (yearning) yang bercampur dengan nafsu yang tak lagi tersaring. Melihat bagaimana rambut merah mudamu bergoyang seirama dengan lekuk tubuhmu yang bergerak di atasnya, kata-kata kotor dan sensual mulai meluncur dari bibir sang pilot muda yang biasanya irit bicara itu.

“Sempit banget, (y/n)...” bisik Sunghoon parau, suaranya terdengar begitu mesum dan gelap di telingamu. “Kamu sengaja jepit aku sekencang ini biar aku nggak bisa kemana-mana, kan?”

Mendengar kalimat itu, kamu membuka mata, menatap langsung ke dalam manik matanya yang menggelap total. Dengan suara yang kini berubah serak dan basah akibat kelelahan dan gairah yang memuncak, kamu mempercepat putaran pinggulmu di atasnya.

“Suka... kan, Daddy?” godamu dengan nada yang begitu nakal dan berani, menekan bagian terdalammu tepat di atas pangkal batangnya. “Look who is now moving on top of you...”

Panggilan itu, dipadukan dengan pemandangan tubuhmu yang mendominasinya dan suara becek penyatuan kalian yang terdengar begitu jelas di keheningan kamar, seketika memutus tali kendali terakhir yang Sunghoon pertahankan.

Fuck...” umpat Sunghoon tertahan.

Kedua tangannya yang besar dan kokoh mendadak melesat ke atas, mencengkeram erat kedua sisi pinggulmu dengan cengkeraman yang tak lagi membiarkanmu bergerak bebas.

Laki-laki itu tidak lagi sudi hanya berdiam diri di bawahmu. Dengan kekuatan otot tubuhnya yang dominan, Sunghoon mulai menyentakkan pinggulnya naik dari bawah—menumbuk ke atas dengan dorongan-dorongan yang keras, dalam, dan beruntun, menghancurkan ritme lambatmu menjadi tempo liar yang tak lagi sanggup kamu imbangi.

Dorongan bertenaga dari bawah yang dihantamkan Sunghoon seketika merampas seluruh kendali yang sempat kamu pegang. Pinggulnya menumbuk ke atas dengan ritme yang begitu padat, keras, dan tanpa ampun, menghantam titik terdalam di dalam dirimu berulang kali dalam tempo yang kian menggila.

“Hoon... ahh! Park Sunghoon... nggh!

Desahan dan rintihan tertahan lolos bebas dari tenggorokanmu, suaramu yang serak dan basah terdengar bagai melodi paling memabukkan di telinga sang pilot muda. Setiap nada pasrah yang keluar dari bibirmu seolah menjadi bahan bakar yang membakar habis sisa-sisa kewarasannya.

Cengkeraman tangan Sunghoon di pinggulmu kian menancap kuat, mengunci tubuhmu agar tetap menerima setiap sentakan bertenaganya. Di atasnya, tubuhmu berguncang hebat mengikuti hentakan liar dari bawah. Dadamu yang telanjang memantul kencang seirama dengan laju gerakannya, keringat tipis membuat kulitmu berkilau indah di bawah temaram lampu nakas.

Sensasi kenikmatan yang teramat intens dan menyiksa menyengat seluruh sarafmu. Pandanganmu mulai mengabur dan memutih, matamu mendongak sayu ke atas dalam ekspresi pasrah tanpa daya, bibirmu terbuka lebar meraup oksigen di sela gelombang pelepasan yang siap meledak untuk kesekian kalinya.

“H-Hoon... aku... udah mau... ah!“ jeritmu tercekat.

Dinding kewanitaanmu seketika berkedut kencang, menjepit miliknya dengan sangat rapat saat gelombang orgasme dahsyat menghantam tubuhmu seutuhnya. Seluruh ototmu menegang kaku, tubuh bagian atasmu ambruk ke depan menempel di dada bidangnya sembari kamu merintih panjang dalam kepuasan yang menguras seluruh tenagamu.

Merasakan jepitan histeris dari puncak pelepasanmu yang begitu ketat, napas Sunghoon tercekat di tenggorokan.

Fuck... nikmat banget, (y/n)...” umpat Sunghoon dengan suara serak, rendah, dan teramat seksi tepat di samping telingamu.

Plak! Plak! Plak!

Otot-otot di leher dan lengannya menegang keras. Dengan tiga sentakan terakhir yang menghunjam sangat dalam dan bertenaga dari bawah, tubuh jangkungnya menegang kaku. Geraman panjang lolos dari balik rahangnya yang mengatup rapat saat ia menuntaskan pelepasannya sendiri di dalam pengaman, menyusul puncakmu dalam satu ledakan kepuasan yang sempurna. Kamar tidur itu mendadak jatuh dalam keheningan total, hanya menyisakan deru napas kalian berdua yang terengah-engah dan berat di udara yang gerah.

Sunghoon melingkarkan kedua lengannya yang kokoh di sekeliling tubuhmu yang terkulai lemas di atas dadanya. Jemarinya yang hangat menyusup ke sela-sela rambut merah mudamu yang basah oleh peluh, mengusap kepalamu dengan kelembutan yang teramat protektif sembari mengecup pelipismu berulang kali, membiarkan detak jantung kalian yang berdegup kencang perlahan menemukan kembali ketenangannya sebelum fajar menyapa.

Keheningan di kamar tidur penthouse berangsur-angsur kembali tenang saat detak jantung kalian berdua mulai melambat. Udara yang semula terasa gerah kini perlahan digantikan oleh hawa sejuk khas dini hari kota Seoul yang menyusup dari celah ventilasi.

Sunghoon tidak langsung beranjak pergi. Laki-laki itu menarik selimut tebal menutupi punggungmu yang dingin, lalu mengecup kening, pelipis, dan kelopak matamu yang terpejam rapat dengan kelembutan yang teramat murni. Tidak ada lagi sisa keliaran beberapa saat lalu, yang tersisa hanyalah Park Sunghoon yang selalu menjagamu dengan sepenuh hati sejak usia belasan tahun.

“Bentar ya, sayang,” bisiknya serak di dekat telingamu.

Dengan hati-hati agar tidak mengganggu istirahatmu, Sunghoon turun dari kasur. Ia melangkah ke kamar mandi, membersihkan dirinya secara singkat, lalu kembali dengan membawa handuk hangat yang baru dan segelas air mineral.

Duduk di tepi ranjang, Sunghoon membantumu meminum beberapa teguk air hangat untuk membasahi tenggorokanmu yang serak sehabis mendesah berulang kali. Setelah itu, ia mengusap pelan sisa-sisa keringat di tubuhmu dengan handuk hangat, memastikan tubuhmu benar-benar bersih dan nyaman.

Melihat kamu yang sudah terlelap kembali karena kelelahan ekstrem, Sunghoon tersenyum tipis. Matanya tertuju pada lemari pakaianmu. Ia membukanya perlahan, mengambil satu set piyama tidur sutra berlengan panjang berwarna putih bersih yang longgar.

Dengan sangat hati-hati dan telaten, ia mengangkat tubuh lemasmu sedikit, memakaikan baju piyama itu melewati kedua lenganmu, mengancingkannya satu per satu dari atas ke bawah, lalu memakaikan celana panjangnya. Sunghoon memastikan tidak ada satu jengkal pun kulit tubuhmu yang terbuka, tindakan protektifnya ini ia lakukan agar saat manajermu datang menjemput nanti, tidak ada kecurigaan yang membahayakan kariermu.

Setelah menyelimutimu kembali hingga sebatas dada dan mengecup bibirmu lembut, Sunghoon melangkah keluar untuk bersiap.

Pukul 03.45 subuh.

Lampu tidur di samping nakas kembali dinyalakan temaram. Sunghoon melangkah mendekati ranjang dengan langkah yang nyaris tanpa suara.

Sosoknya kini telah bertransformasi seutuhnya menjadi seorang First Officer maskapai penerbangan internasional yang luar biasa berkarisma. Kemeja putih berpotongan tegas dengan pangkat bergaris emas di kedua pundaknya membalut tubuh jangkungnya dengan sempurna, dipadu celana kain hitam licin, dasi gelap yang terpasang rapi di kerah, serta mantel seragam pilot yang tersampir anggun di lengannya. Topi dinas beremblem emas dan tas koper kabin hitamnya sudah siap di dekat pintu kamar.

Sunghoon duduk perlahan di tepi kasur, membungkuk sedikit sembari mengusap lembut pipimu yang mulus.

“(y/n)... bangun sebentar,” bisik Sunghoon lembut, suaranya yang berat mengalun hangat di telingamu. “Aku harus jalan ke bandara sekarang.”

Kelopak matamu bergerak lambat, terasa begitu berat saat perlahan terbuka. Begitu pandanganmu terfokus pada sosok gagah di hadapanmu, kamu mengerjapkan mata beberapa kali. Melihat Sunghoon yang sudah rapi dalam balutan seragam pilotnya, rasa kantukmu seketika bercampur dengan rasa tidak rela yang mendalam.

“Hoon...” suaramu serak parau khas orang baru bangun tidur.

Dari balik selimut putih, kedua tanganmu terangkat, melingkari lehernya yang wangi aroma parfum segar dan menarik tubuh tegapnya turun ke dalam pelukanmu. Kamu membenamkan wajahmu di dadanya yang keras berbalut kemeja dinas, merengek manja tanpa memedulikan waktu.

“Jangan pergi dulu... masih ngantuk banget, temenin di sini,” gumammu lirih dengan bibir mengerucut.

Sunghoon tertawa rendah—suara tawa khasnya yang renyah dan begitu menenangkan. Lengannya melingkari punggungmu yang terbalut piyama putih, membiarkanmu bermanja-manja selama beberapa menit di dadanya.

“Pesawatku nggak bakal nungguin kalau pilotnya telat, sayang,” ucap Sunghoon lembut sembari mengusap helaian rambut merah mudamu yang berantakan di atas bantal. “Aku harus briefing sebelum jam lima pagi di Incheon. Rute Hong Kong nggak bisa ditunda.”

“Nanti malam kamu balik lagi kan?” tanyamu menatap matanya dengan pandangan memohon.

“Besok lusa aku baru mendarat lagi di Seoul,” jawab Sunghoon, mengecup puncak hidungmu pelan. “Fokus sama gladi resik dan debut solomu hari ini ya. Jangan lupa sarapan, minum vitamin, dan jangan sampai salah koreografi gara-gara ngantuk.”

Kamu mendengus pelan, namun akhirnya melepaskan pelukanmu dengan enggan. “Hati-hati terbangnya ya, Hoon. Jangan genit sama pramugari di pesawat.”

Mendengar kalimat itu, senyum miring Sunghoon yang memesona kembali terbit di bibirnya. Ia menundukkan kepalanya, memberikan satu ciuman penutup yang dalam dan manis di bibirmu yang sedikit bengkak.

My eyes can only see one star, (y/n),” bisiknya pelan tepat di depan bibirmu. “Sampai ketemu lusa, bintangku.”

Dengan satu tatapan penuh cinta yang mengunci manik matamu, Sunghoon bangkit berdiri, menyambar topinya, lalu melangkah keluar dari kamar tidurmu, meninggalkan aroma parfum maskulinnya yang tertinggal samar di udara.

TO BE CONTINUED

duh seru kayaknya kalo ngajak hoon main di pesawat ✈️ 😋

ya gak?

No posts

Read the original on micimaseven.substack.com

Comments

Nothing yet. Say the first thing.

    Sign in to join the conversation.