RSS Amplifier

Miciela's Universe · Aug 20, 2026

14 Crazy Love

0
Sign in to vote or save

𝐌𝐈𝐂𝐈𝐄𝐋𝐀 · Miciela's Universe

Pintu ganda berlapis marmer hitam di penthouse utama terbuka dengan bunyi sensor yang halus. Begitu melangkah masuk, pemandangan kota dari ketinggian lantai teratas menyambut kalian berdua. Namun yang jauh lebih mencolok dari pemandangan kota adalah sosok pemuda yang tengah berbaring terlentang di sofa ruang tengah dengan kedua kaki bertengger di atas sandaran tangan sofa.

Jungwon, yang mengenakan piyama sutra hitam dan masker mata yang terangkat ke dahi, langsung melompat duduk begitu mendengar suara langkah kaki. Matanya yang tajam bak rubah memindai kalian berdua dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan penuh selidik bercampur binar kemenangan.

“Wah, akhirnya pasangan petualang gunung ingat jalan pulang ke peradaban,” sindir Jungwon dengan nada sarkas khasnya, menyilangkan tangan di dada. “Gue pikir kalian berdua udah alih profesi jadi peternak domba di lereng bukit saking betahnya ngilang sebulan.”

Alih-alih membalas sindiran adiknya, Jay sama sekali tidak melepaskan dekapannya dari pinggangmu. Tangan kirinya melingkar posesif di pinggang rampingmu, sementara tangan kanannya menentang map putih berlogo rumah sakit swasta elit yang baru saja kalian kunjungi setengah jam yang lalu sebelum tiba di penthouse.

“Mulut kamu masih aja berisik,” sahut Jay tenang, menarik tubuhmu sedikit lebih rapat ke sisinya saat menuntunmu melangkah menuju ruang tengah. “Minggir dari sofa, biarin istriku duduk.”

Kamu yang diperlakukan seperti porselen rapuh sejak keluar dari klinik kandungan hanya bisa menggigit bibir, menahan tawa melihat interaksi kakak-beradik yang selalu penuh dinamika ini.

Jungwon memutar bola matanya malas, namun ia tetap bergeser dan merapikan bantal sofa agar kamu bisa duduk dengan nyaman. Begitu kamu mendaratkan tubuhmu di sofa empuk, pandangan Jungwon langsung terkunci pada map putih yang diletakkan Jay di atas meja kaca.

“Jadi kabar burung yang lo kirim lewat chat tempo hari beneran valid?” tanya Jungwon, nada suaranya kini terdengar sedikit lebih penasaran meski berusaha ditutupi dengan nada santai.

Jay tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan senyuman tipis yang sangat menyebalkan dan sarat akan keangkuhan seorang pemenang, Jay mengambil lembaran hitam-putih hasil ultrasonografi (USG) awal dari dalam map dan meletakkannya tepat di hadapan wajah adiknya.

Di atas kertas foto termal itu, terlihat sebuah kantung kehamilan kecil dengan titik embrio mungil yang baru berusia beberapa minggu—bukti nyata bahwa tebakan dan seluruh usaha Jay selama sebulan penuh di kabin kaki gunung benar-benar membuahkan hasil.

Mata Jungwon membelalak lebar. Ia menyambar foto USG itu, menatap titik kecil di sana dengan mulut yang sedikit terbuka tak percaya. Binar matanya seketika berubah cerah; rasa lelah dan kantuk yang menggayuti wajahnya selama sebulan penuh lenyap dalam hitungan detik.

“Gila... beneran jadi keponakan gue!” seru Jungwon heboh tanpa bisa menahan senyum lebar yang merekah di wajahnya. Ia melirikmu dengan binar antusias yang begitu tulus. “Kak, selamat ya! Gue kagum banget lo bisa bertahan sama cowok kaku kayak Bang Jay sampai ada hasilnya begini. Hebat banget mental lo.”

“Jungwon,” tegur Jay dengan nada rendah memperingatkan, meski sudut bibirnya tak bisa menyembunyikan rasa bangga yang meluap di dadanya. Jay duduk di sampingmu, merengkuh bahumu dan mencium pelipismu di depan adiknya tanpa rasa canggung sedikit pun.

Melihat kemesraan baru yang begitu lengket dan tanpa batas di antara kalian berdua, seringai jahil seketika terbit di wajah Jungwon. Sisi manisnya yang mendadak muncul tentu saja memiliki motif tersembunyi.

“Aduh, terharu banget gue lihat keluarga kecil bahagia ini,” ucap Jungwon dengan nada manis yang dibuat-buat, seraya melangkah cepat ke arah sudut ruangan dan menyeret dua buah koper jinjing berukuran besar serta setumpuk map dokumen yang tingginya nyaris mencapai lutut.

Bruk!

Jungwon meletakkan seluruh tumpukan berkas itu tepat di atas meja kerja Jay di ruang tengah dengan senyum yang luar biasa manis dan tanpa beban.

“Karena Abang sekarang udah jadi calon bapak dan pahlawan keluarga, ini hadiah spesial dari gue,” ujar Jungwon seraya menepuk tumpukan dokumen tersebut dengan penuh sayang. “Laporan audit tahunan divisi lima, persetujuan tender proyek pelabuhan baru, tiga puluh berkas tanda tangan dewan komisaris, dan jadwal rapat restrukturisasi besok pagi jam delapan tepat. Semuanya udah gue susun rapi, tinggal Bang Jay eksekusi.”

Jay menatap tumpukan dokumen itu dengan alis yang berkedut tajam. “Kamu nggak nyelesaiin ini semua selama aku pergi?”

“Enak aja! Gue udah nahan operasional kantor biar nggak bangkrut selama sebulan ini!” balas Jungwon defensif, mendengus bangga. “Tugas gue sebagai wakil direktur sementara udah selesai. Sekarang saatnya bayaran jerih payah gue.”

Jay menghela napas panjang, namun ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pribadinya. Hanya dengan beberapa ketukan jemari di layar perbankan digital, ponsel di saku celana Jungwon langsung berdering nyaring dengan nada notifikasi transferan bank.

Tring!

Jungwon buru-buru memeriksa layar ponselnya. Melihat nominal angka transfer dengan deretan angka nol yang sangat panjang sebagai bonus jerih payahnya, senyum manis Jungwon merekah sempurna hingga matanya membentuk garis bulan sabit.

“Nah, gini dong! Ini baru namanya abang idaman!” seru Jungwon girang, memasukkan ponselnya ke saku seraya meraih kacamata hitam dan jaket kulitnya. “Mulai detik ini, gue resmi cuti satu bulan penuh. Hp gue bakal mati total, dan jangan cari gue di belahan bumi mana pun. Nikmati masa-masa mual-mualnya, calon bapak!”

Tanpa menunggu balasan atau omelan dari Jay, Jungwon melenggang pergi keluar dari penthouse dengan langkah seringan kapas, meninggalkan tawa riang yang bergema di koridor sebelum pintu tertutup rapat.

Ruang tengah penthouse kembali sunyi. Jay menatap tumpukan dokumen di mejanya sejenak sebelum menoleh ke arahmu, menghela napas pasrah dengan senyuman kecil yang hangat. Ia kembali merapatkan dekapannya di tubuhmu, menaruh telapak tangannya yang besar dan hangat di atas perut ratamu yang kini menyimpan kehidupan baru.

“Biarin dia kabur,” bisik Jay lembut tepat di telingamu, menyandarkan dagunya di puncak kepalamu dengan penuh rasa syukur. “Yang penting sekarang, duniaku udah lengkap di sini.”

Bulan-bulan awal kehamilan mengubah ritme kehidupan di penthouse lantai teratas itu secara total. Aroma kopi pekat yang biasanya memenuhi dapur setiap pagi kini berganti menjadi aroma seduhan jahe hangat dan buah-buahan segar yang selalu Jay siapkan sebelum fajar menyingsing.

Perubahan hormon membuatmu berkali-kali lipat lebih manja, meski benteng gengsimu tetap berdiri kokoh. Kamu tidak akan pernah secara gamblang merengek atau berkata manis bahwa kamu merindukannya. Alih-alih merajuk lembut, caramu menuntut perhatian adalah dengan perintah-perintah ketus yang sarat akan kode tersembunyi—seperti memintanya memijat kakimu yang pegal dengan alasan ‘ini semua gara-gara perbuatanmu di kaki gunung’, atau menyuruhnya memelukmu dari belakang saat tidur karena kamu berdalih pendingin ruangan terasa terlalu menusuk.

Dan Jay, dengan segala kedewasaan dan rasa syukurnya yang meluap, menyerap seluruh sifat manjamu itu dengan senyuman tenang. Setiap kali kamu bersikap sok memerintah, Jay hanya akan mengecup puncak kepalamu, mengelus perutmu yang mulai sedikit membuncit, dan menuruti setiap maumu tanpa keluhan sedikit pun.

Namun, ketenangan kecil itu selalu diuji setiap kali pintu lift pribadi penthouse berdentang, menandakan kedatangan tamu kehormatan dari kalangan elite keluarga besar.

Sore itu, aroma teh herbal mahal dan kue-kue premium memenuhi ruang tamu marmer. Orang tuamu serta kedua orang tua Jay datang bersamaan untuk melakukan kunjungan rutin bulanan. Suasana formal yang kaku seketika mencekik udara di ruangan luas tersebut. Bagi mereka, janin di dalam kandunganmu bukan sekadar calon cucu, melainkan simbol masa depan, pewaris tahta generasi penerus dinasti bisnis keluarga Park.

Saat ibu mertuamu mengulurkan tangan berhias cincin berlian untuk mengusap perutmu seraya mengomentari asupan gizi dan jadwal dokter spesialis yang telah diatur keluarga, insting defensifmu langsung menyala. Tubuhmu menegang kaku, tatapan matamu kembali berubah dingin dan angkuh, topeng yang selalu kamu pasang agar tidak merasa dikontrol atau dijadikan sekadar pabrik penerus keturunan.

“Kandungannya harus dijaga ekstra ketat,” ujar ayah Jay dengan suara berat penuh wibawa dari sofa seberang. “Jangan biarkan emosi atau aktivitas yang tidak perlu mengganggu perkembangan pewaris Park Group.”

Nada bicara yang terkesan mendikte itu memicu sulutan emosi di dadamu. Bibirmu sudah terbuka, siap melontarkan kalimat tajam dan sarkas yang bisa menghancurkan suasana ruang tamu dalam hitungan detik.

Namun, sebelum amarahmu sempat meledak, tangan besar Jay yang hangat menyusup lembut di sela jemarimu di atas pangkuan. Genggamannya begitu mantap dan menenangkan, mengirimkan sinyal tak bersuara bahwa ia sepenuhnya memegang kendali situasi.

“Ayah, Ibu,” potong Jay dengan nada tenang, formal, namun memiliki ketegasan dingin yang tak terbantahkan. “Semua kebutuhan medis dan nutrisi istriku sudah berada di bawah pengawasan langsung dokter pribadi terbaik yang aku pilih. Fokus utama kami sekarang bukan cuma soal status penerus keluarga, tapi kesehatan fisik dan kenyamanan mental istriku sendiri.”

Jay menarik pundakmu sedikit lebih rapat ke tubuhnya, membiarkan dadanya menjadi sandaran yang kokoh bagimu di hadapan tatapan para orang tua.

“Istriku sedang dalam fase trimester awal yang butuh banyak istirahat tanpa tekanan apa pun. Jadi, aku harap jadwal kunjungan berikutnya bisa disesuaikan dengan waktu luang yang benar-benar nyaman untuknya,” lanjut Jay dengan sopan namun sarat batas proteksi yang mutlak.

Pernyataan tegas dari sang putra sulung membuat suasana sempat hening sejenak. Kedua belah pihak keluarga menyadari bahwa Jay tidak akan membiarkan siapa pun mendikte istrinya. Setelah beberapa obrolan basa-basi singkat dan penyerahan suplemen serta bingkisan khusus, mereka akhirnya pamit undur diri.

Begitu pintu lift tertutup rapat dan derap langkah keluarga menghilang, topeng ketenanganmu seketika runtuh. Rasa kesal yang tertahan membuatmu menghentakkan kaki, melepaskan genggaman tangan Jay, lalu berjalan cepat menuju kamar utama seraya melempar bantal sofa ke sembarang arah.

“Aku benci kalau mereka datang dan ngomongin anak ini seolah-olah dia cuma barang investasi!” gerutumu penuh emosi, berdiri membelakanginya dengan napas memburu dan mata yang berkaca-kaca karena ledakan hormon yang kacau.

Jay melangkah tenang mengikutimu masuk ke kamar. Ia menutup pintu perlahan, mengunci dunia luar, lalu menghampirimu tanpa rasa tersinggung sedikit pun atas sikap kasarmu.

Dari belakang, Jay melingkarkan kedua lengannya di pinggangmu, menarik tubuhmu mundur hingga punggungmu menempel pas di dada bidangnya. Telapak tangannya yang besar dan hangat menangkup lembut perut bagian bawahmu, mengusapnya perlahan dengan ritme yang meluruhkan seluruh amarah yang membakar dadamu.

“Udah, jangan marah-marah terus. Nanti kepalanya pusing lagi,” bisik Jay serak dan lembut tepat di samping pelipismu, mengecup helaian rambutmu yang wangi. “Kan udah kubilang dari awal... semua urusan keluarga besar biar aku yang pasang badan di depan. Kamu nggak perlu pusing mikirin omongan mereka.”

“Tapi tadi Ayahmu nyebelin banget, Jay...” rengekmu lirih, membalikkan tubuhmu di dalam kungkungannya dan membenamkan wajahmu di dada kemejanya, mencengkeram kain bajunya erat-erat seraya menyembunyikan wajahmu yang mulai memerah.

“Iya, aku tahu,” sahut Jay dengan kekehan rendah yang menenangkan, membelai punggungmu dengan penuh kehati-hatian. “Mulai sekarang kalau mereka mau datang lagi, bakal aku tolak halus. Cuma kita berdua di sini, oke?”

Jay mengangkat dagumu dengan jemarinya, menatap wajahmu yang merengut menggemaskan dengan binar cinta yang begitu pekat. Ia menunduk, memberikan satu kecupan manis di bibirmu yang masih cemberut.

“Sekarang mau makan apa? Tadi ada yang bilang pengen buah persik dingin, kan? Biar aku kupasin sekarang.”

Di bawah perlakuan dan perlindungan suamimu yang selalu siaga menjadi benteng terdepan, rasa angkuh dan amarahmu lebur menjadi rasa nyaman yang tak tergantikan, membuatmu mengangguk pelan seraya memeluk lehernya lebih erat.

Memasuki trimester kedua, perubahan fisikmu mulai terlihat begitu kentara. Fase mual dan muntah yang melelahkan perlahan surut, digantikan oleh fenomena pregnancy glow yang membuat pesonamu terpancar berkali-kali lipat lebih memikat. Kulitmu tampak begitu halus dan bercahaya alami, pipimu bersemu merah muda sehat, dan lekuk tubuhmu kian berisi di tempat-tempat yang tepat—terutama bagian dadamu yang kini tampak jauh lebih penuh, padat, dan sensitif akibat lonjakan hormon kehamilan.

Malam itu, setelah memanjakan diri dengan mandi air hangat beraroma lavender, kamu duduk di tepi ranjang mengenakan gaun tidur sutra tipis bertali spageti berwarna merah marun. Bahan sutra yang jatuh pas di tubuhmu memperlihatkan siluet perutmu yang mulai membuncit manis serta belahan dadamu yang terekspos begitu jelas dan menggoda.

Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Jay yang baru selesai membersihkan diri. Pria itu hanya mengenakan celana tidur panjang berwarna abu-abu, membiarkan dada bidang dan perut berototnya terbuka polos dengan handuk kecil tersampir di pundak.

Langkah kaki Jay seketika terhenti di tengah ruangan.

Sorot matanya yang tajam langsung terkunci pada sosokmu yang tengah menyisir rambut di bawah temaramnya lampu tidur. Tatapannya perlahan menggelap pekat, ada kilatan lapar dan rasa kagum luar biasa yang membakar iris matanya saat memindai bagaimana rona kehamilan membuat auramu tampak begitu ranum dan memabukkan. Jakun Jay naik-turun menelan saliva dengan berat saat pandangannya tertahan lama di area dadamu yang tampak begitu padat merekah di balik gaun tipis.

Menyadari tatapan intens yang tak berkedip itu, rasa gengsimu yang belum hilang seutuhnya kembali muncul. Kamu meletakkan sisir di atas nakas, melipat kedua tangan di bawah dada—gerakan yang tanpa sadar justru semakin menonjolkan keindahan bentuk tubuhmu.

“Ngapain ngeliatin kayak gitu? Belum pernah lihat orang hamil?” tanyamu dengan nada sok ketus, meski semburat merah muda di pipimu seketika merambat naik karena malu ditatap sedemikian rupa.

Alih-alih menjawab dengan kata-kata, Jay melempar handuk kecil di pundaknya ke kursi santai, lalu melangkah mantap mendekati ranjang. Setiap langkahnya memancarkan aura dominan yang membuat debaran di dadamu mendadak berpacu tak karuan.

Sebelum kamu sempat bergeser mundur, Jay sudah menaiki ranjang, mengurung tubuhmu di antara kedua lengannya yang kekar dan menekanmu pelan hingga punggungmu bersandar di tumpukan bantal empuk.

“Jay...” bisikmu tercekat, matamu membelalak saat wajah tegasnya mendekat hingga jarak di antara kalian terkikis habis.

“Kamu cantik banget malam ini,” bisik Jay dengan suara baritonnya yang serak dan rendah, sarat akan getaran hasrat yang tertahan. Tangannya yang besar dan hangat menangkup lembut pipimu, mengusap tulang pipimu yang merona indah. “Auramu... semuanya tentang kamu bikin aku hampir gila beberapa minggu ini.”

“M-mulai deh gombalnya...” elakmu terbata, mencoba mempertahankan ekspresi angkuhmu meski hatimu sudah luluh lantak oleh tatapan memujanya.

Jay menyeringai tipis, binar matanya berkilat berbahaya. “Siapa yang gombal? Aku lagi nuntut hakku.”

To Be Continued

abis ini ena ena

No posts

Read the original on micimaseven.substack.com

Comments

Nothing yet. Say the first thing.

    Sign in to join the conversation.