Jangan lupa like ya
Tanpa membiarkanmu mendebat lebih jauh, jemari Jay yang terampil bergerak cepat menurunkan tali tipis gaun tidurmu di kedua sisi bahu. Kain sutra lembut itu melorot turun dengan mulus, mengekspos dadamu yang putih bersih, montok, dan penuh kehangatan. Udara sejuk kamar seketika menyapa kulitmu yang sensitif, membuat ujung dadamu menegang halus.
Napas Jay kian memberat saat menyaksikan pemandangan indah di hadapannya. Telapak tangannya yang besar dan hangat menangkup lembut salah satu payudaramu, meremasnya dengan kehati-hatian yang luar biasa—menyadari betapa sensitifnya area itu saat masa kehamilan, namun tetap sarat akan kepemilikan yang mendalam.
“Ah... Jay, jangan terlalu kencang, masih agak ngilu...” rengekmu manja seraya mencengkeram lengan kekarnya yang berurat.
“Iya, pelan-pelan, sayang,” bisik Jay lembut tepat di depan dadamu.
Jay menundukkan kepalanya, menyapukan hembusan napas panasnya di atas kulitmu sebelum akhirnya menyatukan bibirnya di sana. Ia mulai memanjakan dadamu dengan lumatan-lumatan basah yang lembut, menyesap dan menghisapnya penuh perasaan layaknya mencari ketenangan mutlak dari sumber kehidupan calon anaknya.
Sensasi hangat dan basah dari lidah dan bibir Jay yang lihai membelai titik sensitifmu seketika mengirimkan gelombang sengatan nikmat yang membuat punggungmu melengkung pasrah. Desahan panjang dan bergetar lolos dari bibirmu, jemarimu bergerak naik menyusup ke sela-sela rambut hitam Jay, menuntun kepalanya agar semakin terbenam di dadamu.
Jay berganti memanjakan sisi lainnya dengan ritme hisapan yang stabil, posesif, dan begitu menenangkan. Setiap sesapan hangatnya diiringi usapan lembut tangannya di atas perut buncitmu, menciptakan harmoni rasa aman, gairah, dan cinta yang tak terbantahkan di dalam kamar tidur kalian malam itu.
Hisapan hangat dan lumatan basah dari bibir Jay di dadamu semakin mengaburkan akal sehatmu. Setiap kali lidahnya yang terampil menyapu ujung sensitif yang menegang, gelombang panas langsung menyengat turun ke pangkal paha, membuat bagian intimu berdenyut basah dan menuntut kepuasan yang lebih nyata.
“Ah... Jay... sshh...”
Lenguhan panjang dan bergetar lolos dari bibirmu tanpa bisa kamu tahan lagi. Jari-jemarimu meremas helaian rambut hitam Jay, menariknya semakin menempel di dadamu seraya pinggulmu bergerak gelisah di atas seprai sutra. Sensasi kenikmatan yang membakar ini membuat seluruh sisa gengsimu meleleh tanpa bekas, digantikan oleh desakan gairah kehamilan yang luar biasa menuntut.
Kamu mendongakkan kepala, napasmu terengah-engah menatap langit-langit kamar yang temaram. “Jay... jangan cuma di situ... please...”
Jay menghentikan hisapannya sejenak, mengangkat kepalanya perlahan dengan seringai tipis yang sarat kepuasan melihat betapa kamu telah sepenuhnya terbuai. Manik matanya menggelap pekat, menatap wajahmu yang basah oleh rona merah padam.
“Mau di mana lagi, sayang?” bisik Jay rendah, suaranya serak dan begitu menggoda, sementara telapak tangannya yang besar mulai menyusuri pinggangmu, mengusap lembut sisi perut buncitmu sebelum perlahan menyusup ke sela kedua pahamu yang sudah terbuka pasrah.
Sentuhan jarinya di area intim yang hangat dan basah seketika membuatmu memekik pelan seraya melengkungkan punggung. Rasa kosong yang menyiksa membuatmu kehilangan seluruh rasa malu. Kamu mencengkeram bahu kokoh Jay dengan kedua tanganmu, menatap lurus ke dalam manik matanya dengan tatapan memohon yang begitu putus asa.
“Masukin sekarang, Jay... please, jangan bikin aku nunggu lagi...” pintamu serak, merengek tanpa jeda saat tubuhmu menuntut kepenuhan yang hanya bisa diberikan oleh suamimu.
Mendengar permohonanmu yang begitu gamblang dan pasrah, rahang tegas Jay mengeras seketika. Sisa-sisa kendali dirinya terbakar habis oleh rengekan manismu.
“Pegang bahuku yang erat,” bisik Jay dengan suara berat penuh otoritas.
Dengan gerakan yang sangat berhati-hati untuk menjaga perut buncitmu, Jay memosisikan dirinya di antara kedua pahamu. Ia mengangkat salah satu kakimu dan menaruhnya di atas pinggul kokohnya, menciptakan sudut masuk yang nyaman dan aman bagi kandunganmu.
Tanpa membiarkanmu tersiksa lebih lama dalam rasa hampa, Jay menatap matamu lekat-lekat seraya membenamkan miliknya perlahan ke dalam dirimu dalam satu dorongan yang dalam, penuh, dan begitu hangat.
“Ahhh—Jay!”
Kamu memekik panjang seraya memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram otot bahunya sekuat tenaga saat sensasi penuh yang mendesak seketika mengisi seluruh ruang di dalam dirimu, menyatukan kalian berdua dalam gelombang kenikmatan yang membakar malam itu.
Geraman berat dan parau seketika lolos dari pangkal tenggorokan Jay saat miliknya tenggelam seutuhnya di dalam kehangatanmu yang luar biasa menjepit. Urat-urat di leher dan lengannya mencuat tegas, rahangnya mengeras rapat menahan intensitas sensasi yang begitu padat dan menyengat. Perubahan tubuhmu selama masa kehamilan membuat dinding-dinding intimu terasa jauh lebih sempit, basah, dan luar biasa sensitif, memeluk setiap jengkal miliknya dengan cengkeraman alami yang begitu kuat hingga membuat napas pria itu tercekat beberapa detik.
“Ssshh... god, sempit banget...” desah Jay dengan suara yang bergetar rendah di depan wajahmu. Matanya terpejam sejenak, menikmati jepitan hangat yang berdenyut ritmis di sekelilingnya, sebelum ia membuka mata kembali dan menatapmu dengan pandangan yang sarat akan kabut nafsu yang menggelap.
Jay mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang sangat lambat dan penuh perhitungan. Setiap tarikan dan dorongannya begitu dalam, menggesek titik-titik paling sensitifmu dengan kehati-hatian yang luar biasa demi menjaga kenyamanan perut buncitmu. Namun, justru ritme pelan dan teratur itulah yang menyiksa akal sehatmu hingga ke batas paling ujung. Suara gesekan basah yang ritmis berpadu dengan hembusan napas panas kalian yang saling memburu, menciptakan atmosfer kamar yang terasa semakin mendidih.
Jay mencondongkan tubuhnya lebih dekat, membiarkan dada bidangnya yang basah oleh peluh menempel hangat di dadamu yang terbuka. Bibirnya yang panas menyapu daun telingamu, meracaukan kata-kata penuh gairah yang meluncur tanpa filter dari benaknya yang telah kacau oleh kenikmatan mutlak.
“Feel this, baby... feel how deep I am inside you now,” bisik Jay dengan suara serak yang begitu kotor dan menggoda, membuat bulu kudukmu meremang hebat. “Dinding kamu melilit kencang banget, kayak nggak mau ngasih jalan buat aku keluar. Enak banget... kamu bikin aku gila tiap kali gerak sedikit aja di dalam sini.”
Racauan sensual dan pengakuan jujur dari Jay menjadi pemantik api yang menghancurkan sisa-sisa kesadaranmu. Mendengar betapa suamimu begitu terobsesi dan tersiksa oleh kenikmatan yang kamu berikan, otot-otot intimu secara refleks berkontraksi hebat, meremas dan menjepit miliknya berkali-kali lipat lebih kencang seolah hendak mengunci pria itu di dalam rahimmu untuk selamanya.
“Argh... Honey, don’t be pinched like that...” geram Jay tertahan, giginya gemeletuk menahan desakan klimaks yang tiba-tiba menyengat pangkal pinggulnya. Cengkeramanmu yang begitu rapat dan basah nyaris meruntuhkan seluruh pertahanannya dalam hitungan detik. Jay terpaksa menghentikan dorongannya sejenak, menempelkan dahinya di bahumu yang berpeluh seraya menahan napas panjang, menolak untuk menyerah pada pelepasan terlalu cepat karena sensasi jepitanmu terasa terlampau nikmat untuk segera diakhiri.
Melihat pria dominan itu tampak begitu tersiksa sekaligus pasrah dalam kendali kenikmatan tubuhmu, sisi nakal dan percaya dirimu seketika menyala. Kamu melingkarkan kedua kakimu lebih erat di pinggangnya, mengangkat sedikit pinggulmu untuk mempertemukan tubuh kalian lebih dalam, lalu berbisik tepat di samping bibirnya dengan nada manja yang sengaja dibuat mendayu dan begitu binal.
“Daddy... please, don’t hold back... faster, Daddy...“
Panggilan itu meluncur bagai mantra terlarang yang seketika menghancurkan seluruh rem kendali diri Jay.
Mata Jay membelalak gelap, kilatan liar menyambar di manik matanya saat mendengar suara desahanmu yang begitu menuntut. Tanpa ragu lagi, Jay menaikkan tempo gerakannya. Pinggulnya mulai memacu ritme dengan dorongan-dorongan yang jauh lebih cepat, bertenaga, dan menukik tajam, menghantam titik terdalammu tanpa jeda namun tetap menjaga agar posisi perutmu tetap aman dari tekanan berlebih.
“Kamu yang minta, sayang,” bisik Jay tajam di sela napasnya yang menderu kencang.
Sentakan-sentakan cepat dan dalam dari Jay membuat ranjang berderit ritmis, mengirimkan gelombang kenikmatan yang meluap-luap di sekujur tubuhmu. Lenguhan dan jeritan manjamu memenuhi seisi ruangan saat kamu meremas punggung berototnya, menyerahkan seluruh tubuhmu ke dalam irama liar yang Jay pimpin dengan penuh dominasi hingga kalian berdua melayang bersama menuju puncak pelepasan yang tak terbendung.
Irama hantaman yang dipacu Jay kian menghantam batas terdalam kesadaranmu. Setiap sentakan yang menghunjam masuk terasa begitu padat, menghapus seluruh jarak dan menyisakan gelombang panas yang membakar sekujur tubuh. Perutmu yang membuncit terlindungi sempurna oleh tumpuan lengannya yang kokoh, namun di balik kehati-hatian itu, kekuatan dan kedalaman setiap sodokannya sama sekali tidak memberi ampun.
Sensasi penuh yang menumbuk titik paling sensitif di dinding rahimmu membuat napasmu tercekat seketika. Kepalamu terlempar ke belakang, terkulai lemas di atas bantal sutra yang basah oleh peluh. Matamu bergulir ke atas dalam kekacauan kenikmatan mutlak, pandanganmu memburam kabur, dan bibirmu terbuka lebar membiarkan lidahmu sedikit menjulur tanpa daya saat ekspresi pasrah yang kacau terukir jelas di wajahmu.
“Ahhh... Jay... nggh... dalem banget... ah!”
Lenguhanmu meluncur begitu binal, serak dan basah, bergema memenuhi setiap sudut kamar yang temaram. Suaramu terdengar bagai undangan terbuka yang memancing keliaran baru, memohon sekaligus menuntut pria itu untuk tidak pernah berhenti. Dadamu yang montok berguncang seirama dengan tempo gerakannya, menyentuh dada bidang Jay yang bermandikan keringat.
Melihat wajahmu yang sepenuhnya hancur dalam puncak kenikmatan—dengan tatapan sayu yang terbalik ke atas dan erangan basah yang terus memanggil namanya—rahang Jay mengeras semakin rapat. Pemandangan itu memicu kobaran gairah purba yang meruntuhkan sisa kendali dirinya.
“Look at your face now, honey...” bisik Jay dengan suara bariton yang teramat parau, menunduk hingga bibirnya menyapu ujung hidungmu yang berkeringat. “Mata kamu, desahan kamu... semuanya minta aku buat masuk makin dalam, kan?”
“Iya... ahh... Jay, Keep going... don’t stop... Daddy...” rengekmu semakin menjadi, jemarimu mencakar seprai sutra seraya pinggulmu terangkat menyambut setiap hentakan yang menembus batas terdalammu.
Jay tidak lagi menahan diri. Dengan satu cengkeraman mantap di pinggulmu, ia membenamkan miliknya sekuat tenaga dalam tempo yang kian beringas, menyatukan napas dan desahan kalian dalam pusaran pelepasan yang membakar habis sisa malam.
Ritme yang dipacu Jay mencapai puncak kecepatan dan kekuatannya. Tidak ada lagi ruang untuk menahan diri, setiap sentakannya menghantam dasar terdalammu dengan kepatuhan mutlak pada naluri yang menuntut pelepasan total. Ranjang kayu jati berderit kencang mengiringi napas kalian yang saling menyambar bagai kobaran api di tengah kamar yang temaram.
Dinding-dinding intimu berdenyut liar, mencengkeram miliknya berkali-kali lipat lebih kencang seolah sedang memeras setiap tetes kekuatan pria itu. Rasa panas yang membuncah dari ujung sarafmu mendadak meledak tanpa peringatan. Tubuhmu melengkung kaku, jari-jari kakimu meringkuk erat, dan jeritan panjang penuh kenikmatan lolos dari tenggorokanmu saat gelombang klimaks menyapu seluruh kesadaranmu menjadi serpihan putih yang menyilaukan.
Jepitan rahimmu yang kejang hebat seketika meruntuhkan benteng pertahanan terakhir milik Jay.
“Argh... sayang... tahan di situ!” geram Jay dengan raungan parau yang begitu dalam dari balik dadanya.
Dengan satu dorongan terakhir yang luar biasa bertenaga dan menukik hingga ke batas paling ujung, Jay mengunci pinggulnya rapat-rapat di atas tubuhmu. Otot-otot punggung dan lengannya menegang keras bagai baja, urat-urat di lehernya mencuat jelas saat ia membenamkan dirinya sedalam mungkin tanpa menyisakan celah sekecil apa pun. Sensasi panas yang luar biasa deras dan kental menyembur seketika di dalam rahimmu.
Jay menumpahkan seluruh pelepasannya di dalam dirimu dalam beberapa denyutan panjang yang berurutan. Setiap semburan terasa begitu hangat dan penuh, membanjiri bagian terdalam tubuhmu yang basah, menandai rahim yang tengah mengandung buah cintanya dengan kepemilikan yang mutlak. Napas Jay terengah-engah berat tepat di lekuk lehermu, bibirnya menempel di kulitmu yang basah oleh peluh seraya menikmati sensasi denyutan akhir yang menguras seluruh tenaganya.
Kamar kembali hening, hanya menyisakan suara dada kalian berdua yang kembang-kempis beradu peluh. Jay tidak langsung menarik diri, ia membiarkan miliknya tetap tertanam di dalam kehangatanmu yang menjepit, mengusap lembut perut buncitmu dengan telapak tangannya yang besar seraya mengecup pelipismu penuh rasa cinta dan kepuasan yang mendalam.
Di atas kasur berseprai sutra yang berantakan, keheningan merayap perlahan menggantikan desau napas yang tadi saling beradu. Jay masih membiarkan tubuhnya menindihmu dengan lembut, memastikan sebagian besar bobotnya tertumpu pada kedua siku kokohnya agar tidak sedikit pun menekan perut buncitmu. Keringat yang menetes dari rahang tegasnya membasahi bahumu yang polos.
Dengan sangat berhati-hati, Jay menarik diri. Sebuah desah pelan lolos dari bibirnya saat menyadari betapa lemasnya tubuhmu. Tanpa membiarkanmu kedinginan, Jay bergegas bangkit, mengambil handuk bersih beraroma lavender yang sudah dibasahi air hangat, lalu kembali ke sampingmu.
Sentuhannya beralih menjadi luar biasa telaten. Ia menyeka sisa-sisa peluh di pelipis, leher, hingga ke bagian intimu yang masih berdenyut sensitif. Setiap usapannya sarat akan penghormatan dan pemujaan yang mendalam. Jay memakaikanmu gaun tidur katun yang longgar dan lembut, merapikan bantal di bawah kepalamu, lalu menyusup ke balik selimut tebal.
Lengannya yang berurat melingkari pinggangmu dari samping, membawa tubuhmu merapat seutuhnya ke dada bidangnya. Telapak tangannya yang besar dan hangat menangkup perut buncitmu, tempat di mana benih dan cintanya kini tengah bertumbuh.
“I love you, Daddy.” Gumamanmu yang lembut dengan senyuman tipis di dekapannya membuat dada Jay berdesir hangat.
“I love you more, My Love... If loving you this much is crazy, then I happily lose my mind every single day just for a smile from you,“ bisik Jay serak, mengecup lembut puncak kepalamu berulang kali hingga kelopak matamu yang berat akhirnya terpejam dalam rasa aman yang mutlak.
☢
Bulan-bulan berikutnya bergulir dengan cepat hingga tiba saatnya tangisan pertama yang nyaring memecah ruang persalinan rumah sakit swasta terbaik di ibu kota.
Bayi perempuan mungil dengan pipi gembul kemerahan, bibir persik yang persis milikmu, dan sepasang mata tajam yang mewarisi garis tegas ayahnya lahir ke dunia dalam kondisi sempurna dan sangat sehat. Jay meneteskan air mata haru yang sangat jarang ia tunjukkan pada siapa pun saat mendekap tubuh mungil itu ke dadanya untuk pertama kali.
Bayi itu diberi nama Park Chigi.
Namun, transisi menjadi orang tua baru bukan hal yang mudah. Beberapa minggu pertama di penthouse terasa begitu menguras fisik dan emosional. Lonjakan hormon pasca melahirkan menghantammu tanpa ampun. Baby blues membuatmu merasa cemas, kewalahan, dan tak jarang merasa terasing dari bayimu sendiri. Ada hari-hari di mana mendengar tangisan Chigi membuat kepalamu berdenyut hebat hingga kamu menangis di sudut kamar, merasa tidak mampu dan menolak untuk sekadar menyentuh atau menggendongnya.
Di saat-saat paling rentan itulah, sosok Jay membuktikan dirinya sebagai pilar yang luar biasa kokoh.
Jay tidak pernah sekali pun menghakimimu atau menuntutmu harus langsung menjadi ibu yang sempurna. Pria yang biasanya memegang kendali bisnis bernilai triliunan itu tanpa ragu mengambil alih semua urusan rumah dan bayi. Jay belajar mengganti popok dengan cekatan, menggendong Chigi berkeliling ruang tengah di tengah malam buta sambil melantunkan senandung rendah agar si kecil tenang, hingga memandikan tubuh gembul Chigi dengan tangan besarnya yang luar biasa hati-hati.
Setiap kali kamu menangis putus asa di atas ranjang, Jay akan menaruh Chigi yang sudah tertidur ke dalam boks bayinya, lalu melangkah menghampirimu. Ia akan menarikmu ke dalam pelukannya yang hangat, mengusap punggungmu, dan membiarkan air matamu membasahi kemejanya.
“Nggak apa-apa, kamu udah hebat banget,” bisik Jay penuh kesabaran di samping telingamu. “Jangan dipaksa kalau belum siap. Ada aku. Kamu istirahat, makan yang banyak, biar Chigi aku yang jaga sampai kamu bener-bener siap.”
Perlakuan tulus, proteksi, dan kesabaran Jay yang tak berbatas perlahan mengikis kabut gelap di kepalamu. Ketika hatimu sudah sepenuhnya tenang dan rasa percaya dirimu kembali pulih, kamu akhirnya mengulurkan tangan dengan penuh kerinduan untuk mendekap Chigi, menyusuinya di dadamu, dan membiarkan naluri keibuanmu mengalir hangat tanpa beban lagi.
Di tengah masa-masa penyesuaian itu, Jungwon menjadi sosok pengunjung tetap yang paling dinantikan.
Pria muda yang dulu selalu sarkas dan sibuk kabur ke kelab malam itu kini hampir setiap dua hari sekali mampir ke penthouse sepulang kantor. Jungwon selalu datang dengan kedua tangan penuh—membawa deretan kotak makanan manis favoritmu, rangkaian buah segar premium, mainan bayi berdesain lucu, hingga pakaian-pakaian bermerek untuk keponakan tersayangnya.
“Permisi, paket logistik buat kakak ipar tercantik dan keponakan terlucu se-Korea Selatan datang,” seru Jungwon santai setiap kali melangkah masuk, langsung menaruh bingkisan di meja makan sebelum meluncur ke samping boks bayi Chigi.
Melihatmu yang kini menyambutnya dengan senyum hangat tanpa topeng arogansi atau sikap dingin masa lalu membuat Jungwon diam-diam merasa sangat bersyukur. Jungwon memang tidak pernah mengatakannya secara terang-terangan karena gengsi khas keluarga Park, namun melihat interaksimu yang penuh kasih sayang saat merawat Chigi dan bagaimana tatapan matamu kini memancarkan cinta yang tulus untuk kakaknya, Jungwon tahu bahwa pernikahan rumit yang dulu ia khawatirkan telah berubah menjadi rumah tangga paling hangat yang pernah ada.
Waktu terus melesat tanpa terasa.
Sepuluh tahun kemudian, tawa riang dan langkah-langkah kaki kecil telah memenuhi koridor rumah utama keluarga Park yang kini jauh lebih hidup.
Chigi tumbuh menjadi gadis cilik berusia sepuluh tahun yang luar biasa cantik, cerdas, dan mewarisi sedikit sifat percaya diri serta ketegasan dari kedua orang tuanya. Dan hari-harinya kini semakin ramai dengan kehadiran sang adik laki-laki bernama Louis, yang saat ini berusia lima tahun.
Louis adalah definisi anak bungsu yang sangat menggemaskan namun luar biasa cengeng. Matanya bulat persis matamu, dan bibirnya akan langsung melengkung ke bawah bersiap menangis setiap kali keinginannya tidak dituruti atau saat mainan balok susunnya diruntuhkan secara tidak sengaja oleh Chigi.
“Mamaaa! Kak Chigi ngerebut robot punyaku!” rengek Louis seraya berlari kecil ke arah dapur, menubruk kakimu yang sedang menyiapkan camilan sore dengan air mata yang sudah menggenang di pipi gembulnya.
Chigi menyusul dari belakang dengan langkah santai, melipat kedua tangannya di dada mirip sekali dengan gestur Jay saat sedang menghadapi lawan negosiasi.
“Louis yang salah, Ma. Dia naruh robotnya di atas buku gambarku sampai kertasnya lecek,” bela Chigi dengan nada tenang namun tak mau kalah.
Meskipun Louis sangat cengeng dan sering kali bersikap menyebalkan, Chigi sebenarnya sangat menyayangi adiknya itu. Di sekolah atau di tempat bermain, Chigi akan menjadi orang pertama yang berdiri paling depan memasang badan jika ada anak lain yang berani mengganggu Louis.
Dari arah ruang keluarga, Jay yang baru saja menyelesaikan rapat virtualnya melangkah mendekat dengan senyum hangat yang tak pernah luntur. Kemeja putihnya yang santai berpadu dengan aura seorang ayah yang begitu matang dan berwibawa. Jay berlutut, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
“Sini dua-duanya, jagoan sama putri Papa,” panggil Jay dengan suara baritonnya yang dalam dan menenangkan.
Louis langsung menghambur ke pelukan ayahnya, mengusap air matanya di bahu Jay, sementara Chigi ikut mendekat dan membiarkan Jay merengkuh pundaknya dengan tangan satunya. Jay mengecup kening kedua anaknya bergantian sebelum mendongak menatapmu yang berdiri di dekat meja makan. Tatapan mata Jay padamu masih sama persis seperti tatapan hangat di kaki gunung sepuluh tahun yang lalu—penuh pemujaan dan cinta yang kian hari kian mengakar dalam.
Tepat saat itu, bel pintu berbunyi dan sosok Jungwon melangkah masuk dengan setelan jas rapi dan kacamata hitam yang tersampir di kerah bajunya.
“Paman Jungwon!” teriak Louis dan Chigi bersamaan, langsung melepaskan pelukan Jay dan berlari menyambut pamannya.
Jungwon tertawa renyah, berjongkok untuk memeluk kedua keponakannya seraya membagikan kotak es krim dan cokelat yang dibawanya.
Frekuensi kedatangan Jungwon memang tidak seintens dulu saat Chigi masih bayi. Jadwalnya di kantor kian padat, namun alasan utamanya adalah karena Jungwon saat ini sedang disibukkan oleh kencan rahasia dengan seorang wanita yang sangat ia lindungi. Jungwon merahasiakan identitas kekasihnya itu rapat-rapat dari seluruh keluarga besar—terutama dari sang ayah yang gemar mengatur perjodohan—demi menjaga kenyamanan dan keselamatan privasi wanita yang sedang ia perjuangkan tersebut.
Hanya kamu dan Jay yang mengetahui fakta bahwa si pria berjiwa bebas itu akhirnya jatuh cinta sungguhan, meskipun Jungwon tetap tutup mulut perihal nama lengkap sang pujaan hati.
“Gimana progress ‘misi rahasia’ lo semalam, Won?” godamu seraya menyodorkan cangkir teh hangat ke meja saat Jungwon duduk di sofa ruang tengah.
Jungwon seketika tersenyum tipis, rona merah samar yang jarang terlihat muncul di tulang pipinya saat ia melirikmu dan Jay.
“Lancar. Nanti kalau udah waktunya pasti gue kenalin resmi ke kalian berdua,” bisik Jungwon santai namun sarat akan keseriusan. “Gue cuma mau pastiin semuanya aman dulu dari radar keluarga besar.”
Jay terkekeh rendah, menepuk bahu adiknya dengan penuh pengertian seraya merangkul pinggangmu dari samping, menarikmu bersandar nyaman di dada bidangnya di tengah riuh tawa Chigi dan Louis yang sedang menikmati es krim di karpet ruang tengah.
Di dalam ruangan yang dipenuhi kehangatan keluarga ini, kamu memandang berkeliling dengan rasa syukur yang membuncah. Seluruh badai masa lalu, keraguan, dan rasa takut telah lebur, digantikan oleh kebahagiaan sejati yang kamu bangun bersama Jay—pria yang dengan sabar memenangkan hatimu seutuhnya.
THE END
terima kasih sudah membersamaiku membangun hubungan jay dan yn menjadi harmonis lagi, next time aku bikini sekuel Jungwon ver nya... kira kira kalian minat ngga? kalo tembus 50 komen dari akun yang berbeda aku bikinin bulan september nanti
terima kasih ya sudah meluangkan waktu buat baca cerita ini, sayang banget aku tuh sama kalian 🫶🏻🫶🏻❤️
No posts

Comments
Nothing yet. Say the first thing.
Sign in to join the conversation.