Aula utama universitas siang itu bergetar oleh ribuan lemparan topi toga ke udara. Suara terompet plastik, tangis haru orang tua, dan kilatan lampu kamera saling berebut ruang. Di sudut pelataran gedung Fakultas Seni Musik, di bawah naungan pohon beringin yang dulu menjadi saksi bisu segala kebodohan dan penolakan, kalian berdua berdiri berdampingan.
Empat tahun telah berlalu. Status mahasiswa akhirnya resmi tanggal, digantikan oleh selempang kelulusan dan map ijazah bersampul beludru biru tua.
Kamu membetulkan letak kerah kemeja putih di balik jubah togamu. Wajahmu tersenyum lega, menatap sekeliling pelataran yang ramai. Di sampingmu, Riki berdiri tegap dengan setelan jas hitam rapi di balik toganya. Rambut hitamnya tertata rapi ke belakang—tidak lagi berantakan seperti zaman semester awal saat dia selalu stres mengerjakan mixing lagu semalaman.
“Ngapain lo berdua malah mojok di sini kayak patung selamat datang?!” suara cempreng Junghwan memecah kerumunan.
Junghwan berlari mendekat sambil menenteng dua buket bunga raksasa dan balon foil berbentuk bintang. Di belakangnya, James berjalan santai dengan kacamata hitam andalannya, diikuti si kembar Ohyul dan Ryul yang kompak membawa spanduk kain bertuliskan: “SELAMAT LULUS DUA SEJOLI HARMONI: DARI STALKING JADI SEHATI.”
“Anjir, Ryul! Turunin spanduknya, malu-maluin banget sumpah!” serumu panik sambil tertawa geli, menutupi wajahmu dengan buket bunga.
“Biar satu fakultas tahu perjuangan Riki yang hampir gila pas ngejar lo dulu!” balas Ryul tanpa dosa, malah mengangkat spanduknya lebih tinggi.
James menepuk bahu Riki cukup keras. “Selamat, Bro. Akhirnya lulus juga lo dengan predikat cumlaude bareng pacar lo. Gak sia-sia gue buatin strategi jalur natural dua tahun lalu.”
“Jasa lo udah gue bayar lunas pakai traktiran makan daging seumur hidup ya, Mes,” sahut Riki dengan senyum tipis, merangkul pinggangmu santai di hadapan teman-temannya.
“Habis ini beneran langsung cabut ke Bali?” tanya Ohyul, menyalakan sebatang rokok di bawah pohon. “Gak mau ikut pesta wisuda anak-anak nanti malam?”
Riki melirikmu, lalu menatap teman-temannya dengan tatapan mantap. “Gak. Kita mau istirahat total. Tiket pesawat jam tujuh malam ini.”
“Gaya lo, Mentang-mentang mau liburan berdua langsung ninggalin tongkrongan,” cibir Junghwan, tapi matanya memancarkan rasa bangga yang tulus. “Inget pesan gue, Ki. Begitu balik dari Bali, proyek studio musik kita harus langsung jalan. Tempatnya udah disurvei sama James.”
“Pasti,” jawab Riki singkat namun penuh keyakinan.
Rencana itu bukan sekadar wacana. Sejak setahun terakhir, Riki dan kamu memang sudah menyusun cetak biru untuk masa depan: membangun sebuah studio produksi audio dan sekolah vokal independen bersama. Riki yang memegang kendali aransemen, instrumen, dan sound engineering, sementara kamu memimpin divisi pelatihan vokal dan manajemen kreatif. Riki menolak bekerja di bawah label orang lain; dia ingin membangun rumah karya miliknya sendiri, bersamamu, agar stabilitas masa depan kalian berdua segera terwujud.
“Jangan lama-lama pacarannya, cepetan nikah,” celetuk Ryul santai sebelum mereka berbalik pergi. “Biar kita bisa numpang makan gratis lagi.”
Riki hanya tertawa rendah, lalu menoleh menatapmu yang masih memeluk buket bunga. Dia mengulurkan tangannya, menggenggam jemarimu erat di hadapan matahari siang yang cerah.
“Siap mulai perjalanan baru kita, Sayang?” bisik Riki lembut.
Kamu mengangguk mantap. “Siap, Riki.”
Deru angin laut selatan yang hangat menyambut kalian di sebuah private villa yang berdiri megah di atas tebing karang Uluwatu. Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota Kuta atau bisingnya jalanan Jakarta, tempat ini hanya menawarkan birunya Samudra Hindia yang membentang tanpa batas dan suara deburan ombak di kejauhan.
Matahari senja perlahan tenggelam di garis cakrawala, memercikkan warna jingga keemasan dan ungu pekat ke seluruh permukaan air laut serta kolam renang infinity di halaman belakang vila.
Kamu berdiri di tepi dek kayu, mengenakan gaun pantai tipis berwarna putih tulang dengan belahan samping yang melambai tertiup angin laut. Rambutmu yang terurai bebas bergerak lembut, memantulkan sisa-sisa cahaya senja. Di tanganmu, ada segelas jus jeruk dingin yang mulai berembun. Langkah kaki tanpa alas terdengar pelan di atas dek kayu. Dua lengan kokoh yang kecokelatan melingkar mulus di perutmu dari belakang. Riki menarik tubuhmu merapat ke dada telanjangnya yang hangat dan beraroma sabun mandi kayu cendana. Dia hanya mengenakan celana pendek linen putih, membiarkan kulit tubuhnya terpapar semilir angin pantai.
Riki menyandarkan dagunya di bahumu yang terbuka, mengecup pelan kulit di sekitar tulang selangkamu. “Tenang banget di sini,” bisik Riki, suaranya berat dan menenangkan.
Kamu menyandarkan kepalamu ke samping, menikmati sentuhan bibirnya di lehermu. “Iya... setelah empat tahun pusing sama skripsi, tugas harmoni, dan jadwal latihan, rasanya lega banget bisa berdiri di sini bareng kamu.”
Riki terdiam sejenak. Lengannya semakin erat memeluk pinggangmu. Dia memutar tubuhmu perlahan agar kalian saling berhadapan. Di bawah langit senja yang mulai temaram, tatapan mata hitam Riki memancarkan intensitas yang begitu murni dan dalam.
“Kita gak cuma ngerayain kelulusan di sini, (Y/N),” kata Riki serius.
Dari saku celananya, Riki mengeluarkan sebuah dokumen bersampul kulit hitam dan sebuah amplop putih tebal. Dia menaruhnya di atas meja kayu di samping kolam, lalu membukanya di hadapanmu.
“Ini surat perjanjian sewa ruko dua lantai di kawasan Kemang yang kemarin kita liat,” jelas Riki, menatap matamu lurus. “Udah aku tanda tangani atas nama kita berdua. Lantai satu buat studio rekaman dan ruang latihan instrumen, lantai dua buat studio vokal kamu. Tabungan aku dari hasil royalti lagu selama dua tahun ini udah cukup buat renovasi dan beli peralatan sound system terbaik.”
Kamu terperangah menatap dokumen itu. “Riki... kamu udah urus semuanya?”
“Aku gak mau nunggu lama lagi,” bisik Riki parau, tangannya terangkat menangkup pipimu dengan sangat lembut. “Aku mau fondasi hidup kita mapan secepatnya. Aku mau studio ini jadi bukti kalau kita bisa sukses bareng. Dan setelah studio ini jalan...”
Jemari Riki merogoh kembali saku celananya, kali ini mengeluarkan sebuah kotak beludru merah marun kecil. Dia membukanya perlahan. Di dalamnya, sebuah cincin platinum bermata berlian tunggal yang sederhana namun sangat anggun berkilau tertimpa cahaya lentera vila.
Napasmu tertahan seketika. Air mata haru menggenang di pelupuk matamu.
“Aku gak mau cuma sekadar jadi pacar kamu lagi,” bisik Riki dengan suara bergetar menahan gejolak emosi di dadanya. “Aku mau kamu jadi istri aku, (Y/N). Temenin aku seumur hidup, bikin musik bareng aku, dan jadi rumah tempat aku pulang setiap hari. Will you marry me?“
Di bawah langit Uluwatu yang bertabur bintang pertama malam itu, kamu tidak membutuhkan waktu sedetik pun untuk berpikir.
“Iya, Riki... aku mau,” jawabmu lirih, air mata bahagiamu menetes membasahi pipi.
Riki menghela napas lega yang begitu panjang, seolah seluruh beban hidupnya baru saja terangkat. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia menyematkan cincin itu di jari manismu, pas sempurna. Tanpa menunggu sedetik pun, Riki mengangkat tubuhmu ke dalam pelukannya, memutar tubuhmu di udara sambil tertawa lepas diiringi gemuruh suara ombak di bawah tebing.
Begitu kakimu kembali menapak di atas dek kayu, Riki tidak menurunkan tangannya dari pinggangmu. Tatapannya berubah total—dari keharuan yang manis menjadi kobaran gairah yang begitu pekat dan menuntut.
“You are all mine now,” bisik Riki di depan bibirmu.
Tanpa memberi jeda, Riki menarik tengkukmu dan melumat bibirmu dengan ciuman yang membara. Tidak ada lagi kehati-hatian atau rasa ragu. Ciumannya kali ini begitu lapar, panas, dan posesif. Lidahnya menyapu rongga mulutmu, menyesap setiap desah napasmu sementara kedua tangannya meremas pinggangmu erat, mengangkat tubuhmu hingga kamu terpaksa duduk di tepi meja kayu dek balkon.
Kamu membalas lumatannya dengan intensitas yang sama. Kedua tanganmu meremas rambut hitam Riki yang tebal, merasakan otot-otot punggungnya yang menegang keras di bawah telapak tanganmu. Gaun pantai tipismu ditarik perlahan oleh jemari Riki yang terampil, melorot dari bahumu dan jatuh ke lantai kayu tanpa suara.
Udara malam yang sejuk menyapa kulit tubuhmu yang polos, namun hawa dingin itu seketika musnah saat tubuh tegap Riki kembali menempel rapat, membakar setiap jengkal kulitmu dengan panas tubuhnya.
Riki mengalihkan ciumannya ke rahangmu, turun ke leher jenjangmu, dan mengecup lekuk bahumu dengan gigitan-gigitan kecil yang memabukkan. Setiap sentuhan bibirnya meninggalkan jejak panas yang membuat punggungmu melengkung dan napasmu memburu tak beraturan.
“Riki... ahh...” desahmu tertahan saat tangannya yang kasar menyusuri pahamu, meraba bagian intimu yang sudah basah dan hangat menyambut kehadirannya.
“Kamu basah banget, Sayang...” bisik Riki serak di dekat telingamu, jemarinya bergerak membelai dengan ritme yang presisi, menekan titik paling sensitifmu hingga kamu meremas bahunya kuat-kuat. “Kamu suka sentuhan aku, kan?”
“Iya... Ki, please...” pintamu dengan tatapan sayu yang dipenuhi kepasrahan.
Riki tidak menyiksa dirimu lebih lama. Dengan satu gerakan mantap, dia menyingkirkan celananya, mengangkat kedua kakimu melingkar di pinggang rampingnya, lalu memosisikan dirinya tepat di ambang intimu yang merekah hangat.
Matanya terkunci lurus ke dalam matamu saat dia mendorong pinggulnya maju secara perlahan namun bertenaga penuh.
Penyatuan itu terasa begitu padat, panas, dan sempurna. Kamu memejamkan mata erat, mendesah panjang saat tubuhmu terisi penuh oleh kehadirannya. Riki menahan tubuhnya sejenak, membiarkan kehangatanmu melingkupinya sepenuhnya, sementara jemarinya menaut erat jemarimu di atas meja kayu.
“Open your eyes, (Y/N),” bisik Riki dengan napas terengah-engah, urat-urat di lehernya menonjol menahan kenikmatan yang luar biasa. “Look who’s inside you now.”
Kamu membuka matamu yang basah, menatap wajah pria yang dulu kamu kejar tanpa arah, pria yang kini menyatu dengan jiwamu secara utuh.
Riki mulai menggerakkan pinggulnya. Tempo yang dia mainkan bukan lagi balada lambat; itu adalah irama cepat, dalam, dan tanpa jeda. Setiap hentakannya menghantam tepat di titik kenikmatan terdalammu, menimbulkan suara decak basah dan erangan tertahan yang bergema di keheningan dek terbuka itu. Meja kayu di bawahmu bergetar pelan mengikuti dorongan tubuhnya yang perkasa.
Kamu mencakar punggung bidang Riki saat gelombang panas yang dahsyat mulai menumpuk di perut bagian bawahmu. Gerakan Riki semakin cepat, semakin brutal, dipenuhi gairah masa muda yang telah terikat oleh janji suci masa depan. Keringat mereka berpadu, mengkilap tertimpa sinar bulan purnama di atas laut.
“Riki... aku mau keluar... ahh!” erangmu tak kuasa menahan puncaknya.
“Bareng aku, Sayang... keluar bareng aku,” bisik Riki parau.
Dengan beberapa dorongan terakhir yang sangat dalam dan kuat, tubuh kalian berdua menegang serempak. Gelombang kenikmatan yang meledak menyapu seluruh kesadaranmu, membuat dinding intimu berdenyut kencang mencengkeram miliknya, sementara Riki menggeram rendah di ceruk lehermu, menumpahkan seluruh kehangatan dan rasa cintanya ke dalam dirimu tanpa sisa.
Malam itu berakhir dengan pelukan yang tenang di atas ranjang berkanopi di dalam kamar tidur vila. Selimut putih tipis menutupi tubuh kalian yang masih saling bertaut nyaman.
Riki menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, membiarkanmu tidur tengkurap di atas dadanya dengan cincin berlian yang berkilau di jari manismu. Jemarinya yang panjang tak henti mengelus rambutmu yang terurai di dadanya.
“Mulai besok,” gumam Riki pelan, mengecup keningmu dengan kelembutan yang tak pernah pudar, “kita bukan lagi dua anak kampus yang bingung arah. Kita adalah pemilik masa depan kita sendiri.”
Kamu tersenyum damai, merasakan detak jantung Riki yang stabil di bawah pipimu.
Lagu cinta kalian telah melewati masa-masa disonansi, nada sumbang penolakan, dan tempo yang kacau di masa lalu. Namun malam ini, di bawah lindungan semesta dan janji suci yang telah terpatri, kalian tahu bahwa simfoni kehidupan yang baru saja dimulai akan terus mengalun indah—selamanya, tanpa ada nada yang salah lagi.
🎸
Gedung serbaguna berkonsep glasshouse garden di kawasan Jakarta Selatan hari itu disulap menjadi perpaduan estetika musik klasik dan kehangatan modern. Tanaman rambat hijau, kelopak mawar putih, dan jajaran lampu gantung kristal temaram menciptakan atmosfer yang begitu elegan. Di salah satu sudut panggung pelaminan, dua instrumen utama diletakkan berdampingan: sebuah piano grand hitam milikmu dan gitar akustik keemasan bersejarah milik Riki.
Hari itu, janji suci pernikahan akhirnya diucapkan di hadapan keluarga besar, kerabat, dan tentu saja, teman-teman terdekat.
Kamu tampil begitu anggun dalam balutan gaun pengantin putih berpotongan mermaid dengan detail renda brokat yang jatuh menawan. Rambutmu ditata rapi dengan hiasan mutiara halus. Di sampingmu, Riki berdiri tegap mengenakan setelan tuksedo hitam pekat dengan dasi kupu-kupu yang membuatnya tampak sangat matang dan berwibawa. Garis rahangnya yang tegas tampak melunak oleh binar kebahagiaan yang tak henti memancar dari kedua matanya.
Begitu acara sakral selesai dan sesi santai dimulai, kerusuhan yang sudah bisa ditebak pun meledak.
“WOIIII! SAH JUGA KAN AKHIRNYA!” teriak Junghwan dari arah meja prasmanan. Cowok itu mengenakan jas formal yang sengaja dibuka kancing depannya, menenteng piring penuh daging wagyu panggang sambil melambaikan tangan heboh.
Di sebelahnya, James tampil necis dengan setelan jas abu-abu gelap dan kacamata berbingkai emas, menepuk dahi melihat kelakuan Junghwan. Di barisan depan panggung hiburan, si kembar Ohyul dan Ryul bahkan sudah memegang instrumen bass dan keyboard untuk mengiringi Hyerin yang menyumbangkan suara merdunya sebagai hadiah pernikahan.
“Selamat ya, (Y/N), Riki!” seru Hyerin dari atas panggung kecil seusai menyanyikan lagu romantis. Dia turun dan memelukmu erat. “Sumpah, dari zaman kita masih sekelas di Harmoni Lanjut gue jadi saksi gimana lo berdua saling lempar gengsi sampai akhirnya berdiri di pelaminan ini. Gue bener-bener terharu.”
“Makasih banyak ya, Rin,” balasmu sambil tersenyum lebar dan menyeka sudut mata yang sedikit berkaca-kaca.
James melangkah mendekat ke arah Riki, menjabat tangan sahabatnya erat lalu menariknya ke dalam pelukan singkat ala cowok. “Jaga (Y/N) baik-baik, Ki. Modal lo bukan cuma sewa apartemen lagi sekarang, tapi udah ada akad seumur hidup.”
“Pasti, Mes. Makasih udah selalu jadi otak di balik semua ini,” jawab Riki tulus.
Ryul yang baru menyusul dari panggung menyeletuk dengan nada datarnya yang khas, “Gak usah terharu lama-lama. Inget ya, Ki, mulai malam ini lo udah gak punya hak buat ngambek atau ngurung diri di studio. Lo udah resmi jadi kepala keluarga.”
Riki terkekeh pelan, lalu melingkarkan lengannya erat di pinggangmu, menarik tubuhmu merapat ke sisinya di hadapan teman-temannya. “Tenang aja. Gue gak bakal ke mana-mana lagi.”
Setelah pesta pernikahan usai, kalian resmi menempati sebuah rumah dua lantai bergaya modern-minimalis di daerah Cilandak yang tidak jauh dari ruko studio musik kalian. Rumah itu memiliki halaman belakang yang asri, ruang tengah yang luas dengan lantai kayu hangat, dan dapur bersih dengan kitchen island marmer.
Di minggu-minggu awal pernikahan, rumah itu seolah dipenuhi oleh energi asmara muda yang tak pernah padam.
Riki yang kini sepenuhnya menjadi suamimu menunjukkan sisi posesif, penuh gairah, dan perhatian yang luar biasa intens. Setiap sudut rumah mulai dari sofa ruang tengah, meja dapur marmer, hingga kamar tidur utama di lantai atas seolah menjadi saksi bisu betapa dalamnya rasa cinta dan ketertarikan fisik di antara kalian. Riki memperlakukanmu bagaikan candu, dia menuntut kehadiranmu di sisinya setiap detik, melingkarkan pelukannya setiap kali kamu memasak, dan menghujani tubuhmu dengan ciuman-ciuman panas yang menuntut kepasrahan penuh di balik pintu kamar yang terkunci.
Hingga suatu malam, sebuah perayaan kecil diadakan di rumah baru kalian setelah peluncuran resmi studio produksi musik bersama, “TEMPO Soundworks”.
Malam itu, Junghwan, James, Ohyul, dan Ryul mampir untuk makan malam syukuran. Suasana berlangsung sangat meriah hingga pukul sebelas malam. Meja makan dipenuhi tumpukan kotak pizza, piring bekas pasta, dan botol-botol minuman dingin.
Begitu mobil teman-teman Riki terdengar melaju meninggalkan pagar depan, pintu rumah langsung terkunci rapat. Riki yang dari tadi menahan diri di depan teman-temannya langsung berbalik. Tanpa membuang waktu sedetik pun, dia menarik tubuhmu ke dalam pelukannya di lorong dekat tangga, menempelkan tubuhmu ke dinding putih yang dingin.
“Ki... piring kotor di meja belum diberesin...” bisikmu terengah-engah saat bibir panas Riki mulai melumat bibirmu tanpa jeda.
“Biarin dulu,” bisik Riki serak di depan bibirmu. Tangannya yang kuat menyusup ke bawah gaun tidur sutramu, mengangkat tubuhmu dan mendudukkanmu di atas meja konsol lorong. “Aku udah nahan dari tadi pas mereka di sini.”
Gairah yang menyala seketika membuatmu kehilangan kata-kata. Napas kalian memburu, saling bertaut dalam keintiman yang mendalam di bawah pendar lampu lorong yang temaram. Riki membenamkan wajahnya di ceruk lehermu, mengecup kulitmu dengan intensitas yang membuat lututmu lemas dan jemarimu mencengkeram bahu tegapnya.
Tiba-tiba...
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu depan yang keras dan tergesa-gesa memecah kesunyian malam, diikuti suara bel rumah yang berbunyi dua kali.
“Woy, Ki! (Y/N)! Buka bentar dong! Kunci mobil sama dompet gue ketinggalan di atas meja makan!” suara Ryul terdengar sangat jelas dari balik pintu depan, disusul suara tawa Ohyul di luar pagar.
Kamu terkesiap panik, matamu membulat sempurna. “Riki! Ryul balik lagi!”
Riki menggeram pelan, dahinya bersandar di bahumu dengan napas yang masih berat dan memburu. Dia memejamkan mata sesaat untuk mengontrol emosi dan tubuhnya yang sedang terbakar gairah. “Sumpah ya, tuh anak berdua bener-bener perusak suasana,” desis Riki kesal namun tertawa tertahan.
Dengan cepat, Riki menurunkanmu dari atas meja konsol, merapikan gaun tidurmu yang berantakan, lalu mengenakan kaus polosnya kembali. Kamu buru-buru berlari ke arah dapur untuk bersembunyi sambil merapikan rambutmu yang kusut dan pipimu yang memerah padam.
Riki membuka pintu depan hanya selebar celah badan, menatap Ryul dan Ohyul dengan tatapan datar yang sangat dingin.
“Nih dompet lo sama kunci lo,” kata Riki langsung menyodorkan barang-barang itu ke dada Ryul tanpa menyuruh mereka masuk. “Sekarang pergi sebelum gue lempar lo berdua ke got depan.”
Ryul melirik Riki yang napasnya masih sedikit tidak beraturan dengan leher yang agak memerah. Senyum jahil langsung terbit di wajah sang bassist. “Wah... sori ya, Bro. Kayaknya gue salah timing banget nih. Lanjut, lanjut, gak usah dipikirin!”
“Diem lo, cabut sekarang,” ketus Riki sambil membanting pintu depan dan menguncinya rapat-rapat.
Dari luar rumah masih terdengar suara Ohyul dan Ryul yang selalu dengan kata andalannya, “When yah,” mengudara diiringi cekikikan dua kembar tak seiras itu.
Begitu pintu terkunci, Riki langsung berbalik dan berjalan cepat ke arah dapur tempatmu bersembunyi di balik lemari es. Melihat wajahmu yang masih merah karena malu dan syok, tawa Riki pecah. Dia menarikmu kembali ke dalam dekapannya, mengangkatmu ke atas gendongannya, dan membawamu melangkah mantap menuju kamar lantai atas.
“Sekarang gak bakal ada yang ganggu lagi,” bisiknya lembut sebelum menutup pintu kamar rapat-rapat.
🎸
Waktu bergulir dengan sangat cepat. Satu tahun, dua tahun pernikahan berlalu dalam keharmonisan yang semakin matang.
Studio musik TEMPO Soundworks berkembang pesat menjadi salah satu studio rekaman dan pelatihan vokal paling diminati di Jakarta Selatan. Banyak musisi muda dan talenta baru yang lahir dari bimbingan vokalmu dan sentuhan aransemen ajaib Riki. Kalian berdua bukan hanya sepasang suami istri, tetapi juga mitra profesional yang saling mengisi setiap nada kehidupan.
Namun, di balik kesuksesan karier, ada satu kerinduan mendalam yang selalu kalian nantikan: kehadiran buah hati. Hingga di suatu pagi pada tahun kedua pernikahan, saat matahari baru saja terbit menyinari kamar mandi utama, kamu duduk membeku di tepi bak mandi. Di tanganmu, ada sebuah alat tes kehamilan kecil yang menunjukkan dua garis merah yang sangat jelas dan tegas.
Air mata haru seketika menetes tanpa bisa dibendung.
Ketika Riki melangkah masuk ke kamar mandi dengan rambut berantakan khas bangun tidur, kamu berdiri dan menyodorkan alat itu tanpa kata-kata. Riki menatap benda kecil itu selama beberapa detik. Dahinya berkerut, mencerna tanda positif di sana, sebelum akhirnya matanya melebar sempurna.
“Ini... beneran?” bisik Riki, suaranya tercekat dan bergetar hebat.
“Iya, Ki... aku hamil,” jawabmu lirih.
Riki langsung menjatuhkan dirinya berlutut di lantai kamar mandi, melingkarkan kedua lengannya di pinggangmu dan membenamkan wajahnya di perutmu yang masih rata. Bahu tegapnya berguncang pelan saat dia meneteskan air mata kebahagiaan—sebuah pemandangan yang menunjukkan betapa berartinya momen ini baginya.
“Makasih... makasih banyak, (Y/N)...” bisik Riki berkali-kali, menciumi perutmu dengan penuh takzim dan kasih sayang yang luar biasa.
Sembilan bulan berikutnya bukanlah masa yang mudah. Kehamilan pertamamu diwarnai oleh morning sickness yang cukup parah di trimester pertama dan perubahan emosi yang tidak menentu.
Namun, di masa-masa sulit itulah dedikasi Riki sebagai seorang suami benar-benar diuji dan terbukti tanpa cela. Riki rela menggeser sebagian besar pekerjaannya dari studio ke rumah. Dia membuat ruang kerja kecil di samping kamar tidur agar bisa terus memantaumu setiap saat.
Setiap malam saat kakimu membengkak dan punggungmu terasa pegal, Riki akan duduk berjam-jam memijat kakimu dengan minyak aromaterapi lavender tanpa pernah mengeluh sedikit pun. Ketika kamu tiba-tiba mengidam buah mangga muda asam pada pukul dua dini hari, Riki akan langsung mengambil kunci mobilnya, berkeliling mencari pedagang buah yang masih buka di pasar induk sampai dapat.
Dia membiasakan diri setiap malam memetik gitar akustiknya di samping tempat tidur, menyanyikan melodi-melodi lembut sambil menempelkan telinganya ke perutmu yang membesar untuk berbicara dengan calon buah hati kalian.
Anak-anak tongkrongan—Junghwan, James, Ohyul, dan Ryul—juga tak henti-hentinya menunjukkan perhatian mereka. Mereka sering datang membawakan makanan sehat, susu ibu hamil, bahkan Junghwan sempat menghadiahkan sepasang stik drum mini berbahan kayu halus khusus bayi.
Malam persalinan itu tiba di pertengahan musim kemarau. Di ruang bersalin sebuah rumah sakit swasta di Jakarta, suara monitor detak jantung berpadu dengan hembusan napas panjang dan peluh yang membasahi keningmu.
Riki tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari jemarimu sedetik pun. Dia berdiri di samping kepalamu, mengenakan pakaian medis steril, terus membisikkan doa, kata-kata penguat, dan kecupan hangat di keningmu setiap kali kontraksi hebat datang menerpa.
“Tarik napas, Sayang... kamu kuat, kamu bisa. Aku ada di sini, aku gak bakal ke mana-mana,” bisik Riki parau, air matanya sendiri mengalir melihat perjuanganmu bertaruh nyawa.
Dan tepat pada pukul 03.15 dini hari, tangisan melengking yang nyaring memecah keheningan ruang bersalin.
Suara tangisan kehidupan baru yang begitu murni.
Dokter meletakkan bayi laki-laki mungil berkulit kemerahan itu di atas dadamu untuk proses inisiasi menyusu dini. Bayi itu begitu tampan, mewarisi bentuk mata dan garis hidung yang tegas mirip Riki, dipadu dengan bentuk bibir dan kelembutan garis wajah milikmu.
Riki menatap putranya dengan pandangan yang sarat akan cinta yang meluap. Jemarinya yang panjang menyentuh pipi mungil bayi itu dengan sangat hati-hati, takut melukainya.
“Halo, jagoan...” bisik Riki dengan suara bergetar dan senyuman paling haru yang pernah ada. “Selamat datang di dunia, Nishimura Daichi.”
Daichi—sebuah nama yang berarti bumi yang agung dan kokoh, melambangkan fondasi cinta mereka yang telah melewati berbagai badai hingga menjadi tempat berpijak yang abadi.
Dua minggu setelah kepulangan dari rumah sakit, ruang tamu rumah kalian di Cilandak kembali dipenuhi oleh suara tawa dan kehangatan.
Daichi kecil yang tertidur pulas dalam balutan selimut rajut biru muda berada di dalam boks bayi kayu di tengah ruangan. Di sekelilingnya, empat om-om muda dari Senja Squad sedang duduk melingkar di atas karpet dengan wajah takjub dan suara yang sengaja dibisikkan agar tidak membangunkan keponakan kesayangan mereka.
“Sumpah ya, mukanya Riki banget pas masih orok,” bisik Junghwan gemas, jari telunjuknya yang besar disentuh oleh tangan mungil Daichi yang menggenggam erat. “Tapi untung gantengnya dapet dari (Y/N), jadi gak judes-judes amat.”
“Gue udah daftarin Daichi masuk les piano privat mulai umur empat tahun ya,” celetuk James bangga sambil menyesap teh hangatnya.
“Gue bagian ngajarin bass sama cara ngusir cowok atau cewek yang mau macem-macem pas dia gede nanti,” timpal Ryul dan Ohyul kompak.
Kamu yang sedang duduk di sofa bersandar pada bahu Riki hanya bisa tertawa bahagia melihat pemandangan itu. Hyerin yang duduk di sebelahmu menuangkan teh sambil tersenyum hangat. Riki melingkarkan lengannya di bahumu, menarikmu merapat ke dalam dekapannya. Dari tempat kalian duduk, kalian bisa melihat buah cinta kalian yang damai di dalam boks, dikelilingi oleh sahabat-sahabat sejati yang selalu ada di setiap babak kehidupan.
Riki menundukkan kepalanya sedikit, mengecup pelipismu dengan kelembutan yang abadi.
“Terima kasih untuk semuanya, (Y/N),” bisik Riki tulus di telingamu. “Untuk luka masa lalu yang kamu maafkan, untuk cinta yang kamu berikan, dan untuk keluarga kecil yang indah ini.”
Kamu menoleh, menatap mata suamimu yang teduh, lalu tersenyum manis penuh kedamaian.
“Terima kasih sudah memilih untuk pulang ke aku, Riki.”
Di ruangan itu, di bawah kehangatan rumah tangga yang utuh dan masa depan yang terbentang cerah, melodi kehidupan mereka telah menemukan harmoni puncaknya—sebuah simfoni abadi yang dimainkan dalam tempo cinta yang sempurna.
REAL THE END HAPPY ENDING
makasih ya sudah menemani aku menyelesaikan cerita tempo ini 🥰
next cerita riki baru berjudul RELAPSE akan rilis...
staytune yach
No posts

Comments
Nothing yet. Say the first thing.
Sign in to join the conversation.