RSS Amplifier

Miciela's Universe · Aug 19, 2026

3 Altitude of Desire

0
Sign in to vote or save

𝐌𝐈𝐂𝐈𝐄𝐋𝐀 · Miciela's Universe

Sunghoon beranjak sejenak dari kasur, melangkah ke kamar mandi tanpa memedulikan tubuhnya sendiri yang masih terpapar udara dingin. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat.

Dengan ketelatenan yang teramat lembut dan hening karakter aslinya yang selalu mengurusmu tanpa banyak kata sejak kalian remaja, ia membersihkan sisa-sisa pelepasan di kulit perut dan pangkal pahamu. Gerakannya sangat hati-hati, seolah kamu adalah sesuatu paling rapuh di dunia. Setelah memastikan tubuhmu bersih dan nyaman, ia menarik selimut duvet tebal berbahan bulu angsa menutupi tubuh kalian berdua, lalu merebahkan dirinya miring menghadapmu.

Kamar kembali hening. Deru hujan di luar kaca jendela penthouse Hannam-dong berangsur mereda menjadi rintik gerimis yang ritmis. Lampu nakas memancarkan temaram kuning keemasan, menyoroti liontin bintang perak yang masih terkalung di lehermu, berkilau tepat di atas lekuk dadamu.

Sunghoon menyelipkan satu lengannya di bawah kepalamu, membiarkanmu kembali menyandarkan kening di ceruk lehernya. Namun, ada ketegangan halus yang tertahan di garis rahangnya. Lengannya yang merengkuh pinggangmu terasa tidak sepenuhnya santai; ada jarak tak kasatmata yang tiba-tiba mengambang di antara kalian setelah badai gairah itu reda.

Jemarinya yang panjang terangkat perlahan, menyentuh liontin bintang kecil itu dengan ujung telunjuknya. Logam dingin itu bergesekan halus dengan kulitmu.

Now... what are we, (y/n)?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Sunghoon. Nadanya datar dan rendah, namun sarat akan kerapuhan yang jarang sekali pria itu tunjukkan kepada siapa pun. Kamu sedikit mendongak, menatap matanya yang terpantul dalam keremangan. “Hoon...”

Sunghoon tidak langsung menatap matamu, pandangannya masih tertuju pada liontin bintang itu, sebelum akhirnya perlahan naik mengunci manik matamu dengan sorot yang menuntut kejujuran mutlak.

“Aku cuma mau tahu,” lanjut Sunghoon pelan, suaranya serak dan getir. “Malam ini... kamu manggil aku ke sini, nyerahin diri kamu sejauh ini... itu karena apa?”

Dadamu mendadak berdenyut nyeri mendengar nada bicaranya. “Maksud kamu?”

“Kamu ngelakuin ini karena kamu beneran menginginkan aku sebagai laki-laki... atau kamu cuma lagi kesepian di apartemen sebesar ini?”

Kalimat itu terucap tanpa intonasi kasar, tapi menghujam tepat ke ulu hatimu.

Sunghoon menarik napas panjang, menatapmu dengan mata yang berkilat oleh keraguan yang mendalam. “Lima tahun kita nggak saling sapa. Kamu ada di puncak karier, punya segalanya, tapi kamu sendirian menjelang debut solomu. Aku nggak bodoh, (y/n). Rasa kangen pada masa lalu dan gairah sesaat karena nostalgia itu gampang banget bikin orang salah langkah. Aku nggak mau bangun besok pagi dan sadar kalau aku cuma pelarian dari rasa cemasmu sebelum kamu naik panggung lagi.”

Ruangan itu mendadak terasa begitu dingin meski kalian berada di bawah selimut tebal yang sama.

Kamu bisa melihat ketakutan terbesar Park Sunghoon yang selama sembilan tahun ini ia sembunyikan rapat-rapat, ketakutan bahwa posisinya di hidupmu hanyalah sebatas “teman lama yang berjasa” atau sekadar pelipur lara di saat duniamu terasa sunyi.

Tanpa berkata-kata, kamu mengangkat tanganmu, menempelkan telapak tanganmu yang hangat di pipinya yang dingin. Kamu mengusap garis rahangnya yang kokoh, membiarkan jemarimu merasakan detak nadi di lehernya.

“Kamu pikir rasa kangen dan gairah sesaat cukup buat bikin aku ngasih seluruh diriku ke kamu?” bisikmu parau, matamu menatap lurus ke dalam pupil matanya tanpa sedikit pun keraguan.

Sunghoon terdiam, membiarkan pipinya bersandar pada telapak tanganmu.

“Waktu lima tahun ini... nggak ada satu hari pun di mana aku nggak ngerasa bersalah dan kehilangan kamu, Hoon,” air matamu kembali menggenang di sudut pelupuk mata. “Di panggung, di depan puluhan ribu orang, yang aku cari di antara lautan penonton selalu kamu. Aku tahu aku egois. Dulu aku milih impianku dan ninggalin kamu di belakang. Tapi alasan aku manggil kamu malam ini bukan karena aku butuh pelarian.”

Kamu menarik tangannya yang berada di atas kasur, menuntun jemari panjang Sunghoon tepat ke atas dadamu yang berdetak kencang di balik selimut.

“Jantungku dari umur empat belas tahun sampai malam ini... cuma pernah berdetak seberantakan ini buat kamu, Park Sunghoon,” tegasmu dengan suara bergetar namun pasti. “Aku nggak mau masa lalu kita. Aku mau kamu yang sekarang. Aku mau laki-laki yang berdiri di depanku malam ini, yang punya cita-citanya sendiri, yang sayapnya sama kuatnya kayak impianku.”

Mendengar pengakuan yang meluncur tulus dari bibirmu, seluruh ketegangan di tubuh Sunghoon runtuh seketika. Pertahanan baja yang ia bangun selama bertahun-tahun luluh tanpa sisa.

Mata pria itu bergetar lembut. Perlahan, ia menarikmu lebih rapat ke dalam dekapannya, melingkarkan kedua lengannya yang kokoh di sekeliling punggungmu hingga tidak ada lagi udara dingin yang sanggup menyusup di antara kulit kalian. Wajahnya terbenam di ceruk lehermu, menghirup aroma tubuhmu yang menenangkan.

“Kamu tahu kan risikonya?” bisik Sunghoon di dekat telingamu, suaranya kini kembali hangat dan penuh kelembutan yang protektif. “Kamu idol paling dicari sekarang, dan aku bakal sering terbang keliling dunia. Kita nggak bakal bisa jalan sambil gandengan tangan di jalanan Hongdae kayak orang biasa.”

Kamu tersenyum tipis di dalam pelukannya, jemarimu menyusup ke sela-sela rambut belakang kepalanya. “Kita udah lewatin empat tahun masa trainee yang sembunyi-sembunyi di kedai tenda. Kenapa sekarang harus takut?”

Sunghoon mengangkat kepalanya sedikit, menatapmu dengan senyum miring tipis yang begitu kamu rindukan, senyum yang kini tidak lagi menyimpan luka tersembunyi.

“Kalau gitu, mulai malam ini... nggak ada lagi yang namanya ‘cuma teman SMP’,” ucap Sunghoon tegas, sebelum ia menundukkan wajahnya dan mengecup bibirmu sekali lagi, sebuah kecupan manis dan posesif yang menandai awal dari ikatan baru kalian di tengah dinginnya malam Seoul.

✈️

Aroma bahan kimia pewarna rambut, amonia, dan wangi manis hair tonic manis menguar di udara salon eksklusif kawasan Cheongdam-dong. Salon yang telah dibooking penuh oleh agensi itu dipenuhi oleh tim penata gaya, asisten pribadi, dan manajer operasional yang sibuk memeriksa jadwal digital di tablet masing-masing.

Di depan cermin rias berbingkai lampu LED terang, kamu duduk diam selama hampir lima jam. Proses bleaching tingkat tinggi yang melelahkan akhirnya terbayar lunas ketika penata rambut pribadimu mengeringkan helaian rambutmu dengan hair dryer.

Warna hitam pekat yang selama lima tahun menjadi ciri khas sang center Firestar kini telah bertransformasi seutuhnya menjadi soft pink pastel yang lembut, berkilau seperti permen kapas di bawah sorotan lampu. Potongan layer bergelombang halus itu membingkai wajahmu dengan sempurna, menonjolkan kulit putihmu dan memberikan impresi manis, ethereal, sekaligus segar, sangat selaras dengan lagu utama debut solomu yang bertajuk ceria dan penuh romansa manis.

“Gila, ini bakal jadi tren baru sih,” puji penata rambutmu sembari menyemprotkan sedikit hairspray penahan tatanan. “Warna soft pink ini bikin visualmu makin standout, (y/n). Manajer Lee pasti langsung setuju buat pemotretan teaser terakhir malam ini.”

Kamu hanya bisa tersenyum tipis ke arah pantulan dirimu di cermin. Ponsel pintarmu di atas meja rias sesekali menyala pelan, menampilkan deretan notifikasi grup chat agensi, pengingat gladi resik music show, serta draf jadwal promosi mingguan.

Kesibukan gila-gilaan selama tiga minggu terakhir benar-benar menyedot seluruh energimu. Dari rekaman ulang vokal hingga subuh, syuting video klip selama tiga hari penuh di luar kota, latihan koreografi intensif bersama sepuluh dancer, hingga fitting belasan pasang kostum panggung.

Lagi-lagi, kamu hampir tidak sempat membalas pesan pribadi. Namun, berbeda dengan rasa bersalah yang mencekik lima tahun lalu, kali ini hatimu jauh lebih tenang.

Park Sunghoon juga sedang berada di puncak kesibukannya sendiri.

Sebagai First Officer muda di maskapai rute internasional, Sunghoon harus menyelesaikan serangkaian uji simulasi penerbangan dan mengurus dokumen navigasi untuk rute bolak-balik Incheon–Hong Kong selama seminggu penuh. Di sela-sela waktu istirahat simulasi penerbangannya, laki-laki itu hanya sempat mengirim foto kokpit atau pesan-pesan singkat seperti:

“Jangan lupa makan siang. Rambut barumu belum kamu kasih unjuk ke aku.”

“Aku take-off ke Hong Kong besok lusa. Malam ini aku mendarat di Seoul jam 8 malam.”

Membaca pesan itu di sela-sela riasan, hatimu berdesir hangat. Hubungan baru ini tidak menuntut kata-kata manis yang berlebihan setiap jam, melainkan dilandasi oleh rasa saling mengerti dan percaya yang terbangun di atas fondasi sembilan tahun kebersamaan.

Dari lima anggota Firestar, kamu memang dikenal oleh publik, media, dan bahkan kalangan internal agensi sebagai sosok yang paling bersih dari gosip asmara. Kamu tidak pernah tertangkap kamera berjalan dengan pria mana pun, tidak pernah saling melempar kode di media sosial, dan tampak begitu berdedikasi penuh pada karier grup tanpa cela.

Namun di balik pintu dorm lama mereka sebelum akhirnya masing-masing member memiliki apartemen pribadi, urusan hati kelima gadis itu memiliki dinamika yang sangat kontras satu sama lain.

Giselle adalah anggota pertama yang hubungan asmaranya terkuak ke publik. Ia menjalin kasih dengan Park Jihoon, idol pria papan atas dari agensi sebelah. Saat berita kencan mereka pertama kali mencuat di salah satu media investigasi, badai kritik sempat menghantam karena saat itu popularitas Firestar sedang meledak-ledaknya.

Namun, seiring berjalannya waktu, publik dan penggemar berbalik memberikan dukungan luar biasa. Giselle dan Jihoon menunjukkan profesionalitas tingkat tinggi di atas panggung musik, mereka tidak pernah bersikap berlebihan, tetap fokus pada penampilan grup masing-masing, dan memisahkan urusan cinta dari panggung hiburan. Agensi Jihoon yang terkenal liberal bahkan tidak merilis larangan apa pun, membiarkan artisnya berkencan asalkan tetap berprestasi.

Lain lagi cerita Rora. Gadis manis bersuara lembut itu berpacaran dengan Juhoon, idol muda yang kariernya sedang melesat tajam. Kisah cinta mereka bermula ketika keduanya dipasangkan menjadi pembawa acara (MC) di salah satu program musik mingguan selama tiga musim berturut-turut. Interaksi manis, chemistry yang natural, dan rasa canggung yang lucu di depan kamera membuat publik justru menjodoh-jodohkan mereka sejak awal. Ketika keduanya mengumumkan hubungan setelah menyelesaikan kontrak sebagai MC, dua fandom besar secara kompak memberi restu penuh tanpa ada perang dingin.

Kisah pahit justru dialami oleh Asa. Sang main rapper yang terkenal berlidah tajam dan tangguh di atas panggung itu baru saja mengakhiri hubungannya dengan Ryul. Padatnya jam terbang di industri hiburan dan minimnya waktu komunikasi menjadi jurang pemisah yang tak lagi bisa dijembatani. Saat perpisahan itu terjadi sebulan lalu, Asa sempat mengurung diri di kamarnya selama seminggu penuh, menolak bertemu siapa pun sebelum akhirnya bangkit kembali, menyalurkan rasa sakitnya ke dalam lirik-lirik rap solo terbarunya, dan menikmati masa lajangnya dengan kepala tegak.

Sementara itu, Winter adalah member yang paling sering menjadi sasaran empuk rumor kencan palsu. Setiap kali berinteraksi sopan atau dibantu oleh idol pria senior di panggung penghargaan akhir tahun, forum komunitas online langsung heboh menuduhnya genit dan mencari perhatian. Dulu, saat mereka masih tinggal di dorm yang sama, Winter akan masuk ke kamar sambil mengomel panjang lebar, merajuk imut sembari melemparkan bantal ke sofa karena merasa kesal dituduh macam-macam. Padahal kenyataannya, hati Winter sudah lama terkunci rapat untuk seorang pria biasa—kakak kelasnya semasa SMA yang kini sedang menempuh masa wajib militer, hubungan jarak jauh yang tenang dan terbebas dari sorotan lampu kamera.

Dan kini dirimu.

Kamu sengaja belum memberitahu pihak agensi maupun manajermu tentang kehadiran Sunghoon. Bukan karena kamu berniat membohongi mereka, melainkan karena kamu ingin melindungi Sunghoon dari sorotan tajam industri hiburan yang kejam. Kamu tahu persis betapa beratnya beban kerja Sunghoon di kokpit pesawat, dan kamu tidak ingin privasi laki-laki itu terganggu oleh kamera paparazi atau komentar liar netizen di media sosial.

Pukul sepuluh malam. Hujan rintik-rintik kembali membasahi aspal ibu kota saat van hitam agensimu menurunkanku di lobi basemen apartemen mewahmu di Hannam-dong.

Setelah memastikan manajermu sudah meluncur pulang dan tidak ada mobil penguntit di sekitar gedung, kamu bergegas menaiki lift pribadi menuju unit apartemenmu di lantai teratas. Topi bisbol hitam dan masker kain yang menutupi rambut barumu sengaja belum kamu lepas.

Saat pintu ganda apartemen terbuka, aroma maskulin kayu cedar dan sentuhan segar mint seketika menyambut indra penciumanmu.

Di ruang tengah yang hangat, Sunghoon sudah berada di sana. Koper kabin hitam miliknya dan tas perlengkapan penerbangan bersandar rapi di dekat rak sepatu. Laki-laki itu sedang duduk santai di sofa panjang sembari membaca tablet dokumen manual penerbangannya, mengenakan celana jins gelap dan kaos rajut tipis lengan panjang berwarna abu-abu yang mempertegas bahunya yang bidang.

Mendengar bunyi pintu terbuka, Sunghoon menoleh.

Kamu melangkah masuk, melepaskan tas selempangmu, lalu perlahan membuka topi bisbol dan masker kain yang menutupi wajahmu. Helai-helai rambut barumu yang berwarna soft pink jatuh terurai lembut membingkai bahumu, menciptakan kontras yang begitu memikat dengan matamu yang berbinar lelah.

Sunghoon terpaku di tempat duduknya. Tatapan matanya yang tajam menelusuri penampilan barumu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jakunnya bergerak naik-turun pelan saat ia meletakkan tabletnya di atas meja kaca dan bangkit berdiri.

“Rambut baru?” suaranya mengalun rendah dan serak, memecah kesunyian ruangan.

Kamu melangkah mendekatinya sembari menyilangkan kedua tangan di belakang punggung, memamerkan senyum manis yang selama ini selalu menjadi kelemahannya. “Gimana? Aneh nggak? Konsep laguku sweet pop, jadi staf agensi mutusin buat bikin warnanya kayak gini.”

Sunghoon tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Langkah kakinya yang panjang mengikis jarak di antara kalian hingga ia berdiri tepat di hadapanmu. Tangannya yang besar dan hangat terangkat, menyelipkan sejumput helai rambut merah mudamu ke belakang daun telingamu.

Sentuhan jemarinya di kulit lehermu yang sensitif membuat napasmu tertahan sesaat.

“Cantik banget,” bisik Sunghoon tulus, matanya menggelap saat mengunci pandanganmu. “Bikin aku makin nggak rela kalau kamu dilihat banyak orang di tv besok.”

Rona merah muda seketika menjalar di kedua pipimu, menandingi warna rambut barumu. Rasa rindu yang membuncah setelah seminggu tidak bertatap muka langsung membuatmu melingkarkan kedua lenganmu di pinggangnya yang kokoh, membenamkan wajahmu di dadanya yang hangat.

“Aku capek banget seharian ini, Hoon,” rengekmu manja di balik bajunya. “Tapi pas lihat kamu di sini... capeknya langsung ilang.”

Sunghoon membalas pelukanmu dengan erat, melingkarkan lengannya di punggungmu dan mengecup pucuk kepalamu yang harum aroma floral. Di saku celana jinsnya, tersimpan sebuah kotak kecil berisi pengaman yang sengaja ia beli di apotek bandara sebelum pulang, bentuk tanggung jawab dan perlindungan mutlak darinya agar karier besarmu esok hari tidak terancam oleh kelalaian apa pun.

“Mandi dulu yuk,” bisik Sunghoon lembut di dekat telingamu. “Biar badanmu rileks.”

Kamar mandi utama di penthouse itu begitu luas, dilapisi marmer hitam dengan dinding kaca besar yang kini buram tertutup uap air panas. Gemericik air dari pancuran rainfall shower mengalir deras, membasahi lantai marmer dan mengisi ruangan dengan kehangatan yang pekat.

Pakaian kalian telah tertinggal di keranjang luar. Di bawah siraman air hangat yang menetes dari langit-langit, kamu berdiri membelakangi Sunghoon. Tetesan air membasahi rambut merah mudamu yang diikat longgar ke atas, mengalir menyusuri lekuk punggungmu yang mulus hingga ke pangkal paha.

Kedua telapak tanganmu bertumpu pada dinding marmer yang basah. Tubuhmu sedikit condong ke depan, menunggingkan pinggulmu secara naluriah saat Sunghoon melangkah mendekat dari belakang tanpa menyisakan jarak udara sedikit pun.

Dada bidangnya yang basah menempel rapat di punggungmu. Hawa panas dari tubuhnya yang kokoh berpadu dengan uap air kamar mandi, menciptakan atmosfer sensual yang membakar kesadaran.

Kedua tangan Sunghoon yang besar merayap ke depan, menyusup ke bawah ketiakmu dan langsung meremas kedua payudaramu dengan cengkeraman yang tegas dan mantap. Jemarinya yang basah mempermainkan puncaknya yang mengeras, menarik dan menekan dengan ritme yang teratur sembari ibu jarinya mengusap kulit dadamu yang licin oleh sabun mandi beraroma mawar.

Ngh... Hoon...“ desahan tertahan meluncur dari bibirmu saat kepalamu terkulai ke belakang, bersandar di bahu basahnya.

Di belakangmu, Sunghoon tidak menyusupkan dirinya secara penuh ke dalam intimu. Mengingat stamina yang harus kamu jaga untuk hari pertama siaran esok, ia menahan hasratnya dengan penuh kendali. Laki-laki itu hanya memosisikan tubuhnya di antara kedua pahamu yang terbuka sedikit, membiarkan pangkal batangnya yang sudah mengeras sempurna menggesek di sela-sela lipatan pahamu yang licin dan basah oleh busa sabun serta aliran air hangat.

Gesekan berulang yang padat, panas, dan bertekanan di pangkal pahamu itu mengirimkan gelombang kenikmatan yang begitu intens. Ditambah dengan remasan jemarinya yang kian kencang di dadamu, napasmu tersengal-sengal memburu di udara kamar mandi yang gerah.

“Kamu suka diginiin, (y/n)?” bisik Sunghoon parau di ceruk lehermu, giginya menggigit pelan daun telingamu tanpa meninggalkan tanda.

Kamu hanya bisa mengangguk pasrah sembari meremas permukaan marmer dinding yang licin. Dorongan pinggulnya dari belakang semakin rapat dan cepat, menggesek sela pahamu dengan ritme yang menuntut hingga akhirnya tubuh Sunghoon menegang keras.

Dengan satu erangan berat yang tertahan di balik dadanya, Sunghoon mencapai pelepasannya yang pertama di bawah guyuran air hangat, membiarkan sisa-sisa cairannya tersapu bersih oleh aliran air pancuran ke lubang pembuangan.

Napas pria itu memburu di bahumu selama beberapa saat, sebelum ia mematikan kran air dan meraih handuk tebal di gantungan.

Dengan ketelatenan yang luar biasa, Sunghoon mengeringkan rambut merah mudamu dengan handuk kecil, lalu membalut tubuhmu dengan handuk mandi besar yang hangat. Ia mengangkatmu keluar dari kamar mandi dengan langkah mantap, membawamu kembali ke tempat tidur kamar utama yang sudah rapi dan wangi.

Di atas kasur berbalut seprai bersih, Sunghoon merebahkanmu perlahan. Kali ini, tidak ada lagi rasa canggung atau keraguan yang tersisa di antara kalian berdua. Suasana kamar yang temaram dipenuhi oleh ketegangan gairah yang jauh lebih matang. Sunghoon duduk berlutut di antaramu, meraih bungkus pengaman dari atas nakas, membukanya dengan tenang, lalu memasangnya dengan gerakan yang mantap dan terbiasa.

Sebelum memulai penyatuan, pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan untuk memberikan foreplay yang jauh lebih dalam dan memabukkan.

Bibirnya menelusuri setiap jengkal kulitmu yang tertutup gaun panggung esok hari—menciumi perut bagian bawahmu, menggigit lembut lekuk pinggulmu, dan memberikan kecupan-kecupan panas di paha bagian dalammu yang membuat tubuhmu menggeliat tak berdaya di atas ranjang. Jemarinya yang terampil membelai dan membimbingmu hingga intimu kembali basah sempurna dan siap menyambutnya.

“Sekarang giliran kamu yang nikmatin malam ini, sayang,” bisik Sunghoon rendah, tatapan matanya mengunci manik matamu dengan binar cinta yang tak lagi tertahankan.

Ketika tubuhnya meluncur masuk secara perlahan dan utuh ke dalam dirimu, sebuah desahan panjang lolos dari bibir kalian berdua secara bersamaan. Penyatuan ronde kedua ini berlangsung dengan ritme yang stabil, dalam, dan penuh penghayatan emosional.

Sunghoon menatap wajahmu yang memerah indah di bawah temaram lampu tidur, tangannya menautkan jemarinya dengan jemarimu di atas bantal. Setiap dorongan pinggulnya membawa rasa cinta yang telah bertahan melintasi ruang, waktu, dan gemerlap panggung hiburan.

Di malam menjelang debut solomu yang megah, di dalam dekapan pria yang paling kamu cintai sejak usia empat belas tahun, kamu tahu bahwa seberapa pun tingginya kamu terbang sebagai bintang di langit, Park Sunghoon akan selalu menjadi landasan tempat hatimu berlabuh pulang.

to be continued

No posts

Read the original on micimaseven.substack.com

Comments

Nothing yet. Say the first thing.

    Sign in to join the conversation.