jangan lupa like yach biar cepet ending
Seminggu menjelang kepulangan kalian ke ibu kota, kabut pagi di lereng bukit perlahan tersibak oleh pendar matahari yang mulai meninggi. Jalur setapak berbatu yang kalian lalui terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Bukan karena medannya melandai, melainkan beban amarah, prasangka, dan dinding pertahanan tebal yang selama ini kamu kunci rapat di dalam dada telah runtuh tanpa sisa.
Jay melangkah setengah jengkal di depanmu, mengenakan jaket windbreaker gelap dengan ransel perbekalan di punggungnya. Setiap kali jalur menanjak curam, tangan kanannya yang kokoh selalu terulur ke belakang tanpa perlu diminta—menggenggam jemarimu erat, memastikan pijakanmu aman, dan menarikmu dengan kesabaran luar biasa.
Melihat punggung tegap pria itu, hatimu berdenyut perih sekaligus hangat. Selama sebulan penuh terisolasi di kaki gunung, Jay membuktikan segalanya tanpa banyak kata. Bagaimana ia menelan setiap amarahmu tanpa sekalipun membalas dengan bentakan, bagaimana ia meredam sikap temperamentalmu dengan dekapannya yang tenang, hingga kesediaannya untuk sepenuhnya pasrah dan tunduk di bawah kendalimu di atas ranjang setiap kali kamu butuh merasa berkuasa—semua itu membuka matamu. Jay bukan pria lemah yang mudah diperalat. Dia adalah pria berkuasa yang dengan sadar memilih untuk melucuti seluruh taringnya hanya demi membuatmu merasa aman. Antara cinta yang terlampau tulus atau obsesi gila yang tak kenal batas, Jay telah berhasil meruntuhkan hatimu seutuhnya.
Ketika langkah kalian akhirnya mencapai puncak bukit yang lapang dengan pemandangan lembah hijau membentang sejauh mata memandang, angin sejuk menyapu lembut helai rambutmu. Kamu tidak lagi menjaga jarak. Dengan gerakan alami yang kini terasa begitu bebas, kamu melingkarkan kedua lenganmu di pinggang Jay dari samping, menyandarkan pipimu di dadanya yang hangat seraya mendongak menatap rahang tegasnya.
“Jay,” panggilmu pelan, memecah keheningan alam yang damai.
Jay menunduk, satu tangannya merengkuh bahumu lebih rapat ke tubuhnya. “Hm? Capek?”
Kamu terdiam sejenak, menatap manik matanya yang jernih sebelum menarik napas panjang. “Waktu kita pulang nanti... aku bakal jaga sikap di depan keluarga dan orang-orang. Aku bakal jadi istri kamu seutuhnya, bukan cuma di atas kertas.” Kamu menjeda kalimatmu, membuang muka sedikit ke arah cakrawala dengan bibir yang sedikit mengerucut—menyembunyikan sisa gengsimu yang masih enggan runtuh total. “...karena ternyata, kamu berhasil bikin aku jatuh cinta sama kamu, Jay Park. Walaupun kamu nyebelin.”
Mendengar pengakuan yang meluncur tanpa paksaan itu, Jay sempat mematung. Udara di sekeliling kalian seolah berhenti berputar.
Rasa haru dan kehangatan yang luar biasa meledak seketika di balik rongga dada Jay. Seluruh jerih payah, tenaga, dan batas kesabarannya yang nyaris habis selama satu bulan penuh terbayar lunas dalam satu detik. Gadis ceria yang dulu ia rindukan kini kembali hadir di hadapannya—bahkan dengan kepribadian baru yang lebih jujur, meski masih menyimpan sedikit binar gengsi yang justru membuatnya berkali-kali lipat lebih menggemaskan.
“Sayang,” bisik Jay serak, suaranya sarat akan emosi yang bergetar.
Tanpa membiarkanmu berkata-kata lagi, Jay menangkup kedua pipimu dengan telapak tangannya yang hangat dan menarik wajahmu mendekat. Bibirnya menyambar bibirmu dalam satu ciuman yang begitu dalam, intens, dan menuntut—ciuman penuh rasa syukur dan cinta membuncah yang mengunci seluruh napasmu di puncak bukit yang sunyi itu.
Lidah Jay membelai dan menyesap bibirmu dengan dominasi lembut yang membuat kedua kakimu lemas seketika, memaksamu meremas erat kerah jaketnya agar tidak limbung. Setiap pagutan dan hisapannya terasa begitu panas, menegaskan kepemilikan mutlak yang kini kamu serahkan dengan sukarela.
Ketika Jay akhirnya melepas tautan bibir kalian, napasnya memburu di depan wajahmu. Matanya berkilat gelap penuh gairah yang tak lagi ia sembunyikan.
“Ayo balik ke villa sekarang,” bisik Jay rendah tepat di samping bibirmu yang kini basah dan membengkak kemerahan, lalu mengangkat tubuhmu ke dalam gendongannya tanpa menunggu persetujuan. “Karena setelah kamu ngomong kayak gitu... aku nggak yakin ranjang kita bakal punya waktu buat dingin hari ini.”
Matamu membelalak lebar, bibirmu terbuka hendak melayangkan protes keras atas tindakan impulsifnya. Namun, sebelum satu patah kata pun sempat lolos, Jay sudah lebih dulu mengunci posisimu dalam dekapannya, melangkah mantap menuruni lereng bukit dengan ketangkasan yang membuat seluruh suaramu tertelan kembali di kerongkongan. Kamu hanya bisa mencengkeram erat bahu kokohnya, menyembunyikan wajahmu yang memanas di lekuk lehernya sepanjang perjalanan kembali ke villa.
Begitu pintu kabin tertutup rapat dengan dentuman pelan, suasana hening pegunungan seketika terputus, berganti dengan atmosfer pekat yang sarat akan ketegangan dan desah napas yang memburu.
Jay tidak membuang waktu. Langkah kakinya yang panjang membawamu langsung menuju kamar utama. Tanpa ragu, ia merebahkan tubuhmu ke atas ranjang berbalut seprai satin gelap dengan kehati-hatian yang berpadu sempurna bersama desakan gairah yang tak lagi terbendung.
Kasur yang empuk membal memeluk punggungmu, namun sebelum kamu sempat bergeser atau sekadar menarik napas lega, bayangan tubuh tegap Jay sudah menaungi seluruh pandanganmu.
Kedua tangannya bertumpu kokoh di sisi kepalamu, mengunci setiap ruang gerakmu. Sorot matanya yang gelap dan intens menatapmu lekat-lekat—tatapan seorang pria yang telah menahan diri sekian lama dan kini siap menuntut seluruh haknya setelah pengakuan tulusmu di puncak bukit tadi.
“Jay...” bisikmu lirih, napasmu tercekat saat jemari dingin Jay menyentuh ritsleting jaketmu.
“Nggak ada bantahan lagi untuk hari ini, sayang,” potong Jay rendah, suaranya serak dan begitu bergetar oleh hasrat yang membakar. “Kamu yang bilang sendiri kalau kamu udah jatuh cinta sama aku. Dan sekarang, giliran aku yang buktiin seberapa dalamnya rasa itu.”
Dengan gerakan cekatan namun penuh kelembutan, Jay mulai melucuti setiap helai kain yang membungkus tubuhmu. Ritsleting jaket ditarik turun, disusul kemeja dan kaus tebal yang disingkirkan ke lantai satu per satu tanpa ampun. Setiap kali kulitmu yang halus terpapar udara sejuk kamar, bibir dan jemari hangat Jay langsung menyusul—memberikan sentuhan magis yang seketika membakar dinginnya udara menjadi gelombang panas yang memabukkan.
Sentuhan Jay menyapu dari puncak bahumu, menyusuri lekuk leher, tulang selangka, hingga turun ke pinggang rampingmu. Setiap jengkal yang ia lalui meninggalkan jejak sengatan listrik halus yang membuat otot-ototmu meremang nikmat.
Ciuman-ciuman panas Jay mendarat tanpa jeda di ceruk lehermu, menghirup aroma tubuhmu yang selalu membuatnya candu. Bibirnya menuntut, menyesap, dan memberi tanda kepemilikan baru di atas kulitmu yang memerah indah. Kali ini, tidak ada penolakan, tidak ada pertahanan arogan yang berusaha kamu bangun, dan tidak ada tuntutan untuk memaksanya tunduk. Tubuhmu meluruh sepenuhnya, menyambut setiap sentuhan dan dominasi Jay dengan kepasrahan yang manis.
Jemarimu bergerak naik, menyusup ke sela-sela rambut hitam Jay yang berantakan, menariknya semakin dekat saat pagutan bibir kalian kembali menyatu dalam ritme yang liar, menuntut, dan penuh luapan rindu yang selama ini terkunci rapat. Di atas ranjang kabin yang hangat di kaki gunung itu, batas antara gengsi dan kepatuhan lebur menjadi satu, mengantarkan kalian berdua ke dalam pusaran gairah yang membakar hingga sore menjelang.
Napasmu kian tersengal di bawah kurungan tubuh kokoh Jay. Seluruh ruang di dalam kamar itu seakan tersedot habis oleh hawa panas yang membakar setiap jengkal kulit kalian berdua. Seprai satin di bawah punggungmu terasa dingin, namun kontras itu justru membuat setiap sentuhan bibir dan tangan Jay membakar dua kali lebih dahsyat.
Bibir Jay belum melepaskan ceruk lehermu, menghirup aroma tubuhmu seraya memberikan lumatan-lumatan kecil yang basah dan menuntut. Namun perlahan, telapak tangannya yang besar dan hangat mulai bergeser turun dari pinggang rampingmu, menyusuri lekuk paha dengan gerakan teratur yang menyiksa akal sehatmu.
Sentuhan jemarinya yang terampil kini menyusup perlahan ke intimu yang sudah basah dan hangat.
“Jay...” bisikmu tercekat, jemarimu meremas erat sprei di samping kepalamu saat ujung jarinya mulai memberikan sentuhan lembut pertama di sana.
Jay tidak menjawab dengan kata-kata. Sorot matanya yang gelap dan sarat akan gairah menatap lurus ke dalam manik matamu, memastikan kamu melihat sendiri betapa ia memujamu seutuhnya. Jemarinya mulai bergerak—memutar, membelai, dan menekan titik sensitifmu dengan ritme yang begitu presisi dan penuh pengalaman.
Sensasi panas yang membuncah seketika menjalar dari pangkal pahamu, merambat cepat menyengat tulang belakang hingga membuat seluruh tubuhmu meremang nikmat. Gerakan tangannya yang semula lembut perlahan bertambah tempo, menuntut kepasrahan mutlak dari dirimu yang selama ini selalu berusaha memegang kendali.
“Ah... Jay... sshh...”
Lenguhan panjang akhirnya lolos tanpa bisa kamu tahan lagi dari sela bibirmu yang terbuka. Suaramu terdengar begitu manis dan bergetar di udara kamar yang hening, memecah sisa-sisa gengsimu berkeping-keping. Punggungmu melengkung naik secara refleks, mencari lebih banyak tekanan dari jemari hangat Jay yang kian lihai mengacak-acak kesadaranmu.
Mendengar suara pasrahmu yang begitu merdu, seringai puas terbit di sudut bibir Jay. Ia menundukkan kepalanya, menyambar bibirmu dalam ciuman dalam yang meredam desahan-desahan berikutnya, sementara tangannya terus memacu ritme di bawah sana—menggiringmu semakin dekat menuju tepi jurang kenikmatan yang memabukkan.
Tekanan jemari Jay kian meningkat, bergerak tanpa ampun memburu setiap titik sensitifmu dengan presisi yang menghancurkan sisa-sisa kewarasanmu. Gesekan yang semakin cepat dan basah menimbulkan suara kecipak halus yang memicu rasa malu sekaligus gelombang panas yang tak tertahankan di sekujur tubuhmu.
“Jay... please... ah!”
Jeritan tertahan lolos saat ritme jemarinya mencapai puncak keliaran. Tubuhmu menegang kaku, otot-otot perutmu bergetar hebat, dan dalam hitungan detik, gelombang kenikmatan yang luar biasa dahsyat meledak di seluruh sarafmu. Kamu pejamkan mata rapat-rapat seraya melengkungkan punggung, menumpahkan pelepasan yang begitu intens tepat di atas jemari pria itu. Napasmu terputus-putus, dadamu naik-turun memburu saat sensasi kebas dan kenikmatan perlahan merambat turun ke ujung-ujung jemari kakimu.
Jay menatapmu dengan sorot mata yang menggelap pekat—tatapan predator yang baru saja berhasil melumpuhkan mangsanya. Ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai puas yang sangat berbahaya. Ia menarik tangannya perlahan, menatap jejak basah bukti kepasrahanmu, lalu membungkuk dan mengecup pelipismu yang berpeluh dingin.
“Good girl,” bisik Jay dengan suara baritonnya yang serak dan berat, sarat akan pujian yang membuat wajahmu yang basah oleh keringat kembali terbakar panas. “Tapi kita baru mulai, sayang.”
Tanpa memberimu jeda untuk mengumpulkan kembali energimu yang terkuras, Jay menarik kedua pergelangan kakimu, menuntun kakimu terbuka lebar ke sisi kanan dan kiri tubuhmu. Ia meraih kedua tanganmu yang lemas, meletakkannya di atas pahamu sendiri, menuntutmu untuk menahan posisimu sendiri dalam kepasrahan yang telanjang di bawah kuasanya.
“Pegang pahamu sendiri. Jangan ditutup,” titah Jay rendah dan tegas, suaranya mengandung otoritas mutlak yang tak memberi celah untuk bantahan sekecil apa pun. “Biarkan aku lihat semuanya. Buka dadamu, tatap mataku.”
Posisi yang begitu terbuka dan rentan itu membuat jantungmu berdegup kencang hingga terasa ingin melompat keluar dari rongga dada. Gaun tidur sutra yang telah tersingkap sepenuhnya membuat dadamu yang naik-turun terekspos jelas di bawah tatapan lapar Jay. Tidak ada lagi benteng pertahanan, tidak ada lagi rasa gengsi, dan tidak ada lagi ruang untuk mendominasi seperti yang biasa kamu lakukan. Kamu sepenuhnya berada di bawah belas kasihan pria ini.
Jay bergerak maju, memosisikan tubuh tegapnya tepat di antara kedua pahamu yang terbuka. Otot-otot punggung dan lengannya menegang sempurna, urat-uratnya mencuat jelas saat ia menumpukan berat badannya di atas ranjang. Matanya mengunci pandanganmu, menuntut kepatuhan total dari dirimu.
“From now on... All control is in me,” bisik Jay tepat di depan bibirmu sebelum ia menyatukan tubuh kalian dalam satu sentakan yang dalam, tegas, dan tak terbendung.
Sensasi penuh yang mendesak masuk seketika merampas seluruh udara dari paru-parumu.
“Ahhh—Jay!”
Kamu memekik seraya mencengkeram kuat pahamu sendiri, berusaha menahan guncangan yang menghantam seluruh inti tubuhmu. Jay tidak memberi ruang untuk beradaptasi. Selama berminggu-minggu ia dengan sabar menahan diri, membiarkanmu bersikap arogan dan mendiktenya di atas ranjang, namun kini, seluruh taring dan naluri liarnya lepas tanpa batas.
Jay mulai menghujam dengan ritme yang dalam, bertenaga, dan menuntut. Setiap dorongannya menghantam titik terdalam dengan kekuatan yang membuat ranjang kayu kabin berderit pelan mengikuti irama gerakan tubuhnya.
Tubuhmu tersentak maju-mundur di atas seprai satin yang licin. Dadamu yang terbuka berguncang seirama dengan napas Jay yang memburu panas di ceruk lehermu. Rasa dominasi pria itu begitu pekat dan mutlak, membuatmu merasa begitu kecil sekaligus begitu terlindungi dalam dekapannya yang perkasa.
“Eyes on me, (Y/N),” tuntut Jay serak di sela hentakan tubuhnya yang semakin intens. Tangannya yang besar bergerak ke atas, mencengkeram rahangmu dengan jemari yang menekan tegas, memaksamu membuka mata dan menatap binar matanya yang berkabut gairah liar. “Tell me who you belong to now.”
“Jay...Yours... nggh... I’m yours...” rintihmu di antara desahan yang putus-putus, menyerahkan seluruh harga dirimu ke dalam kuasanya.
Pengakuan pasrah yang keluar dari bibirmu menjadi pemantik api yang membakar sisa-sisa kendali Jay. Gerakannya kian tak kenal ampun, memacu tempo ke batas maksimal dengan kekuatan yang menghimpit seluruh kesadaranmu. Keringat yang menetes dari pelipis Jay jatuh membasahi dadamu yang telanjang, membaur bersama hawa panas yang membakar ruangan itu menjadi neraka kenikmatan.
Setiap hentakannya terasa begitu dalam dan mengunci, menenggelamkanmu ke dalam pusaran gairah yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya. Jemarimu yang semula memegang paha akhirnya terlepas, naik mencakar punggung kokoh Jay saat gelombang klimaks kedua kembali merayap naik, lebih dahsyat dan lebih liar dari yang pertama.
“Jay... nggak kuat... Jay!”
“Sama-sama, sayang... lepasin bareng aku,” geram Jay dengan suara parau yang begitu dominan.
Dengan beberapa dorongan terakhir yang luar biasa dalam dan bertenaga, Jay membenamkan dirinya seutuhnya, menyalurkan seluruh pelepasan dan cintanya yang membuncah ke dalam dirimu saat tubuh kalian berdua kejang bersamaan dalam satu ledakan kenikmatan yang melumpuhkan akal sehat.
Napas kalian berdua beradu berat dan terengah-engah di tengah keheningan kamar yang hanya diselimuti cahaya temaram senja di kaki gunung. Jay meluruhkan tubuhnya yang basah oleh peluh di atas tubuhmu, memelukmu begitu erat seolah ia tak akan pernah membiarkanmu lepas lagi dari hidupnya.
Napasmu masih berhamburan pendek, dada kalian berdua masih kembang kempis beradu peluh, tetapi hawa panas di ruangan itu belum menunjukkan tanda-tanda akan mendingin. Sentakan pelepasan pertama baru saja mereda, namun Jay sama sekali tidak berniat mengakhiri permainan.
Sebelum kamu sempat mengumpulkan sisa tenagamu untuk sekadar bergeser, tangan besar Jay yang hangat dan basah oleh keringat menyusup ke bawah pinggangmu. Dengan satu gerakan tegas tanpa bantahan, ia membalikkan tubuhmu hingga tertelungkup di atas kasur berantakan.
“Jay... tunggu, sebentar...” rintihmu serak, wajahmu terbenam separuh di bantal yang lembap oleh peluh.
“Nggak ada istirahat, sayang,” bisik Jay dingin bercampur serak tepat di daun telingamu.
Kedua telapak tangannya mencengkeram pinggulmu kuat-kuat, menarik tubuh bagian bawahmu terangkat naik hingga kamu berada dalam posisi menungging, sementara dadamu tertahan rendah menempel di atas kasur. Posisi itu membuat lekuk tubuhmu terekspos sempurna dan begitu rentan di bawah kendali penuh pria itu.
Jay mencondongkan tubuhnya ke depan, menempelkan dada bidangnya yang berpeluh ke punggungmu yang meliuk pasrah. Satu tangannya bergerak ke depan, mencengkeram rahangmu dari samping dan memiringkan wajahmu agar ia bisa melumat bibirmu yang terbuka dalam ciuman kasar yang menuntut.
“Tahan posisimu,” perintah Jay rendah dengan getaran suara yang sarat akan dominasi absolut.
Tanpa jeda lebih lama, Jay kembali menyatukan tubuh kalian dari belakang dengan satu dorongan yang jauh lebih dalam dan menukik tajam dibanding sebelumnya.
“Ahhh—Jay!”
Jeritan tertahan lolos seketika dari tenggorokanmu, kedua tanganmu meremas seprai satin erat-erat saat sensasi penuh yang baru menghantam titik terdalammu. Sudut yang menukik membuat setiap pergerakannya terasa berkali-kali lipat lebih intens dan mengunci.
Jay tidak membuang waktu. Tangannya yang bebas beralih mencengkeram pinggang rampingmu, menjadi jangkar saat ia memacu ritme dengan hentakan-hentakan yang dalam, tegas, dan tak memberi ampun. Setiap benturan tubuhnya yang kokoh ke pinggulmu mengirimkan gelombang kenikmatan yang menyengat hingga ke ujung saraf, membuat punggungmu melengkung gemetar tanpa daya.
“Jay... pelan... sshh...” rengekmu pasrah, napasmu terputus-putus seiring ranjang kayu yang kembali berderit mengikuti ritme liarnya.
Alih-alih melambat, Jay justru semakin mempercepat temponya. Tangan kirinya bergerak naik menyusuri punggungmu yang basah, menyisipkan jemarinya ke sela-sela rambutmu untuk menarik kepalamu sedikit mendongak, memperlihatkan betapa kamu telah sepenuhnya takluk di bawah kuasanya.
“Say it again,” geram Jay di sela napasnya yang memburu panas di tengkukmu. “Who’s in control now?”
“Y-you... Jay... just you...” rintihmu di antara desahan yang meluap bebas, menyerahkan seluruh harga diri dan tubuhmu ke dalam genggaman pria yang kini memimpin segalanya tanpa celah perlawanan sedikit pun.
Suara benturan kulit yang beradu kencang memenuhi seisi kamar kabin yang remang. Bunyi basah yang berulang dan tegas itu berpadu dengan derit ranjang kayu yang berguncang tak henti, menciptakan atmosfer yang semakin pekat dan memabukkan. Setiap sentakan Jay terasa begitu dalam dan bertenaga, menghantam titik terdalammu tanpa memberi celah sedikit pun untuk menarik napas.
Tubuhmu bergetar hebat di bawah cengkeraman tangannya yang kokoh. Jemari Jay yang kekar terjalin kuat di sela-sela rambutmu, menarik kepalamu ke belakang dengan tarikan yang presisi—cukup kuat untuk memaksa lehermu terentang dan wajahmu mendongak pasrah ke atas. Tarikan itu menghantarkan sengatan rasa perih yang berpadu dengan gelombang kenikmatan dahsyat, membuat kesadaranmu meleleh hingga pandangan matamu memburam ke atas dan bibirmu terbuka lebar tanpa daya, membiarkan lidahmu sedikit menjulur dalam ekspresi pasrah yang kacau.
“Jay... ahh! Jay... sshh...”
Suaramu melengking di antara desahan yang tak lagi dapat kamu redam. Rintihanmu memenuhi udara, memanggil namanya berulang kali seiring ritme liar yang ia paksakan dari belakang. Akal sehatmu telah runtuh seutuhnya di bawah dominasi pria itu.
“Jay... Daddy... please, faster...”
Panggilan yang meluncur tanpa sadar dari bibirmu yang bergetar seketika membakar habis sisa kendali diri Jay. Geraman rendah dan berat lolos dari tenggorokan pria itu. Permintaanmu yang memohon dengan nada begitu memelas dan pasrah menjadi bahan bakar yang membuat nafsunya meledak seketika.
Plak!
Telapak tangan besar Jay yang panas mendarat telak di kulit bokongmu, meninggalkan sengatan perih yang tajam dan rona merah pekat di sana. Alih-alih meredupkan gairahmu, hantaman itu justru mengirimkan gelombang kejut yang membuat bagian intimu berdenyut semakin kencang, menjepit miliknya lebih erat.
Tanpa membuang waktu, Jay memacu temponya hingga ke batas maksimal. Hentakannya berubah menjadi lebih cepat, keras, dan tak kenal ampun. Ranjang kayu berderit liar seirama dengan kecepatan gerakannya yang mengunci setiap sendimu.
Tangannya yang bebas bergerak menyusup ke depan, melingkari tubuh bagian atasmu dan meremas payudaramu dengan cengkeraman yang kuat dan menuntut, sementara tangan satunya tetap mempertahankan tarikan di rambutmu—menahan posisimu agar tetap mendongak dan menerima setiap hantaman tanpa bisa menghindar.
Dua sensasi yang datang bersamaan—remasan di dadamu dan tarikan di rambutmu—membuatmu sepenuhnya tenggelam ke dalam pusaran kenikmatan yang ia ciptakan. Kamu tidak lagi berusaha melawan atau menolak, kamu meliukkan pinggulmu mengikuti irama liarnya, menuntut lebih banyak tekanan, dan menyerahkan dirimu seutuhnya pada permainan Jay yang membakar hingga ke puncak pelepasan berikutnya.
Gelombang kenikmatan yang begitu pekat merayap naik dari ujung kaki, memelintir sekujur sarafmu hingga ke puncak kepala. Sensasi itu berputar-putar di ambang batas kesadaran, mendesak minta dilepaskan dalam ledakan yang dahsyat. Napasmu tersengal putus-putus, matamu terpejam rapat dengan air mata peluh yang menggenang di pelupuk mata.
“Jay... please... aku mau cum... hiks, Jay...” rintihmu di sela isakan kecil, pinggulmu bergerak liar mencoba menjemput pelepasan yang sudah berada di ujung mata.
Namun, tepat saat tubuhmu bersiap meledak, Jay tiba-tiba menghentikan seluruh gerakannya.
Cengkeraman tangannya di pinggulmu mengerat bagai besi, menahan tubuhmu agar terkunci di tempat. Ia menarik diri perlahan, memutus tempo liar yang sedari tadi membakar kalian berdua, menyisakan kekosongan yang langsung membuatmu merengek frustrasi.
“No, not yet,” bisik Jay berat, napasnya memburu panas tepat di tengkukmu. Suaranya terdengar serak, mutlak, dan sama sekali tidak memberi ruang untuk membantah. “Aku belum kasih izin buat kamu lepas.”
“Jay... please...” rengekmu semakin menjadi, tubuhmu bergetar hebat menahan gejolak puncak yang tertahan paksa. Sensasi menggantung itu terasa begitu menyiksa sekaligus memabukkan.
Alih-alih melunak, Jay justru kembali menghujamkan tubuhnya dengan satu dorongan dalam yang telak mengenai titik terdalammu.
Ahhh!
Hentakan tunggal yang penuh perhitungan itu berhasil membuat seluruh pertahananmu runtuh seketika. Jay tidak memberimu ampun; ia kembali memacu ritmenya dengan kecepatan tinggi, menguras sisa-sisa tenaga yang kamu miliki hingga kamu hanya bisa pasrah, meneriakkan namanya berulang kali di tengah cengkeraman tangannya yang semakin menguasai setiap jengkal tubuhmu.
Hawa panas di kamar kabin yang remang semakin membakar pekat, seolah setiap jengkal udara telah habis terbakar oleh nafsu dan peluh yang membanjiri tubuh kalian berdua. Ranjang kayu di bawahmu berderit kencang tanpa jeda, mengiringi ritme hentakan Jay yang semakin bertenaga, keras, dan tak memberi ruang sedikit pun untukmu bernapas bebas.
Ketika tubuhmu masih gemetar hebat menahan gelombang puncak yang ia tahan paksa, Jay mencondongkan tubuhnya ke depan. Dada bidangnya yang basah oleh keringat menempel rapat di punggungmu, memerangkapmu seutuhnya dalam kuasanya. Bibirnya yang panas menyapu daun telingamu, lalu bibir itu berbisik dengan suara bariton yang terlampau serak dan begitu kotor.
“Feel this, honey... feel how narrow and hot you are every time I enter this deep,” bisik Jay dengan nada rendah yang dipenuhi kepuasan maskulin, hembusan napasnya yang panas membakar kulit lehermu. “Jepitanmu di dalam sini nggak pernah mau ngelepasin aku. Tubuh kamu sendiri yang ngaku seberapa enaknya dijajah kayak gini.”
Kata-kata kasar yang meluncur tanpa filter dari bibir pria berwibawa itu menghancurkan seluruh sisa rasa malumu. Kalimat-kalimat kotor yang ia bisikkan tepat di telingamu menyulut api baru yang sepuluh kali lipat lebih dahsyat di dalam sarafmu. Sensasi perih, kenikmatan yang memabukkan, dan rasa tak berdaya berpadu menjadi satu, memancing isak tangis dan air mata yang mengalir deras membasahi pipimu.
“Jay... hiks... Jay, nggak kuat...” kamu terisak tanpa daya, menangis di antara desahan panjang yang melengking memenuhi seisi kamar. “Too deep... enak banget, Jay... please...”
“Keep crying like this, call my name,” perintah Jay tanpa ampun.
Bukannya memperlambat, Jay justru semakin mempercepat temponya hingga ke batas liar. Satu tangannya yang kekar tetap menjambak rambutmu ke belakang, menahan wajahmu yang basah oleh air mata dan peluh agar tetap mendongak, sementara tangannya yang lain melingkari pinggang rampingmu, menarikmu ke belakang setiap kali tubuhnya menghujam ke depan.
Suara benturan kulit yang basah dan keras bergema bertubi-tubi di udara hening kaki gunung. Setiap sentakannya menukik tajam mengenai titik paling sensitifmu, mengguncang seluruh persendianmu hingga pandangan matamu memburam total. Rasa gila yang mendera membuatmu tak lagi peduli pada apa pun selain kepuasan mutlak yang pria ini paksakan ke dalam dirimu.
“Jay! Ahhh... Jay, daddy!” jeritmu histeris, suaramu pecah dan serak di tengah deru napas liar yang saling beradu. Kamu meliukkan pinggulmu dalam kepasrahan penuh, menyambut setiap hantaman kasarnya yang kian menggila tanpa henti.
Melihat ekspresi wajahmu yang hancur dalam kenikmatan mutlak dan mendengar jeritan pasrahmu yang memanggil namanya, kendali Jay akhirnya runtuh seutuhnya. Dengan beberapa dorongan terakhir yang luar biasa dalam dan bertenaga, Jay membenamkan miliknya sampai ke batas paling ujung.
“Sekarang... lepas bareng aku!” geram Jay dengan raungan berat di tengkukmu.
Bersamaan dengan runtuhnya izin dari Jay, bendungan kenikmatan di dalam dirimu meledak dalam satu ledakan klimaks yang paling dahsyat dan mematikan. Tubuhmu kejang hebat, dinding-dinding intimu menjepit erat miliknya yang berdenyut panas, menenggelamkan kalian berdua dalam pelepasan yang membakar hingga ke sumsum tulang sebelum akhirnya tubuh kalian luruh lemas, terhempas tak berdaya di atas ranjang yang kacau.
to be continued
ah mantap daddy 🤤💦
No posts

Comments
Nothing yet. Say the first thing.
Sign in to join the conversation.