jangan lupa like
Keningmu berkerut dalam. Pertanyaan Riki menggantung di udara seperti asap rokok tipis yang sulit ditangkap maknanya tapi menyesakkan dada.
“Maksud lo apa?” suaramu keluar serak, tenggorokanmu terasa kering setelah jam-jam panjang yang menguras habis energimu. “Kalau mau ngomong, langsung to the point. Otak gue terlalu capek buat nebak teka-teki lo.”
Riki tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya terangkat sedikit, senyuman samar yang tidak sampai ke matanya. Tatapan pria itu meredup, menyimpan ribuan cerita yang sengaja ia kunci rapat di balik ekspresi datarnya yang tenang.
Riki tahu persis apa yang ada di dalam kepalamu: hampa.
Dia tahu betul serpihan ingatanmu yang berantakan, trauma masa lalu yang begitu kelam hingga sistem sarafmu memilih mekanisme pertahanan paling ekstrem—dissociative amnesia. Kamu hampir melupakan seluruh fase hidupmu sebelum usia dua puluh, sebelum tragedi menenggelamkan keluargamu, sebelum kamu putus kuliah dan terpaksa hidup sebatang kara di tengah kejamnya dunia malam. Yang tersisa di kepalamu hanyalah sisa-sisa trauma samar dan dorongan kuat untuk bertahan hidup demi uang.
Riki mengulurkan tangan, mengambil segelas air mineral hangat dari nakas di samping ranjang, lalu menyodorkannya ke depan bibirmu.
“Minum dulu,” ucapnya santai, nada suaranya berubah datar seolah pertanyaannya tadi hanya candaan angin lalu. “Nggak usah dipikirin. Anggap aja gue cuma lagi sok puitis.”
Kamu menatap gelas itu ragu sebelum akhirnya menerimanya dan meneguknya hingga tandas. Rasa dingin di tenggorokanmu sedikit mengembalikan kesadaranmu. Kamu menyibak selimut sutra, mencoba menurunkan kedua kakimu ke lantai marmer yang dingin. Namun baru saja telapak kakimu menapak, otot paha dan persendianmu langsung bergetar hebat, memaksamu kembali terduduk di tepi ranjang dengan ringisan pelan.
“Jangan dipaksain,” kata Riki dingin, berdiri dari posisinya dan melangkah mengambil mantel panjang tebal berbahan wol hitam milikmu dari gantungan baju. “Kamera kru udah beres ngedit rough cut di ruangan sebelah. Tiga hari lagi videonya tayang di platform privat agensi lo.”
Kamu menoleh cepat. “Tiga hari? Bukannya jadwal rilis biasanya dua minggu?”
“Gue bayar biaya percepatan produksi dan hak distribusi eksklusif,” sahut Riki santai sembari menyampirkan mantel itu ke pundakmu yang terekspos. “Dan minggu depan, kita ada jadwal syuting kedua. Di villa pribadi gue di pinggiran kota.”
“Tunggu dulu—” kamu menepis pelan tangannya yang merapikan kerah mantelmu. “Gue belum tanda tangan kontrak buat sekuel atau syuting lanjutan sama lo. Manajer gue belum bilang apa-apa.”
“Jake udah setuju satu jam yang lalu, waktu lo masih pingsan,” potong Riki, suaranya tenang tanpa nada bersalah sedikit pun. “Uang muka kontrak kedua udah masuk ke rekening manajemen lo.”
Riki membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya denganmu. Manik matanya yang tajam mengunci pandanganmu rapat-rapat.
“Makanya, jaga kondisi lo seminggu ini. Makan yang bener, tidur cukup. Gue nggak mau minggu depan lo tumbang lagi di ronde kelima kayak tadi,” bisiknya rendah, sarat akan tuntutan yang tak terbantahkan. “Gue bayar lo mahal bukan buat ngeliat lo pingsan di tengah jalan.”
Rasa kesal mendidih di dadamu. Kamu meraih tas tanganmu, berniat berdiri dan segera keluar dari ruangan itu. “Urusan fisik gue, gue yang atur. Sekarang gue mau balik.”
“Gue anter.”
“Nggak usah,” tolakmu cepat dan tegas. “Jake udah nyiapin sopir panggilan buat jemput gue di lobi bawah. Gue bisa pulang sendiri.”
Riki menghela napas pendek, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana panjangnya. Langkah kakinya bergerak pelan menghalangi jalan keluar menuju pintu kamar VIP. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat ruangan itu mendadak terasa sempit kembali.
“Pilihan pertama,” kata Riki dengan intonasi yang begitu manis, teratur, namun sarat nada intimidasi yang sangat halus. “Lo jalan bareng gue lewat lift VIP langsung ke parkiran bawah, naik ke mobil gue, dan gue anter lo sampai depan pintu apartemen lo dengan aman.”
Kamu menatapnya tajam. “Pilihan kedua?”
“Pilihan kedua,” seringai tipis kembali muncul di sudut bibir Riki, matanya menatap bibirmu yang masih bengkak sebelum kembali menatap matamu. “Gue telepon Jake sekarang, gue batalin sopir sewaan lo, gue kunci pintu ini lagi, dan kita lanjutin sesi kita malam ini sampai pagi tanpa kamera. Gimana?”
“Lo gila, Riki,” desismu tertahan. “Lo nggak bisa ngatur gue di luar kontrak kerja!”
“Kontrak kerja lo udah ada di tangan gue untuk sebulan ke depan, (Y/N),” balas Riki tenang, melangkah satu langkah lebih dekat hingga aroma tembakau manisnya kembali menyergap inderamu. “Dan lo tahu persis gue bukan cuma sekadar partner kerja lo di atas ranjang mulai malam ini. I’m in control.”
Manipulasi dalam suaranya begitu halus dan terstruktur, menjebakmu di sudut tanpa ruang gerak. Kamu tahu betul kamu tidak punya kekuatan fisik untuk melawan, apalagi dengan kondisi tubuhmu yang masih lemas akibat perbuatannya tadi. Riki mengulurkan tangannya yang kokoh ke hadapanmu, membuka telapak tangannya menunggu tanggapanmu.
“Ayo,” bisik Riki dengan senyum miring yang penuh kemenangan. “Mobil gue udah nunggu di bawah.”
Pandanganmu terpaku pada telapak tangan Riki yang terulur di depan wajahmu. Urat-urat di punggung tangannya tercetak jelas di bawah temaram lampu meja. Di kepala, kamu memaki habis-habisan sikap arogannya, tapi tubuhmu yang babak belur akibat syuting maraton empat jam tadi tidak punya energi untuk berdebat panjang lebar.
Memilih opsi kedua sama saja menyerahkan diri untuk dihancurkan lebih jauh di atas ranjang tanpa kamera. Dengan napas tertahan dan dengusan kesal yang sengaja kamu buat kentara, kamu mengabaikan telapak tangannya. Kamu memilih berjalan melepas mantelmu melewati tubuhnya begitu saja, melangkah gontai menuju pintu keluar dengan sisa tenaga yang ada.
“Jalan aja sendiri ke parkiran,” ketusmu tanpa menoleh.
Riki tidak tersinggung. Di belakangmu, dia justru terkekeh rendah—tawa pendek yang menandakan kepuasan mutlak karena kamu secara tidak langsung telah menyetujui kemauannya. Dia melangkah menyusulmu dengan santai, langkah kakinya yang panjang dengan mudah menyamai ritmemu yang lambat.
Lift VIP meluncur turun tanpa hambatan menuju area parkir bawah tanah yang sepi dan terisolasi dari lobi utama. Di sudut parkiran privat, sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik sudah menyala dengan kaca gelap tanpa celah pandang dari luar.
Riki membukakan pintu penumpang depan untukmu. Begitu kamu masuk dan menjatuhkan tubuhmu ke jok kulit yang empuk dan berpemanas, rasa hangat seketika menyelimuti tubuhmu yang kaku kedinginan. Riki menutup pintu dari luar, memutari moncong mobil, lalu masuk ke kursi kemudi.
Begitu mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang menjelang dini hari, keheningan tebal mengisi kabin mobil. Aroma di dalam kendaraan itu sama persis dengan aroma tubuh Riki—perpaduan tembakau manis, leather, dan aroma hujan malam yang menempel samar di kaca jendela.
“Lo tahu apartemen gue dari mana?” tanyamu memecah keheningan, matamu menatap lurus ke jalan tol layang di depan tanpa menatapnya. “Jake bahkan nggak pernah ngasih alamat pribadi talent-nya ke klien.”
Riki mengendalikan kemudi hanya dengan satu tangan santai, sementara tangan kirinya bertengger di tuas transmisi.
“Gue tahu semua hal yang perlu gue tahu tentang lo, (Y/N),” jawab Riki datar tanpa menoleh sedikit pun. “Termasuk fakta kalau lo suka beli kopi dingin jam dua pagi di minimarket bawah apartemen lo kalau lagi nggak bisa tidur.”
Jantungmu mencelus sesaat. Bulu kudukmu meremang halus di balik mantel tebal.
“Lo nguntit gue?” desismu menoleh tajam ke arah profil samping wajahnya yang tegas diterpa lampu jalanan.
Riki tersenyum tipis—senyum misterius yang membuatmu semakin tidak tenang.
“Bukan nguntit. Cuma memastikan investasi gue tetap aman di tempatnya,” sahutnya dengan nada manipulatif yang begitu halus, melirikmu sekilas sebelum kembali fokus ke jalan raya. “Di industri kayak gini, orang gampang hilang arah. Gue cuma memastikan lo nggak kemana-mana sampai waktu yang tepat.”
“Investasi?” kamu mencibir getir. “Gue cuma partner syuting lo buat satu bulan ke depan, Riki. Jangan bertindak seolah-olah lo punya hak atas hidup gue di luar kamera.”
Riki tidak membalas cibiranmu dengan amarah. Sebaliknya, mobil mulai melambat saat memasuki gerbang kompleks apartemen mewaheksklusif tempatmu tinggal. Dia membelokkan mobil dengan mulus, berhenti tepat di depan lobi utama yang sepi penjaga.
Riki mematikan mesin mobil. Lampu kabin otomatis menyala redup, menerangi wajahmu yang pucat dan bibirmu yang masih membengkak merah. Kamu langsung meraih tuas pintu untuk segera keluar dari atmosfer yang mencekik ini, namun sebelum tuas itu terbuka, mekanisme kunci sentral berbunyi nyaring.
Klik.
Pintu terkunci rapat.
“Riki, buka kuncinya,” pintamu dingin, menahan emosi yang mulai memuncak.
Riki melepas sabuk pengamannya, lalu memutar tubuhnya menghadapmu sepenuhnya. Dalam hitungan detik, jarak di antara kalian kembali terhapus. Tangan kokohnya terangkat, menyentuh dagumu dan memaksa wajahmu menoleh ke arahnya. Ibu jarinya yang kasar mengusap sudut bibir bawahmu yang merekah luka kecil akibat gigitan gairah tadi.
“Jangan pasang muka sedingin itu di depan gue,” bisik Riki rendah, tatapan matanya begitu pekat dan menuntut kepatuhan. “Tiga hari lagi video kita rilis. Semua orang bakal tahu siapa satu-satunya orang yang berhasil ngeruntuhin aturan lo.”
Napas hangatnya menyapu wajahmu. Tubuhmu yang masih mengingat dengan jelas bagaimana dominasi Riki di ranjang beberapa jam lalu seketika bereaksi di luar kendali—jantungmu berdegup liar.
“Dan ingat pesan gue,” lanjut Riki, suaranya melambat penuh penekanan saat jemarinya perlahan menyusup ke balik tengkukmu, mendekatkan wajah kalian hingga ujung hidung kalian bersinggungan. “Makan, istirahat, dan siapin mental lo buat minggu depan di villa gue. Karena apa yang lo rasain malam ini... cuma pemanasan dari apa yang bakal gue lakuin ke lo nanti.”
Sebelum kamu sempat membantah atau mendorongnya, Riki mengecup bibirmu sekali lagi—singkat, basah, dan sarat akan kepemilikan mutlak. Setelah melepaskan tautan bibir itu, Riki menekan tombol pembuka kunci pintu dengan senyum miring yang puas.
Klik.
“Selamat malam, (Y/N). Sampai ketemu di villa minggu depan... atau lebih tepatnya 10 hari dari sekarang”
🔥
Suara pintu apartemen yang tertutup rapat seketika memutus udara dingin malam dan bayang-bayang Riki dari pandanganmu.
Langkahmu gontai menyeret kaki menuju kamar mandi. Guyuran air hangat yang jatuh dari shower membasahi rambut dan mengalir di sekujur kulitmu, tapi bukannya menenangkan, sentuhan air itu justru membuat bekas-bekas cumbuan dan gigitan halus Riki terasa perih menyengat. Sendi-sendi kakimu gemetar hebat. Begitu selesai membalut tubuh dengan jubah tidur tipis, kamu langsung menghempaskan diri ke atas kasur empuk berseprai abu-abu gelap.
Sebuah erangan panjang dan tertahan lolos dari bibirmu yang berdenyut. Rasa nyeri di pinggul, pegal di seluruh otot paha, dan lelah batin yang menumpuk membuatmu menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa. Ini adalah kali pertama sepanjang enam tahun kariermu di dunia hiburan malam kamu benar-benar membenci pekerjaan ini.
Selama bertahun-tahun, kamu membangun citra sebagai performer kelas atas yang berjarak, elegan, dan punya batas mutlak yang tak bisa dibeli: tanpa ciuman, tanpa keterikatan emosional. Batasan itu adalah jangkar terakhir yang menjaga kewarasanmu dari rasa bersalah dan kotor. Tapi hanya dalam waktu satu malam, seorang pendatang baru bernama Riki meruntuhkan reputasi dan benteng pertahanan itu sampai rata dengan tanah.
Ucapan Riki di studio dan di dalam mobil terus berputar bagai kaset rusak di kepalamu.
“Menurut lo, pertemuan kita di bar tadi beneran cuma kebetulan?”
“Gue tahu semua hal yang perlu gue tahu tentang lo...”
Bulu kudukmu meremang. Caranya bicara, tatapan matanya yang terlalu mendalam, hingga detail kebiasaanmu yang dia ketahui di luar kepala—semuanya bukan kebetulan klien yang sedang beruntung. Riki terasa seperti stalker berdarah dingin yang sudah menargetkanmu sejak lama. Setiap jengkal kejadian malam ini, mulai dari jebakan sepuluh detiknya sampai pemaksaan ciuman di depan kamera, terasa seperti skenario yang sudah dirancang rapi bertahun-tahun. Ditambah lagi, prinsip kerjamu yang tidak pernah mengambil klien yang sama lebih dari sekali kini dipaksa patah begitu saja.
Merasa kepalamu makin mendidih, kamu bangkit dari kasur dan menyeret langkah menuju dapur. Kamu membuka pintu kulkas, menuang air mineral dingin ke dalam gelas kaca, lalu meneguknya rakus berharap suhu beku itu bisa membekukan kecemasan yang bergolak di dadamu.
Pip-pip-pip-pip—Cklek.
Belum sempat kamu meletakkan gelas kembali ke atas meja marmer dapur, pintu depan apartemenmu terbuka kasar.
Jake masuk dengan langkah terburu-buru, membawa angin malam bersamanya. Jaket bomber sutranya masih melekat berantakan, dan senyum lebar yang luar biasa sumringah terpatri di wajah blasterannya. Begitu matanya menangkap sosokmu yang berdiri di dekat konter dapur, dia langsung menghambur mendekat.
“(Y/N)! Oh my God, you did it!“ seru Jake histeris tanpa aba-aba.
Kedua tangannya langsung merengkuh pundakmu, menarikmu ke dalam pelukan erat, lalu menghujani pipi kanan dan kirimu dengan ciuman kegirangan khas seorang manajer yang baru saja memenangkan lotre triliunan rupiah.
“Jake, lepas! Sakit, bego!” kamu mendorong dadanya dengan sisa tenagamu, membuat pria itu mundur selangkah sambil tertawa lepas tanpa rasa bersalah.
“Gue baru aja beres nonton rough cut dari sutradara barusan di kantor,” mata Jake berbinar-binar penuh ambisi, napasnya memburu antusias. “Gila, man! Gila! Rekamannya luar biasa erotis. Gue sampai nggak percaya lo akhirnya ngasih akses bibir lo di depan kamera! Penonton bakal bayar harga tiket VIP tiga kali lipat cuma buat nonton adegan ciuman lo sama cowok itu!”
Darahmu seketika naik ke ubun-ubun. Amarah yang sedari tadi kamu tahan di dalam mobil Riki meledak ke permukaan.
“Lo bangga gue diobrak-abrik kayak gitu?!” desismu tajam, matamu berkilat marah. “Lo tahu aturan gue, Jake! Gue nggak pernah mau ciuman di depan kamera, dan gue NGGAK PERNAH mau main sama klien yang sama dua kali! Terus kenapa lo seenak jidat tanda tangan kontrak buat seminggu ke depan dan sebulan penuh sama Riki tanpa ngomong sepatah kata pun ke gue?!”
Kamu membanting gelas kosong ke atas konter dengan bunyi denting keras.
“Dia itu nggak beres, Jake! Lo sadar nggak siapa yang lo jualin gue ke dia?!”
Menghadapi luapan amarahmu, Jake tidak ikut terpancing meninggikan suara. Sebagai manajer sekaligus mentor yang mendampingimu sejak hari pertama menapaki dunia malam, dia terlalu mengenal ritmemu luar dan dalam. Jake paham betul cara meredakan ketegangan di antara kalian dalam hitungan detik.
Raut wajahnya melunak, menanggalkan topeng profesionalnya dan menggantinya dengan ekspresi hangat yang tulus. Dia melangkah maju perlahan tanpa kesan mengancam, mengangkat kedua tangannya ringan sebagai tanda damai, lalu menumpangkan tangannya di kedua bahumu—memberikan sentuhan tenang yang perlahan membumikan seluruh emosimu.
“Hei, dengerin gue dulu. Tarik napas pelan-pelan,” nada bicara Jake berubah lembut namun sarat akan kesungguhan. “Gue minta maaf kalau keputusan gue terkesan mengabaikan posisi lo. Tapi beri gue kesempatan buat jelasin gambaran besarnya, (Y/N).”
Jake menatap tepat ke dalam matamu, memasang raut wajah penuh komitmen yang menuntut perhatian penuh darimu.
“Riki bukan cuma sekadar klien berduit yang pengen main-main. Dia investor strategis,” lanjut Jake dengan suara rendah dan terukur. “Nominal yang dia transfer tadi sore bukan sekadar jaminan royalti tertinggi yang pernah lo terima. Uang itu tiket kita buat bangun cabang nightclub baru di kawasan elit, sekaligus modal awal buat merintis bisnis legal yang dari dulu kita rancang bersama—langkah pertama kita buat lepas dari lingkaran hitam ini.”
Jake menyelipkan helai rambut basahmu ke belakang telinga dengan gerakan teramat hati-hati, menatapmu seolah seluruh masa depannya bertumpu pada pundakmu.
“Koneksi Riki ada di level yang nggak tersentuh, (Y/N). Lingkaran dia punya kuasa buat ngejaga kita dari aparat sampai kompetitor kotor. Kalau kita amankan kontrak satu bulan ini, hidup kita berdua berubah total. Lo nggak perlu lagi buang energi melayani orang asing tiap minggu setelah urusan ini selesai.”
Setiap kalimatnya terstruktur rapi, membungkus ambisi ekspansinya dalam ilusi kebebasan yang memang sudah lama kamu nantikan.
Kamu membisu, membiarkan keheningan mengambil alih. Logikamu bekerja cepat membaca celah dari tawarannya, namun keletihan fisik malam ini menuntut jeda sebelum kamu menyusun langkah berikutnya.
Melihat tensi di ruangan mulai mereda, senyum tipis terbit di wajah Jake. Dia mendaratkan kecupan ringan di keningmu, lalu merapikan kerah jubah tidurmu dengan gerakan penuh perhatian.
“Istirahat dulu, ya? Gue udah atur sarapan buat lo besok pagi,” bisiknya lembut, nada bicaranya kembali netral dan protektif. “Minggu depan di villa Riki, lo cukup jalanin sesuai porsi lo. Urusan teknis dan proteksi, serahin ke gue.”
Pintu apartemen berdebam pelan saat Jake melangkah pergi. Meninggalkanmu berdiri di tengah keheningan dapur—menakar taruhan besar antara rencana ambisius manajermu dan bayang-bayang kuasa Riki yang menantimu minggu depan.
tbc
No posts

Comments
Nothing yet. Say the first thing.
Sign in to join the conversation.