RSS Amplifier

Miciela's Universe · Aug 21, 2026

2 Relapse

0
Sign in to vote or save

𝐌𝐈𝐂𝐈𝐄𝐋𝐀 · Miciela's Universe

Lampu sorot utama dinyalakan. Warna merah temaram dan aksen neon biru menyinari ranjang besar di tengah ruangan studio, menciptakan bayangan sensual yang memikat di atas seprai sutra.

“Kamera satu, kamera dua... sound ready... rolling and action!“ seru sutradara dari balik monitor.

Seketika itu juga, tensi di atas ranjang langsung meroket naik. Di depan kamera, kamu adalah seorang profesional ulung yang tahu persis bagaimana cara menggerakkan tubuh, mencari sudut terbaik, dan mengekspresikan gairah tanpa cela. Riki menyusul ke atas ranjang, gerakannya luwes, mendominasi setiap jengkal ruang.

Tubuh kalian bergesekan tanpa sehelai benang pun yang menghalangi. Panas kulit Riki yang menempel di tubuhmu terasa membakar. Dia mencumbu lehermu, meninggalkan kecupan-kecupan basah dan gigitan lembut di sepanjang tulang selangka, lalu turun menyusuri lekuk tubuhmu dengan ritme yang lambat namun menuntut. Kamu membalas setiap sentuhannya, meremas bahunya yang kekar, membiarkan erangan halus keluar secara natural untuk kebutuhan audio rekaman.

Namun di balik chemistry panas yang terlihat sempurna di lensa kamera, ada perang dingin yang sedang berlangsung di antara kalian berdua.

Riki masih penasaran setengah mati.

Saat tubuhnya merangkak naik dan wajahnya mendekat—berniat menyatukan bibirnya ke bibirmu di tengah adegan—kamu dengan sangat halus memiringkan kepala ke samping, membiarkan bibir Riki hanya mendarat di garis rahangmu. Itu penolakan pertama. Halus, profesional, tapi sangat jelas: aturan tetap aturan.

Riki mendengus pelan di ceruk lehermu. Matanya berkilat menantang.

Beberapa menit kemudian, saat posisi berganti dan kamu berada di atasnya, Riki menangkup kedua pipimu, mencoba menarik wajahmu turun mendekat ke bibirnya. Untuk kedua kalinya, kamu menahan bahunya dengan kedua tanganmu, sengaja membuang muka ke arah kamera sambil mendesah sensual—mengabaikan bibirnya yang terbuka menunggumu. Penolakan kedua. Kru di balik kamera tahu betul aturan mainmu dan tidak heran, tapi bagi Riki, ini bukan lagi sekadar adegan syuting. Ini adalah pertaruhan ego.

Riki mengubah posisi dengan gerakan cepat dan mulus. Dia menarik tubuhmu dari belakang, membimbingmu duduk bersandar di dadanya yang telanjang. Satu lengannya yang kekar mengunci pinggangmu erat-erat, sementara tangannya yang lain naik menangkup dadamu, meremasnya dengan tekanan yang pas dan membuat napasmu tercekat seketika.

Napas hangat Riki berhembus terengah di daun telingamu.

“Lo keras kepala banget, ya?” bisiknya rendah, begitu pelan hingga mikrofon klip hanya menangkapnya sebagai bisikan gairah biasa.

Sebelum kamu sempat merespons, jari-jemari tangan Riki yang bebas meluncur turun ke bawah, melewati lekuk perutmu yang rata, lalu menyusup tepat di antara kedua paha bagian dalammu. Sentuhan pertamanya langsung tepat sasaran di titik paling sensitifmu.

Sentuhan jemarinya yang basah dan terampil mulai memainkan klitorismu dengan ritme melingkar yang intens. Tubuhmu tersentak ke belakang, punggungmu menempel erat di dada telanjang Riki saat gelombang kenikmatan menyengat langsung ke saraf pusatmu.

Di tengah desahan panjang yang lolos dari bibirmu, Riki kembali memiringkan wajahnya, berusaha mencium bibirmu dari samping. Namun dengan sisa tenaga dan kesadaran yang kamu miliki, kamu memalingkan wajahmu ke arah berlawanan, menyembunyikan bibirmu di balik lekuk bahu. Penolakan ketiga.

Seringai Riki semakin berbahaya di balik bayangan temaram. Alih-alih menyerah, Riki justru menaikkan tensi permainannya ke level yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya. Sentuhan jarinya di bawah sana bergerak semakin cepat, semakin dalam, dan semakin menekan dengan ritme yang begitu rapat dan bertenaga. Setiap gesekan dan tekanan yang dia berikan di titik kenikmatanmu dieksekusi dengan presisi luar biasa, membuat kedua kakimu bergetar hebat.

“R-riki...” suaramu tercekat, kehilangan kendali vokalnya.

Otakmu mendadak kosong. Sensasi kenikmatan yang menumpuk begitu cepat membuat pandangan matamu mengabur, seluruh tubuhmu menegang dalam pusaran gairah yang membakar. Kamu mabuk kepayang, kehilangan pertahanan diri sepenuhnya saat gelombang puncak hampir meledak di sekujur tubuhmu.

Dan tepat di detik ketika kamu melenguh pasrah, mendongakkan kepala dengan napas yang memburu dan bibir yang terbuka lebar mencari udara—Riki mengambil kesempatan itu tanpa ragu. Dia menarik dagumu ke samping dengan cepat dan tegas, lalu langsung melumat bibirmu dengan ciuman yang luar biasa dalam dan penuh nafsu.

Deg.

Bibir Riki menekan bibirmu tanpa ampun, lidahnya langsung menerobos masuk dan mengunci lidahmu dalam tautan yang panas dan basah. Ciuman itu bukan lagi sekadar sentuhan lembut, melainkan lumatan penuh gairah yang menuntut penyerahan total dari dirimu. Di saat yang bersamaan, permainan jarinya di bawah sana mencapai ritme puncak, membuat tubuhmu melengkung pasrah dalam pelukannya, meremas lengannya kuat-kuat saat sensasi orgasme meledak sempurna bersamaan dengan ciuman yang tak terputus.

Di balik set kamera, suasana studio mendadak hening dari instruksi teknis.

Kameramen utama yang memegang rig stabilizer sempat melebarkan mata tak percaya, melirik sekilas ke arah sutradara yang duduk di depan layar monitor utama. Semua orang di ruangan itu tahu betul reputasi dan aturan ketatmu yang tak pernah mau berciuman dengan partner mana pun sepanjang kariermu. Aksi nekat dan tiba-tiba dari Riki adalah pelanggaran aturan terbesar yang pernah terjadi di set syutingmu.

Namun, tidak ada satu pun kru yang berani meneriakkan kata “Cut!”.

Visual di monitor terlalu mentah, terlalu intens, dan menghasilkan chemistry gila-gilaan yang belum pernah terekam kamera sebelumnya. Ekspresi pasrahmu, cengkeraman tanganmu di lengan Riki, serta ciuman basah dan dominan dari cowok itu menciptakan adegan klimaks yang begitu nyata dan memikat.

Kameramen hanya memberi kode tangan cepat untuk terus merekam dan menyesuaikan sudut close-up, mengabadikan setiap detik dari pertahananmu yang runtuh total di bawah kendali Riki.

Ciuman itu tidak memberi jeda sedikit pun. Riki terus melumat bibirmu dengan intensitas yang kian liar, meredam erangan tertahan yang terus berusaha lolos dari tenggorokanmu. Lidahnya menyapu rongga mulutmu tanpa ampun, mengunci fokus dan kesadaranmu hingga batas kendali rasionalmu benar-benar runtuh.

Tubuhmu yang masih bergetar sisa pelepasan pertama terasa lemas di dekapannya. Namun, Riki tidak berniat menurunkan tempo barang sedetik pun.

Dengan satu gerakan terukur yang penuh kuasa, tangannya yang semula menangkup dadamu turun ke pinggulmu, mengangkat dan memosisikan tubuhmu sedikit condong ke depan di atas ranjang. Posisi dari belakang itu membuat setiap lekuk tubuhmu terekspos sempurna di hadapan lensa kamera yang menyorot dari berbagai sudut.

Napas berat Riki berhembus panas di samping rahangmu. Dalam hitungan detik, kamu merasakan ujung kejantanannya yang sudah terbalut pengaman menyentuh pintu intimu yang basah kuyup akibat permainan jarinya tadi.

“Rik—”

Belum sempat kamu menyelesaikan gumamanmu, Riki mendorong pinggulnya maju secara perlahan namun bertenaga.

Ukuran miliknya jauh melampaui perkiraanmu. Sensasi penuh yang luar biasa padat seketika merenggangkan dinding-dinding kewanitaanmu, memaksa otot-otot di dalam sana berkontraksi kuat, memeluk dan menjepit miliknya dengan sangat ketat.

Sensasi penuh yang menembus begitu dalam membuat punggungmu refleks melengkung indah. Jarimu mencengkeram erat seprai sutra di bawahmu hingga kusut. Udara di dalam ruangan studio mini itu terasa makin mendidih saat desahan panjang dan berat akhirnya lolos bebas dari bibirmu.

Riki berhenti sejenak di titik terdalam, membiarkan tubuhmu beradaptasi dengan ukurannya yang menginvasi total. Otot rahangnya mengeras, menahan diri dari dorongan naluriah untuk langsung bergerak cepat. Tangan kokohnya meremas pinggulmu dengan kuat, meninggalkan jejak panas di kulitmu.

“Ketat banget...” bisik Riki serak tepat di telingamu, suaranya bergetar menahan desakan nikmat yang luar biasa. “Rileks... lo mau gue mulai, kan?”

Sebelum kamu sempat menjawab, Riki mulai menarik pinggulnya mundur perlahan, lalu menghujam kembali ke dalam dengan ritme yang lambat, dalam, dan teratur. Setiap dorongannya terasa begitu presisi, menghantam titik-titik sensitif di dalam sana hingga gelombang sengatan kenikmatan baru kembali merambat cepat ke seluruh saraf tubuhmu.

Suara gesekan kulit yang basah dan deru napas berat yang saling memburu kini mendominasi audio di ruangan tersebut.

Riki terus menaikkan kecepatannya secara bertahap. Tangan kanannya kembali merengkuh wajahmu dari samping, menarikmu menoleh ke belakang agar dia bisa kembali menautkan bibirnya ke bibirmu di tengah hentakan yang semakin intens. Cumbuan basah yang tak henti-hentinya beradu dengan ritme dorongannya yang makin bertenaga membuat pandanganmu kian kabur dalam pusaran gairah.

Di balik kamera, sutradara dan seluruh kru hanya bisa menahan napas menyaksikan performa mentah penuh tensi tinggi itu berjalan tanpa jeda, mengabadikan setiap detik dari adegan paling panas yang pernah tercipta di set tersebut.

Lampu sorot neon merah dan biru di ruangan VIP itu sudah terasa membakar kulit. Waktu seolah kehilangan artinya di dalam studio mini tersebut. Empat jam berlalu tanpa jeda yang benar-benar membiarkanmu bernapas lega.

Sebagai pendatang baru di industri ini, Riki sama sekali tidak menunjukkan keraguan atau kecanggungan seorang pemula. Sebaliknya, dominasi dan staminanya di atas ranjang luar biasa brutal. Dia adalah satu-satunya orang sepanjang sejarah kariermu yang berhasil meruntuhkan dinding pertahanan paling kokoh milikmu: larangan berciuman. Dan malam ini, dia tidak cuma meruntuhkannya sekali—dia menghancurkannya berkeping-keping.

Kamera satu dan dua terus berputar, berpindah dari sudut wide ke close-up ekstrem untuk menangkap setiap tetes keringat, urat yang menegang, dan ekspresi mentah yang tercipta. Riki bergerak seolah-olah tidak ada hari esok. Dia membolak-balik posisimu dengan penguasaan tubuh yang sempurna—dari belakang, bertatap muka di atas pangkuannya, hingga posisi menantang di tepi ranjang yang memperlihatkan lekuk tubuhmu secara penuh ke arah lensa utama.

Setiap gaya yang dia minta dieksekusi dengan presisi fantasi visual yang luar biasa. Riki tahu persis di mana titik-titik terlemahmu berada. Setiap kali dia menemukan sudut yang membuat tubuhmu menegang dan napasmu tercekat, dia akan menghantam titik itu berulang-ulang dengan tempo yang konsisten dan bertenaga.

“R-riki... please...”

Suaramu sudah serak total. Air mata kenikmatan mengalir di sudut matamu, membasahi pipi yang merona hebat. Kamu sudah kehilangan hitungan berapa kali tubuhmu tersentak hebat dalam pelepasan (cum) beruntun. Sensasi nikmat yang bertumpuk tanpa henti membuat seluruh sarafmu kewalahan, memicu tangis pasrah yang justru terlihat luar biasa indah dan erotis di depan kamera.

Di samping ranjang, kotak pengaman milikmu sudah terbuka lebar. Ini adalah pengaman kelima yang Riki kenakan sepanjang sesi panas empat jam ini. Kulit tubuhmu yang biasanya mulus kini dipenuhi rona merah dan jejak-jejak cumbuan basah yang sengaja ditinggalkan Riki di leher, tulang selangka, hingga pinggul bagian dalam. Bibirmu sudah bengkak dan merah pekat akibat lumatannya yang tak kunjung berhenti.

Di balik monitor kontrol, sutradara bahkan tak mampu mengangkat tangan untuk memberi aba-aba jeda. Tidak ada satu pun kru yang berani meneriakkan kata cut. Semua orang di ruangan itu tersihir oleh intensitas nyata yang tercipta—sebuah rekaman murni tanpa kepura-puraan yang jauh melampaui ekspektasi naskah mana pun.

Tempo dorongan Riki di ronde kelima ini mencapai puncaknya. Otot punggungnya yang basah oleh keringat berkilat di bawah cahaya neon. Lengannya mengunci tubuhmu erat-erat, menahanmu agar tidak tergelincir saat gelombang kenikmatan terakhir menyapu seluruh kesadaranmu.

Hentakan-hentakannya begitu dalam dan rapat, membuat dinding intimu berkontraksi hebat tanpa ampun. Di titik klimaks paling dahsyat malam itu, tubuhmu melengkung kaku, jemarimu mencakar seprai sutra, dan erangan panjang tertahan lolos bersamaan dengan pelepasanmu yang paling intens.

Sensasi luar biasa itu menguras seluruh sisa tenagamu hingga ke titik nol. Begitu pelepasan mereda, pandanganmu mendadak gelap. Tubuhmu lemas sepenuhnya, kehilangan kesadaran (blackout) di atas tumpukan bantal sutra.

Sutradara memberi isyarat tangan cepat dari balik layar: adegan penutup.

Riki yang masih terengah-engah dengan dada naik-turun menatap tubuhmu yang terbaring lemas. Bukannya langsung menjauh, dia justru menarik tubuhmu ke dalam dekapannya, membimbing wajahmu mendekat ke kamera utama yang kini berada hanya beberapa puluh sentimeter dari ranjang.

Dengan tatapan mata yang setengah sayu namun sarat akan godaan dan kepuasan dominan, Riki menangkup rahangmu dengan jemarinya yang hangat.

Lensa kamera menangkap detail close-up sempurna saat Riki perlahan menundukkan wajahnya, mengecup sudut bibirmu yang bengkak dengan lembut, lalu melumat bibirmu sekali lagi dalam sebuah ciuman penutup yang lambat, basah, dan penuh kepemilikan—menegaskan di depan seluruh rekaman bahwa aturanmu telah resmi menjadi miliknya malam ini.

“CUT! Selesai!”

Teriakan sutradara akhirnya memecah keheningan tegang di dalam studio mini tersebut. Sutradara langsung bangkit dari kursinya sambil bertepuk tangan pelan, wajahnya tampak luar biasa puas menatap layar playback.

“Gila... mantap banget. Ini beneran rekaman paling gila yang pernah kita dapet sepanjang tahun,” puji sutradara dengan nada takjub, sementara kru mulai bergerak mematikan lampu sorot utama dan membawakan selimut tebal serta handuk hangat ke atas ranjang.

Riki menarik selimut untuk menutupi tubuh polosmu yang masih terpejam lemas, lalu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang sambil menghela napas panjang. Dia menatap wajahmu yang tertidur tenang di sampingnya, lalu tersenyum tipis—seringai puas dari partner baru yang baru saja mengubah seluruh aturan mainmu untuk selamanya.

Kru perempuan bergerak cepat namun hati-hati begitu lampu sorot studio mulai meredup satu per satu. Dengan handuk hangat yang dibasahi air aromaterapi mawar, mereka menyeka sisa keringat, minyak esensial, dan jejak basah dari tubuhmu yang terkulai tanpa daya. Kesadaranmu masih tertinggal jauh di alam bawah sadar—kelelahan fisik akibat lima ronde intensitas tinggi dan pelepasan bertubi-tubi benar-benar menguras habis seluruh energimu.

Setelah memastikan tubuhmu bersih, kru perempuan itu memakaikan sehelai lingerie sutra berwarna marun tua beraksen renda tipis di bagian dada dan pinggul. Kain satin dingin itu membalut kulitmu yang masih hangat, kontras dengan rona merah muda dan jejak-jejak samar yang ditinggalkan Riki di sekitar tulang selangka serta bahumu.

“Biar gue yang urus sisanya.”

Suara berat dan datar itu terdengar di ambang pintu area rias. Riki sudah berganti pakaian santai—hanya mengenakan celana kain hitam longgar dan kaus oblong abu-abu tipis. Tangannya bersedekap di dada, menatap dingin ke arah staf yang masih membereskan perlengkapan kabel dan wadah makeup.

“Tolong keluar semuanya. Biarin dia istirahat di sini tanpa gangguan,” lanjut Riki, suaranya tenang tapi sarat akan nada perintah yang tak bisa dibantah.

Sutradara dan para kru saling bertukar pandang sekilas. Mengingat status Riki sebagai pihak yang mendanai proyek privat beranggaran besar ini secara lunas di muka, tak ada yang berani mengajukan pertanyaan. Satu per satu kru mengemasi kamera, mematikan rig pencahayaan cadangan, lalu melangkah keluar melalui pintu kedap suara.

Klik.

Pintu terkunci dari dalam. Suasana di dalam kamar VIP lantai atas itu seketika tenggelam dalam keheningan total, hanya menyisakan dengungan halus pendingin ruangan dan temaram lampu meja bernuansa kuning di sudut ranjang.

Riki melangkah mendekat tanpa suara ke tepi tempat tidur. Matanya tak lepas menatap sosokmu yang terbaring miring di atas tumpukan bantal sutra kelabu. Napasmu terdengar sangat teratur, dada yang terbungkus renda marun naik-turun pelan seiring helaan udara yang tenang. Wajahmu saat tertidur tanpa lapisan ekspresi profesional terasa begitu murni—kontras dengan pesona dingin nan sensual yang selalu kamu tampilkan di depan kamera.

Riki duduk perlahan di tepi kasur. Beban tubuhnya membuat kasur sedikit melesak, tapi itu sama sekali tidak mengusik tidur lelapmu.

Jemarinya yang panjang, berurat tegas, dan masih memancarkan sisa panas tubuh mulai terangkat. Ujung jari telunjuknya menyentuh lembut keningmu, lalu turun menyusuri garis alismu yang rapi, melewati tulang hidung, hingga berhenti di bibir bawahmu yang merekah bengkak dan memerah akibat lumatannya selama berjam-jam tadi.

“Akhirnya...” bisik Riki sangat rendah, nyaris tak terdengar oleh udara kamar.

Sentuhan jarinya bergeser turun ke bawah rahang, menelusuri lekuk leher jenjangmu, melewati cekungan tulang selangka, lalu merayap di atas kain satin marun yang membalut pinggang rampingmu. Setiap jengkal kulitmu yang tersingkap terasa begitu halus di bawah telapak tangannya yang hangat. Penampilanmu dengan gaun tidur tipis itu membuktikan reputasimu di industri malam bukanlah isapan jempol semata—kamu memiliki aura memikat yang sanggup meruntuhkan rasionalitas siapa pun yang memandangmu. Namun bagi Riki, apa yang terjadi malam ini jauh melampaui urusan visual, transaksi agensi, atau fantasi layar kaca semata.

Riki menarik tangannya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang sembari menatap wajahmu yang tenang. Tatapannya berubah menjadi sangat rumit—campuran antara kepuasan yang mengakar dalam, obsesi yang akhirnya terbayar, dan rahasia besar yang sengaja ia simpan rapat-rapat di balik persona “orang asing” yang ia mainkan sejak di bar bawah.

Sepuluh tahun.

Bukan waktu yang singkat bagi seorang laki-laki untuk mengamati seseorang dari kejauhan. Mengetahui masa lalumu sebelum bangku kuliahmu direnggut keadaan, melihat awal mula langkahmu terpaksa terseret ke gemerlap gelap industri hiburan dewasa di usia dua puluh, hingga menyaksikan bagaimana kamu membangun tembok pertahanan dingin berupa aturan mutlak: tanpa ciuman, tanpa ikatan personal.

Semua orang di luar sana berpikir bahwa penolakanmu untuk berciuman adalah bentuk batasan profesional yang tak tersentuh. Namun bagi Riki, meruntuhkan batasan itu dengan tangannya sendiri, di hadapan lensa kamera dan di bawah kendalinya malam ini, adalah pembuktian yang telah ia rancang selama satu dekade penuh.

Kamu mengenalnya malam ini hanya sebagai “Riki sang partner baru yang nekat dan dominan”. Kamu tidak pernah menyadari siapa Riki sebenarnya sebelum namanya berganti, sebelum bisnis gelapnya sebesar sekarang, dan dari mana asal tatapan matanya yang selalu menguncimu seolah-olah dia sudah mengenal setiap bagian dari jiwamu jauh sebelum kamu menyadari keberadaannya.

Kelopak matamu perlahan bergetar pelan. Suara lenguhan halus lolos dari bibirmu saat kesadaranmu mulai merayap naik dari pingsan panjang. Rasa nyeri tumpul di pinggul dan denyutan di bibirmu mengingatkanmu pada apa yang baru saja terjadi beberapa jam lalu.

Begitu matamu terbuka perlahan dan menyesuaikan dengan cahaya redup, sosok pertama yang kamu lihat dalam jarak beberapa jengkal adalah Riki. Cowok itu tengah menatapmu lekat-lekat dengan seringai tipis yang sulit diartikan di wajahnya yang tenang.

“Udah bangun?” bisiknya rendah, jemarinya kembali terangkat untuk merapikan helaian rambut yang menutupi matamu.

Kamu mencoba bangkit dengan bertumpu pada siku, menatapnya dengan tatapan waspada yang mulai kembali ke matamu. “Kru... udah pergi?”

“Udah dari tadi,” sahut Riki santai, tangannya kini beralih menopang dagunya sendiri sembari terus menguncimu dalam pandangannya. “Tinggal kita berdua.”

Kamu menunduk, menyadari lingerie marun yang melekat di tubuhmu, lalu kembali menatap Riki yang sama sekali tidak berniat beranjak dari tempat tidur. Atmosfer di ruangan itu mendadak kembali memberat—bukan lagi karena gairah fisik yang tersisa, melainkan sebuah firasat samar yang menusuk nalurimu bahwa permainan cowok ini sebenarnya belum selesai.

Riki mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya hingga kamu bisa mencium aroma tembakau manis yang pekat dari napasnya.

“Menurut lo, pertemuan kita di bar tadi beneran cuma kebetulan, (Y/N)?” gumam Riki dengan nada suara yang begitu dingin sekaligus memabukkan, menatap tepat ke dasar matamu sebelum membiarkan pertanyaannya menggantung tanpa jawaban di antara kalian berdua.

TO BE CONTINUED

lanjut ga sih?

No posts

Read the original on micimaseven.substack.com

Comments

Nothing yet. Say the first thing.

    Sign in to join the conversation.