AUTHOR’S NOTE & DISCLAIMER⚠️
Halo michies💖!
Sebelum kalian lanjut baca bab pertama, tolong luangkan waktu sebentar buat baca beberapa poin penting di bawah ini ya:
Rating 21+ / Explicit Content: Cerita ini bergenre dark romance/slow-burn dengan latar belakang industri hiburan malam (adult performer/AV industry). Di dalamnya memuat adegan ewow yang sangat jelas bakal kayak gimana, strong language/dirty talk, serta dinamika relasi yang intens, kasar (rough dynamic), dan manipulatif.
Pure Fiksi & AU (Alternate Universe): Seluruh karakter, nama tokoh, profesi, latar tempat, dan alur cerita di sini 100% fiksi dan murni kebutuhan dramatisasi cerita. Tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kepribadian atau kehidupan asli dari figur/idol yang dijadikan visualisasi karakter.
Bukan untuk Ditiru: Sikap manipulatif, pemaksaan batas privasi, atau relasi yang toksik dalam cerita ini ditulis semata-mata untuk eksplorasi konflik fiktif, bukan untuk diromantisasi apalagi ditiru di dunia nyata.
Bijak Memilih Bacaan: Cerita ini ditujukan khusus buat pembaca yang sudah cukup umur dan berpikiran dewasa. Kalau kalian merasa tidak nyaman (uncomfortable) dengan tema gelap, power imbalance, atau adegan eksplisit, sangat disarankan untuk tidak melanjutkan membaca demi kenyamanan kalian sendiri.
Kalau kamu merasa nyaman dengan genre dark romance, slow-burn spicy, dan tema dewasa seperti ini, silakan lanjut membaca. Tapi kalau tema ini bukan preferensimu, jangan ragu untuk lewati cerita ini demi kenyamanan kalian masing-masing.
p.s: kalo nemu kata kata yang too much tolong bantu aku koreksi ya guys demi kenyamanan bersama agar ceritanya tetap ada di wattpad.
Read at your own risk, and enjoy the ride!
Dentuman bas dari lantai bawah bar Velvet Hour selalu punya ritme yang sama... begitu berat, konstan, dan sedikit bikin kepala pening kalau terlalu lama didengarkan. Tapi buat kamu, tempat ini udah kayak ruang tunggu resmi sebelum dunia kerja yang sebenarnya dimulai.
Kamu menyesap gelas koktailmu perlahan, membiarkan es batu yang hampir mencair menyentuh bibir. Di umurmu yang sekarang—enam tahun setelah keputusan pahit drop out dari bangku kuliah umur dua puluh karena urusan finansial yang hancur berantakan—kamu bukan lagi anak kemarin sore yang gampang panik.
Industri hiburan dewasa bawah tanah atau yang lebih sering disebut orang sebagai dunia adult performer udah membentuk reputasimu jadi salah satu nama paling dicari. Orang-orang bayar mahal bukan cuma karena visualmu, tapi karena kamu profesional, bersih, dan tahu cara kerja kamera.
Namun di balik popularitas itu, semua agensi, produser, dan partner main tahu tiga aturan mutlak milikmu yang nggak bisa dinegosiasikan sepeser pun:
Wajib protection. Nggak ada kompromi soal keamanan medis.
Nggak ada main belakang. Batasan fisikmu jelas.
Nggak ada ciuman bibir (no mouth-to-mouth kissing).
Aturan nomor tiga selalu jadi misteri terbesar buat partner-partner kerjamu. Banyak yang protes, banyak yang nawarin bayaran dobel cuma demi bisa mencium bibirmu yang konon katanya punya daya tarik paling mematikan di depan layar. Jawabanmu selalu sama: senyum tipis, gelengan kepala dingin, dan kalimat singkat, “Gue jual performa fisik, bukan romansa murahan.”
Bagimu, ciuman di bibir itu terlalu intim, terlalu aneh, dan menembus batas batas psikologis yang sengaja kamu bangun biar kamu nggak kehilangan akal sehat di industri ini.
“Melamun aja, Cewek Populer.”
Suara Sunoo, bartender langgananmu yang punya senyum rubah andalan, membuyarkan lamunan. Dia meletakkan selembar tisu kering dan segelas air mineral dingin di sebelah koktailmu.
“Bukan melamun, Sun. Lagi ngumpulin energi,” sahutmu santai sambil memutar sedotan. “Klien syuting private malam ini misterius banget. Cuma ngasih arahan lewat manajer, bayar lunas di muka, tapi nggak mau kasih tahu identitas sampai jam syuting mulai. Agak bikin overthinking.”
Sunoo terkekeh kecil sambil mengelap gelas kaca di tangannya. Matanya melirik ke arah sudut bar yang agak temaram, tepat di dekat pilar marmer hitam.
“Kalau soal cowok misterius, mungkin yang di pojok itu ada hubungannya,” bisik Sunoo setengah berbisik.
Kamu menaikkan satu alismu. “Siapa?”
“Pelanggan baru. Dari tadi duduk sendirian, nggak banyak minum, tapi udah nanyain lo ke gue dua kali. Dia nanya beneran lo yang namanya (Y/N) atau bukan,” jelas Sunoo.
Pandanganmu otomatis bergeser mengikuti arah dagu Sunoo. Di sana, duduk seorang cowok dengan jaket kulit hitam longgar dan kemeja gelap yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka. Garis rahangnya tegas, tatapannya tajam tapi terkesan malas, dan gestur tubuhnya memancarkan aura dominan yang nggak dibuat-buat. Begitu mata kalian bertemu, cowok itu nggak buang muka. Dia justru mengangkat gelasnya sedikit ke arahmu—sebuah sapaan tanpa suara.
Kamu menghela napas pendek, lalu menghabiskan sisa koktailmu. Well, daripada penasaran sendirian.
Kamu bangkit dari kursi bar, melangkah santai dengan heels tipis yang mengetuk lantai kayu dengan ritme teratur. Saat kamu sampai di mejanya, aroma parfumnya yang memadukan wangi cedarwood dan sedikit aroma tembakau manis langsung menyapa indra penciumanmu.
“Kata bartender, lo nyariin gue?” tanyamu langsung, bersandar santai pada sisi meja kosong di dekatnya.
Cowok itu menatapmu dari atas sampai bawah tanpa terburu-buru, lalu tersenyum tipis—senyum yang bikin orang lain mungkin bakal salah tingkah, tapi kamu udah terlalu terbiasa menghadapi berbagai macam tatapan laki-laki.
“Akhirnya disamperin juga,” suaranya berat, santai, dan terdengar sangat tenang. “Gue Riki.”
“Oke, Riki. Ada urusan apa sampai nanyain gue ke Sunoo? Kalau lo mau minta kontak atau foto, mending urus lewat manajemen gue di jam kerja.”
Riki nggak langsung menjawab. Dia malah meletakkan gelas minumannya di atas meja, lalu berdiri tegak. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang otomatis membuat bayangannya menutupi tubuhmu dari pencahayaan temaram bar.
Sebelum kamu sempat mundur selangkah untuk menjaga jarak profesional, jemari tangannya yang dingin tapi kokoh sudah menggenggam pergelangan tanganmu dengan mantap. Nggak kasar, tapi cukup tegas sampai kamu nggak bisa mengelak begitu saja.
“Ikut gue sebentar,” ucapnya rendah di dekat telingamu.
“Hei, lepas dulu. Sopan dikit—”
“Gue nggak bakal ngapa-ngapain di tempat umum. Naik ke VIP room atas. Tempatnya udah disiapin buat lo,” potongnya tenang tanpa melepaskan genggamannya, menuntunmu melewati kerumunan dan lorong privat menuju lift akses khusus lantai paling atas.
Lantai atas gedung bar ini jauh lebih hening. Begitu pintu kamar VIP nomor satu dibuka, ruangan itu ternyata bukan kamar hotel biasa—tapi sebuah studio mini eksklusif dengan pencahayaan sinematik yang lembut, kamera beresolusi tinggi di atas tripod yang sudah standby, dan suasana dingin dari pendingin ruangan yang menusuk kulit.
Riki melepas pegangan tangannya begitu pintu tertutup rapat dan terkunci otomatis. Kamu menyilangkan tangan di dada, menatapnya dengan pandangan mengintimidasi. “Gue nggak suka cara lo narik orang tanpa penjelasan. Lo pikir lo siapa?”
Riki hanya memasukkan satu tangannya ke saku celana. Dengan tangan satunya, dia mengeluarkan ponselnya, menggeser layar beberapa detik, lalu menekan sebuah tombol panggilan.
Drt... drt... drt...
Ponsel di dalam tas selempangmu bergetar panjang.
Kamu merogoh ponselmu dan melihat layar yang menyala, menampilkan nomor privat yang hanya diketahui oleh manajermu untuk konfirmasi klien syuting malam ini. Saat kamu mengangkat panggilan itu dan menempelkannya ke telinga, suara Riki terdengar ganda—langsung di depan matamu dan lewat speaker telepon.
“Halo, partner. Selamat malam,” ucap Riki pelan sambil mematikan panggilan tersebut dan melempar ponselnya ke atas sofa kulit.
Matamu sedikit melebar sebelum akhirnya kembali datar. “Jadi lo partner misterius yang bayar mahal buat slot malam ini?”
“Exactly,” jawab Riki santai. Dia melepas jaket kulitnya, menyampirkannya ke sandaran kursi, lalu duduk di sofa dengan kaki yang disilangkan. “Gimana? Kaget?”
“Udah nggak kaget sama hal-hal ginian di industri ini,” jawabmu dingin sambil melangkah mendekat, berdiri tepat di seberangnya. “Yang bikin gue heran, kenapa harus pura-pura jadi orang asing di bar bawah?”
“Biar gue tahu gimana lo di luar kamera,” sahut Riki jujur. “Dan lo beneran menarik. Nggak heran bayaran lo paling tinggi di agensi.”
Kamu mendengus pelan, mulai membuka tas kecilmu untuk mengeluarkan beberapa perlengkapan standar syuting: minyak esensial, lip balm, dan tentu saja kotak pelindung milikmu sendiri yang selalu kamu bawa ke mana pun.
“Lo udah baca kontrak kerja dan aturan main gue, kan?” tanyamu tegas, memastikan batasan sebelum lampu kamera dinyalakan.
Riki mengamati setiap gerakanmu dengan saksama. “Udah. Pakai pengaman, nggak ada anal, dan... no kissing.”
“Bagus kalau paham. Jadi kita nggak perlu buang waktu debat soal hal yang nggak bakal terjadi.”
Riki tidak langsung beranjak untuk bersiap. Dia malah menyandarkan kepalanya ke belakang sofa, menatap lurus ke arah matamu dengan tatapan yang sangat intens.
“Gue paham soal pengaman dan batasan fisik lainnya. Itu soal kenyamanan dan keselamatan,” kata Riki dengan nada suara yang lambat, meneliti setiap lekuk ekspresimu. “Tapi soal larangan ciuman... gue penasaran. Kenapa?”
Kamu menghentikan gerakan tanganmu yang sedang merapikan rambut. “Bukan urusan lo. Itu aturan gue.”
“Gue klien lo malam ini, dan gue partner kerja lo untuk beberapa jam ke depan. Boleh dong gue nanya alasan logisnya?” Riki tersenyum miring, memancing. “Bibir lo sebagus ini, dan hampir semua video lo terkenal karena ekspresi lo yang intens. Tapi lo nggak pernah sekalipun ngasih partner lo akses ke bibir lo. Kenapa? Takut kebawa perasaan?”
Pertanyaan itu sedikit memicu emosimu, tapi kamu memilih untuk membalasnya dengan nada datar dan realistis.
“Karena gue nggak suka. Sesimpel itu,” jawabmu menatapnya tanpa ragu. “Bagi gue, ciuman di bibir itu aneh kalau dilakuin sama orang yang cuma sebatas rekan kerja transaksional. Badan gue bisa kerja profesional di depan kamera, tapi bibir gue cuma buat urusan pribadi yang nggak ada sangkut pautnya sama industri ini. Puas?”
Keheningan sempat merayap di antara kalian. Suara dengung pendingin ruangan dan lampu sorot studio terasa makin nyata. Riki perlahan berdiri dari sofa. Langkahnya yang pelan dan percaya diri membawanya berhenti tepat di hadapanmu, mengikis jarak hingga kamu bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat.
“Aneh, ya?” gumam Riki rendah. Matanya turun menatap bibirmu yang dipoles lip gloss tipis, lalu kembali naik menatap langsung ke dalam manik matamu.
“Iya. Dan aturan itu nggak bakal berubah malam ini,” tegaskanmu dengan nada dingin, menolak untuk gentar.
Riki terkekeh pelan—tawa rendah yang sarat akan tantangan.
“Kalau sesuatu yang lo anggap aneh itu justru bikin kerjaan malam ini jauh lebih bagus dari biasanya, gimana?” bisik Riki, memiringkan kepalanya sedikit. Jarak wajah kalian kini hanya tersisa beberapa senti.
“Lo nantangin gue, Riki?”
“Bukan nantangin,” bisik Riki dengan seringai tipis yang berbahaya, suaranya tenang tapi sarat provokasi. “Gue cuma mau nawarin eksperimen kecil sebelum kita mulai rekam. Cuma lo dan gue di sini. Tanpa kamera, tanpa agensi, tanpa naskah. Berani buktiin seberapa anehnya ciuman itu di depan gue?”
Jarak di antara kalian menyusut drastis. Udara di ruangan VIP itu mendadak terasa jauh lebih tipis dan panas, kontras dengan hembusan AC yang menyala di suhu delapan belas derajat. Aroma tembakau manis dan cedarwood dari tubuh Riki mengunci fokusmu sepenuhnya.
Kamu mengangkat dagu, menatap manik mata hitam pekatnya tanpa ada gestur mundur sedikit pun. Bertahun-tahun bertahan di industri malam sudah melatih insting pertahananmu sampai ke titik paling kebal—atau setidaknya, itu yang selalu kamu yakini.
“Eksperimen lo nggak ada di kontrak, Riki,” sahutmu dingin, walau ritme detak jantungmu mulai berdentum sedikit lebih cepat di balik tulang rusuk. “Dan gue bukan tipe orang yang ngerusak aturan sendiri cuma demi rasa penasaran partner baru.”
Riki terkekeh pelan. Tawa rendah yang bergetar di tenggorokannya terdengar sangat dekat di daun telingamu.
“Aturan dibikin buat orang yang gampang goyah, kan?” Tangannya perlahan terangkat. Jemari Riki yang panjang dan berurat menyentuh helai rambutmu yang menjuntai di bahu, menyelipkannya perlahan ke belakang telinga. Ujung jarinya sempat menyenggol kulit lehermu yang sensitif, meninggalkan jejak panas yang bikin merinding halus menjalar ke seluruh tubuh. “Lo takut kalau sekali lo coba sama gue... batas ‘profesional’ yang lo banggain itu langsung bubar?”
Provokasi murahan. Kamu tahu itu. Otakmu berteriak untuk mendorong dadanya menjauh dan menyuruhnya segera menyalakan lampu kamera biar urusan malam ini cepat selesai.
Tapi ego di dalam dirimu—ego seorang performer nomor satu yang terbiasa mengendalikan lawan main—terbakar pelan-pelan.
“Gue nggak pernah takut sama hal receh kayak gitu,” desismu, sorot matamu menajam.
“Bagus kalau gitu.”
Tanpa aba-aba, satu tangan Riki yang bebas melingkari pinggang rampingmu, menarik tubuhmu merapat ke tubuhnya hingga tak ada celah tersisa di antara kalian. Sensasi kain kemeja tipisnya yang hangat menempel tepat di depan gaun satinmu. Napasnya yang hangat dan beraroma alkohol ringan menerpa langsung di atas bibirmu yang sedikit terbuka.
Mata Riki menggelap. Sorot malas yang tadi kamu lihat di bar bawah lenyap seketika, digantikan tatapan predator yang sabar tapi menuntut.
“Buktiin ke gue sekarang,” bisik Riki sangat rendah, bibirnya hampir menyapu sudut bibirmu tiap kali dia mengucapkan kata. “Cuma sepuluh detik. Kalau setelah itu lo masih ngerasa ciuman ini ‘aneh’ atau nggak ada rasanya... gue janji bakal ikutin semua aturan lo sampai syuting selesai tanpa bantah sepatah kata pun.”
Tantangan itu menggantung di udara.
Pandanganmu turun ke bibir Riki yang basah dan tebal, lalu naik lagi mengunci matanya. Atmosfer di kamar itu terlalu pekat, terlalu memabukkan untuk sekadar logika bisnis.
“Sepuluh detik,” bisikmu menantang balik. “Dan setelah ini, lo tutup mulut soal aturan gue.”
Riki tersenyum miring—sebuah tanda kemenangan kecil yang berbahaya. Tanpa membuang waktu sedetik pun, tangan Riki yang berada di lehermu bergerak ke belakang tengkuk, menahan kepalamu dengan lembut tapi mengunci pergerakanmu. Di detik berikutnya, bibir Riki mendarat tepat di atas bibirmu.
Sentuhan pertamanya tidak terburu-buru. Tidak ada gerakan kasar atau tergesa-gesa. Riki memulainya dengan lumatan lembut yang penuh perhitungan, menekan bibir bawahmu perlahan sebelum menyesapnya dengan ritme lambat yang luar biasa intens.
Bibirnya terasa jauh lebih lembut dari yang kamu bayangkan, hangat dan mengikis habis kontrol diri yang sudah kamu bangun bertahun-tahun. Sensasi aneh yang selama ini kamu hindari ternyata bukan rasa jijik atau hampa—melainkan gelombang panas yang mendadak meledak di pangkal perutmu, melumpuhkan kedua lututmu seketika.
Tanganmu yang semula berniat mendorong pundaknya justru refleks mencengkeram kemeja hitam Riki, meremas kainnya erat-erat demi mencari tumpuan.
Menyadari respons tubuhmu yang tidak menolak, ciuman Riki berubah lebih dalam. Jemarinya di tengkukmu sedikit menekan, memiringkan sudut wajahmu untuk memperdalam cumbuan. Ketika lidahnya yang hangat dengan lincah menyapu belahan bibirmu dan meminta akses masuk, desahan tertahan lolos begitu saja dari sela-sela napasmu yang memburu.
Sialan.
Ciuman itu bukan lagi eksperimen sepuluh detik. Ritmenya sudah berubah jadi perebutan dominasi yang basah, lambat, dan sangat sensual. Setiap gesekan bibirnya mengirim sengatan listrik yang bikin akal sehatmu perlahan menguap ke udara kamar yang dingin. Riki melumat bibirmu seolah-olah dia sedang menandai wilayah, memastikan tiap detik dari ciuman itu tertanam di ingatanmu.
Ketika Riki akhirnya melepaskan tautan bibir kalian secara perlahan, hanya benang tipis saliva dan suara deru napas berat yang tersisa di antara wajah kalian yang masih sangat dekat.
Matamu setengah terpejam, bibirmu yang sedikit bengkak dan merah merona berkilau di bawah lampu temaram. Riki menatapmu lurus-lurus, dadanya naik turun dengan tempo yang sama cepatnya dengan dadamu.
Ibu jari Riki bergerak lembut mengusap sudut bibirmu yang basah, matanya berkilat penuh kepuasan melihat pertahananmu yang runtuh dalam hitungan menit.
“Sepuluh detik udah lewat dari tadi, (Y/N),” bisik Riki dengan suara serak yang sangat dalam, bibirnya kembali menyapu ujung rahangmu sebelum turun mengecup titik sensitif di bawah telingamu.
Napas hangatnya membuatmu meremang tak berdaya.
“Gimana?” tanya Riki pelan tepat di ceruk lehermu, tangannya di pinggangmu kini meremas lembut lekuk tubuhmu, menekanmu semakin rapat ke tubuhnya yang sudah menegang. “Masih ngerasa aneh... atau mau kita ulang dari awal sebelum kameranya dinyalain?”
Tok, tok, tok.
Ketukan pintu VIP yang cukup keras memecah keheningan pekat di antara kalian berdua. Suara grendel otomatis berbunyi pelan, menandakan kru produksi dan tim teknis di luar mulai masuk untuk mempersiapkan set syuting malam ini.
Pertanyaan Riki tadi masih menggantung di udara, belum sempat kamu jawab sama sekali. Bibirmu yang masih terasa basah dan sedikit bengkak berdenyut pelan, sementara matamu masih terkunci pada seringai tipis di wajah cowok itu.
“Siap-siap, sepuluh menit lagi kita rolling,” suara sutradara dan langkah kaki kru mulai mengisi ruangan luas tersebut. Suara kabel diseret, penyesuaian intensitas lampu sorot, hingga cek audio membuat atmosfer privat tadi seketika bergeser kembali ke mode kerja formal.
Riki mundur selangkah tanpa melepaskan kontak matanya darimu. Tatapannya masih membawa bara yang sama—penuh rasa percaya diri dan provokasi yang belum tuntas. Tanpa ragu sedikit pun, jemarinya bergerak santai membuka satu per satu kancing kemeja hitamnya hingga jatuh ke lantai, memperlihatkan garis dada bidang dan bahu kokohnya yang atletis. Tangannya kemudian turun ke pinggang, melonggarkan sabuk kulitnya dengan gerakan pelan yang luar biasa percaya diri.
Kamu menarik napas panjang, mencoba mengembalikan kontrol penuh atas dirimu sendiri. Kamu melangkah ke arah sofa untuk menata kembali gaunmu dan mengambil pelindung yang sudah kamu siapkan, memasang topeng dingin andalanmu seolah insiden sepuluh detik tadi tidak pernah terjadi.
to be continued
kok aku deg deg an ya?
kalian juga ga?
No posts

Comments
Nothing yet. Say the first thing.
Sign in to join the conversation.