Apakah teologi, sebagaimana dakwaan sebagian kalangan atas Tuhan, telah mati hari ini? Jika iya, bagaimana menghidupkannya?
Merespon pertanyaan di atas mengingatkan saya pada ‘Adhuddin Al-Iji, salah satu teolog Sunni abad ke-7. Dalam pengantar karyanya yang fenomenal, Al-Mawaqif fi ilm al-kalam, beliau mengomentari fenomena yang terjadi di zaman beliau terkait ilmu teologi. Menurut beliau, banyak para pembelajar teologi di era itu yang sekedar menukil penjelasan teolog sebelumnya. Nukilan itu pun tidak disertai analisa kritis untuk menimbang validitas dan kekuatan argumentasinya1. Sebagian lain hanya mengutip pandangan yang menuju ke kesimpulan yang sudah diinginkan sebelumnya tanpa evaluasi2. Sebagian lain rela menggunakan cacat logika demi sekedar mempromosikan pandangan pribadi atau kelompoknya3. Sebagian lain sekedar memanjangkan karya teologis mereka agar dianggap “daging” kualitas keilmuannya4. Semua poin ini membuat beliau sampai berpandangan bahwa para pembela teologi sejati telah sirna.5
Mengapa demikian? Karena semua fenomena di atas sejatinya bertentangan dengan tujuan dari teologi itu sendiri! Dalam karya yang sama, Al-Iji merangkum ilmu teologi sebagai:
والكلام علم يقتدر معه على إثبات العقائد الدينية بإيراد الحجج ودفع الشبه
“Teologi adalah suatu ilmu yang dengannya diperoleh kemampuan untuk menetapkan akidah-akidah agama melalui pengemukaan bukti-bukti dan penolakan syubhat-syubhat.”
Maka, jika teologi hanya dijadikan kumpulan nukilan pendapat teolog sebelumnya, semata-mata untuk mendukung pandangan yang sudah dipegang sebelumnya, tanpa membuktikan fondasi agama dengan argumentasi yang bisa diterima orang di eranya dan berdialog dengan syubhat yabg muncul di zamannya, barangkali Al-Iji pun akan menganggap ilmu ini telah “mati”.
Tapi, kalau begitu, bagaimana menghidupkannya? Mudahnya, suatu disiplin ilmu dianggap “hidup” ketika ia digunakan sebagaimana fungsinya.
Pertama, dari definisinya saja, kita tahu bahwa teologi bukan kumpulan nukilan pendapat semata! Betul bahwa banyak argumentasi teolog-teolog lama yang masih sangat relevan dengan kondisi sekarang. Tapi, semata-mata memperbanyak nukilan tanpa analisa kritis terhadapnya justru mengkhianati tujuan dari ilmu teologi itu sendiri. Bahkan ketika pembelajar teologi setuju dengan pandangan Al-Ghazali atau Ar-Razi, misalnya, mereka semestinya “own the argument”! Jadikan argumentasi itu layaknya argumentasi mereka sendiri yang mereka kuasai dan pertahankan layaknya pemikiran mereka sendiri, bukan karena argumen tersebut diajukan oleh tokoh tertentu!
Kedua, teologi harus terus berdialog dengan zaman. Zaman yang berbeda memiliki audiens yang berbeda sehingga terkadang menuntut substansi maupun metode argumentasi yang berbeda pula. Maka, para pembelajar tidak perlu takut memodifikasi dan mengkontekstualisasi argumen teolog terdahulu jika memang dibutuhkan.
Ketiga, tidak kalah penting adalah memahami secara mendalam argumentasi tandingan yang populer di era tersebut. Kalau dulu Al-Ghazali menulis Maqashid al-Falasifah untuk menjelaskan falsafah yang menjamur di eranya sebelum mengkritiknya di Tahafut, teolog modern juga semestinya memahami, bahkan menulis sebaik-baiknya, soal naturalisme, saintisme, dan ateisme modern misalnya. Mereka juga wajib familiar dengan karya-karya dan perkembangan terbaru filsafat agama, filsafat sains, filsafat bahasa, bahkan sains modern. Karena topik-topik ini lah “bahasa ilmiah” yang menjamur di era ini. Teolog tidak bisa hanya memagari diri dengan pandangan filsuf tertentu di era pra-modern seperti Mu'tazilah atau Falasifah yang bahkan tak lagi dikenal khalayak umum saat ini.
Keempat, meski menekuni karya-karya teolog terdahulu tetap penting dan wajib dilakukan, teolog harus bisa memahami konteks perdebatan di zaman itu. Dari sini, ia perlu memisahkan mana poin-poin teologi yang permanen, tak lekang oleh zaman, dan mana yang hanya bergantung konteks zaman dan perdebatan di era karya tersebut ditulis. Ini sangat penting karena sepanjang sejarahnya, teolog merespons pandangan para filsuf dengan bahasa “falsafah” mereka sampai-sampai karya-karya teologis bercampur dengan falsafah itu sendiri. Poin-poin seperti atomisme, materi-bentuk (prime matter/hayulah dan form/shuwar), hingga substansi-aksiden (substace/jawhar dan accident/a'rad) adalah contoh masuknya istilah-istilah falsafah ke dalam karya teologi. Poin-poin ini semuanya context-dependent, maka sangat bisa dan bahkan perlu dikontekstualisasikan di era modern. Kalau tidak, audiens akan mengira bahwa argumentasi teologis bergantung pada penerimaan terhadap istilah-istilah tadi yang sebagian besarnya tak lagi relevan di era sains modern.
Semoga kita termasuk kalangan yang terus berusaha menghidupkan teologi, sebagaimana rekomendasi Al-Iji di abad ke-7 yang masih relevan hingga sekarang:
فوجب علينا أن نرغِّبَ طلبةَ زماننا في طلب التدقيق، ونسلك بهم في ذلك العلم مسالك التحقيق..
“Maka menjadi kewajiban bagi kami untuk mendorong para penuntut ilmu pada zaman kami agar berhasrat mengejar ketelitian (tadqīq), dan membawa mereka menempuh, dalam ilmu tersebut, jalan-jalan penelitian mendalam (taḥqīq).”
Wallahu a'lam.
Ingin membaca lebih detail tentang bukti rasional di balik pokok-pokok keimanan Islam? Silahkan baca buku “Logika Keimanan” edisi terbaru.
Ingin tahu bagaimana argumentasi rasional Al-Qur’an soal Tuhan, kenabian, sains, dan iman? Silahkan baca e-book “Tilka Hujjatuna: Ayat-Ayat Logika Keimanan”.
Jika ingin mentraktir kopi penulisnya, silahkan klik di sini.
Jika tulisan ini bermanfaat, silahkan bagikan ke rekan-rekan anda:
ومنهم من هو كحاطب ليل، وجالب رجل وخيل، يجمع ما يجده من كلام القوم ينقله نقلاً، ولا يستعمل عقلاً، ليعرف أغث ما أخذه أم سمين، وسيخف ما أثقله أم متين، خطأ في الطلب على أهل الطلب.
ومنهم من ينظر في مقدمة مقدمة ويختار منها ما يؤدي إليه بادئ رأيه،
ومنهم من يلفق مغالط ليروج رأيه، ولا يدري أن النقاد من ورائه
ومنهم من يكبر حجم الكتاب بالبسط والتكرار، ليظن به أنه بحر زخار،
وإن في زماننا هذا قد اختفى ظهيره، وصار طلابه عند الأكثرين شيئاً فرياً، لم يبق منه بين الناس إلا قليل، ومصحح نظر من يشتغل به على الندرة قال وقيل
No posts

Comments
Nothing yet. Say the first thing.
Sign in to join the conversation.