Di era ini, keberhasilan sains dalam mendeskripsikan alam semesta dan menghasilkan teknologi membuat sebagian kalangan menolak mungkinnya fenomena mu'jizat. Sebagai fenomena di luar regularitas alam, mu’jizat dianggap bertentangan dengan sains. Tentu saja konsekuensinya panjang karena mu'jizat memegang peran penting dalam agama, khususnya untuk membuktikan validitas klaim kenabian. Sebagian memilih menafsirkan ulang ayat-ayat mengenai mu’jizat, sesuatu yang berkonsekuensi penolakan terhadap banyak sekali poin keimanan, seperti mungkinnya hidup setelah mati. Sebagian yang lain menggunakan fenomena mu'jizat untuk menolak validitas agama secara keseluruhan.
Sebetulnya sudah banyak tulisan saya di blog ini maupun di buku “Logika Keimanan” dan “Tilka Hujjatuna” yang membahas bagaimana sains tidak bisa membuktikan mutlaknya regularitas alam tanpa terkecuali. Kita sudah pernah membahas di banyak tempat bagaimana terjadinya sesuatu berulang kali tidak menggaransi bahwa perulangannya akan selalu terjadi, sesuatu yang dikenal sebagai problem of induction. Sebaliknya, sains justru bertumpu pada asumsi bahwa regularitas alam selalu terjadi. Bukan hanya itu, adanya regularitas tidak secara rasional membuktikan adanya kausalitas natural di mana satu fenomena menyebabkan fenomena yang lain.
Tetapi, tulisan ini ingin melangkah lebih jauh. Sains bukan sekedar tidak bisa membuktikan mutlaknya regularitas alam dan mustahilnya mu’jizat. Menerima sains ternyata berimplikasi menerima mungkinnya sesuatu di luar regularitas seperti mu’jizat. Bahkan, menerima sains akan menunjukkan pernah terjadinya sesuatu di luar regularitas di masa lalu!
Sebelum kita mulai masuk ke pembahasan utama, saya ingin memberikan klarifikasi terlebih dahulu terkait penyebutan “mu'jizat” di judul tulisan ini. Dalam teologi Islam, mu'jizat sejatinya adalah terma yang sangat spesifik, mengacu kepada sesuatu di luar regularitas alam yang membersamai klaim kenabian seseorang. Dalam tulisan ini, sebetulnya fokus kita lebih umum dari mu'jizat. Kita fokus kepada poin kharq al-’adah, kejadian di luar regularitas alam, terlepas apakah dia membersamai klaim kenabian atau tidak. Kata mu'jizat saya pilih di judul semata-mata karena ia lebih familiar bagi kebanyakan orang.
Bagaimana bisa sains membuktikan mungkinnya mu'jizat? Sederhana. Jika seseorang mengakui sains sebagai salah satu sumber pengetahuan, maka ia harus menerima produk sains sebagai pengetahuan yang valid1. Faktanya, salah satu produk saintifik terbaik saat ini yang membahas soal asal-usul alam semesta adalah teori kosmologi Big Bang, yang mempostulatkan bermulanya alam semesta2, bahkan bermulanya ruang dan waktu itu sendiri!3 Lalu, apa konsekuensinya?
Konsekuensi pentingnya adalah kekeliruan pandangan soal kausalitas natural mutlak yang menjadi fondasi dari naturalisme! Kalau fenomena alam selalu disebabkan oleh fenomena alam lain sebelumnya, maka alam semesta harus tak bermula! Alam semesta harus berupa rantai sebab-akibat yang tak berujung ke masa lalu. Tidak mungkin ada fenomena alam yang tidak didahului fenomena alam yang lain. Syaikhul Islam Mustafa Sabri menulis dalam karyanya Al-Qaul al-Fashl:
وإنما يقولون: بنفي السببيّةُ والعلّيةُ من خارجِ العالمِ، فلكلِّ كائنٍ سببٌ يوجبُ كونه، والسببُ كائن آخرَ له سببٌ أيضاً، ولسبب السببُ أيضاً سببَاً وهلم جرى إلى ما لا نهايةَ له من الأسبابِ المتقدّمةِ المهيّئةِ لمسبَّباتِها التي كلُّ منها أيضاً سببٌ لما بعدَه. ولمّا انتهى الأسبابُ المتقدّمةُ إلى سببٍ أولَ لا سببَ قبله، ولكونِ العالمِ قديماً عندَهم لا بدايةَ له، على خلافِ ما قلنا نحنُ في البابِ الثاني: أنَّ العالمَ حادثٌ له بداية ,فلا حاجةَ عندَهم لوجودِ العالمِ إلى وجودِ الله
“Mereka (naturalis) berpendapat dengan meniadakan adanya sebab dan kausalitas yang berasal dari luar alam. Menurut mereka, bagi setiap keadaan terdapat sebab yang mewujudkannya; dan sebab itu sendiri adalah keadaan lain yang juga memiliki sebab; dan sebab dari sebab itu pun memiliki sebab lagi — dan demikianlah berlanjut tanpa akhir, berupa rangkaian sebab-sebab terdahulu yang menghasilkan akibat-akibatnya, di mana masing-masing juga menjadi sebab bagi yang datang sesudahnya. Dan karena rangkaian sebab-sebab yang mendahului itu tidak berakhir pada suatu sebab pertama yang tidak memiliki sebab sebelumnya, mereka berkeyakinan bahwa alam ini tidak bermula dan tidak memiliki awal (yang bertentangan dengan apa yang kami tegaskan dalam bab kedua bahwa alam ini memiliki permulaan) sehingga mereka tidak membutuhkan keberadaan Tuhan untuk menjelaskan keberadaan alam. ”
Nyatanya, teori sains kosmologi terbaik yang kita punya sekarang justru mendukung bahwa alam semesta bermula! Tidak ada alam semesta atau fenomena alam lain sebelumnya. Bahkan, ruang-waktu pun dulunya tak ada! Ini artinya, ada fenomena alam yang tidak disebabkan fenomena alam yang lain! Ini cukup untuk membuktikan kekeliruan pandangan yang memutlaklan kausalitas natural sekaligus regularitas alam. Konsekuensinya, adanya sesuatu di luar regularitas alam, kharq al-adah, itu hal yang mungkin!4
Bahkan, bukan hanya itu! Bermulanya alam semesta ini menujukkan bahwa sudah pernah terjadi sesuatu di luar regularitas alam! Kapan? Yaitu ketika alam semesta bermula! Bermulanya alam semesta tanpa sebab natural sebelumnya adalah contoh nyata sesuatu di luar regularitas! Artinya, seseorang yang menerima validnya sains sebagai sumber pengetahuan harus menerima teori saintifik terbaik saat ini yang mendukung bermulanya alam semesta, yang tak lain adalah fenomena di luar regularitas layaknya mu'jizat!
Di titik ini, argumen di atas sejatinya sudah cukup. Tapi, kita juga bisa melangkah lebih jauh lagi. Fakta bermulanya alam semesta tanpa didahului fenomena alam lain membuat kita tak lagi bisa menjelaskan penyebabnya lewat sains. Di sini lah ilmu logika bekerja. Bermulanya sesuatu dari ketiadaan secara rasional mengharuskan adanya penyebab yang menjadikannya ada, yang berbeda dari alam semesta, tidak terkungkung hukum alam maupun ruang-waktu, dan memiliki Pengetahuan, Kehendak, dan Kekuasaan untuk mewujudkan alam semesta itu sendiri. Al-Baydhawi menjelaskan dalam tafsir beliau atas Al-Baqarah 164 bagaimana bermulanya alam semesta dari ketiadaan berimplikasi:
وعَلى هَذا الوَجْهِ لِبَساطَتِها وتَساوِي أجْزائِها، فَلا بُدَّ لَها مِن مُوجِدٍ قادِرٍ حَكِيمٍ، يُوجِدُها عَلى ما تَسْتَدْعِيهِ حِكْمَتُهُ وتَقْتَضِيهِ مَشِيئَتُهُ، مُتَعالِيًا عَنْ مُعارَضَةِ غَيْرِهِ.
“Dan berdasarkan sudut pandang ini, karena kesederhanaannya dan kesamaan bagian-bagiannya, maka ia pasti membutuhkan suatu Pengada yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana, yang mengadakannya sesuai dengan apa yang dituntut oleh hikmah-Nya dan dikehendaki oleh kehendak-Nya, seraya Mahatinggi dari adanya pihak lain yang dapat menentang-Nya.”
Fakta bahwa fenomena alam tidak disebabkan oleh fenomena alam lain juga memberi tahu kita bahwa Entitas yang menciptakan alam semesta ini lah yang menjadi sebab efektif seluruh fenomena alam yang ada. Maka, Ia bebas mencipta seperti apa pun, baik dalam bentuk keteraturan yang kita deskripsikan sebagai sains ataupun ketakteraturan yang kita sebut sebagai mu'jizat. Tak ada pertentangan antara keduanya.
Wallahu a'lam.
Ingin membaca lebih detail tentang bukti rasional di balik pokok-pokok keimanan Islam? Silahkan baca buku “Logika Keimanan” edisi terbaru.
Ingin tahu bagaimana argumentasi rasional Al-Qur’an soal Tuhan, kenabian, sains, dan iman? Silahkan baca e-book “Tilka Hujjatuna: Ayat-Ayat Logika Keimanan”.
Jika ingin mentraktir kopi penulisnya, silahkan klik di sini.
Jika tulisan ini bermanfaat, silahkan bagikan ke rekan-rekan anda:
Tentu saja penerimaan terhadap produk saintifik ini juga harus dibersamai pemahaman atas level epistemik produk saintifik tersebut. Ada produk saintifik yang punya level kepercayaan sangat tinggi karena begitu banyaknya bukti, seperti teori Big Bang, teori evolusi spesies, teori atom, mekanika kuantum, relativitas umum, dan lain-lain. Sebaliknya, ada juga produk saintifik yang masih berupa dugaan, bahkan spekulasi, seperti multiverse, String theory, dan lain-lain.
Tentu saja poin ini bisa dikritik dengan menyebutkan fakta adanya teori-teori tandingan yang sedang disusun sebagian fisikawan sebagai alternatif dari Big Bang, termasuk teori alam semesta tanpa permulaan. Fakta ini tidak bertentangan dengan klaim di tulisan ini bahwa teori kosmologi Big Bang yang mengusung bermulanya alam semesta tetap lah teori terbaik yang kita miliki saat ini! We work with the best theorem that we have right now! Sebagian fisikawan seperti Alexander Valenkin bahkan berargumen bahwa modifikasi atas teori Big Bang sulit untuk lari dari kondisi bermulanya alam semesta itu sendiri.
Premis bermulanya alam semesta ini juga punya bukti lain di luar sains, yaitu bukti filosofis. Salah satunya adalah burhan at-tathbiq yang membuktikan absurditas waktu tak berhingga ke masa lalu. Tapi poin ini sengaja kita kesampingkan di tulisan ini karena fokus pada bukti saintifik.
Tentu saja penerimaan atas mungkinnya sesuatu di luar regularitas tidak lantas mengharuskan kita menerima semua klaim mu'jizat atau karomah. Begitu juga, ini tak berimplikasi bahwa sains yang berbasis regularitas adalah sesuatu yang tak bisa dipercaya. Adanya regularitas dan validitas sains secara umum adalah sesuatu yang pasti. Tapi, meyakini keduanya tidak berimplikasi meyakini kausalitas natural mutlak dan mustahilnya mu'jizat.
No posts

Comments
Nothing yet. Say the first thing.
Sign in to join the conversation.