RSS Amplifier

Indirect Resource · Mar 8, 2021

Tujuan dari Bitcoin Dibuat

0
Sign in to vote or save

Budi Sukmana · Indirect Resource

Pembaruan Terkini: 17 November 2022

Chris Burniske dan Jack Tatar dalam bukunya yang berjudul “Cryptoassets: The Innovative Investor’s Guide to Bitcoin and Beyond” mengatakan:

“Bitcoin is the genesis of the blockchain movement. It is common to compare newly created blockchains with Bitcoin’s because Bitcoin’s blockchain is the longest standing point of reference. Therefore, understanding the basic of Bitcoin is critical.”

Satu-satunya cara, untuk dapat memiliki fundamental yang benar untuk dapat memahami dunia crypto, mulailah dengan memiliki landasan pemahaman yang tepat mengenai Bitcoin.

Pemahaman tersebut dapat kita gunakan untuk memahami apa itu Ethereum. Pehamaan dasar mengenai Ethereum dapat kita gunakan untuk memahami DeFi (Decentralized Finance), NFT, dan seterusnya.

Ada sebuah komunitas internet di tahun 1990-an, yang menamakan dirinya Cypherpunk. Kebanyakan anggota dari komunitas tersebut adalah para ahli kriptografi (cryptography) dan programmer.

Kepedulian mereka terhadap pentingnya privasi bagi seorang individu di internet ditunjukkan dengan berbagai usaha sukarela yang mereka lakukan dengan mengadvokasi penggunaan berbagai teknologi kriptografi dan teknologi lainnya yang terkait untuk mencapai tujuan tersebut.

Dari sejak awal, komunitas ini sudah menaruh perhatian khusus kepada kebijakan moneter di saat itu (yang masih berlaku hingga saat ini) dan berbagai masalah privasi yang terjadi pada saat uang menjadi digital.

Hal ini terlihat sangat jelas pada saat Eric Hughes, seorang cypherpunk, merilis Cypherpunk’s Manifesto, di tahun 1993, yang di salah satu paragrafnya, mengatakan:

“Since we desire privacy, we must ensure that each party to a transaction have knowledge only of that which is directly necessary for that transaction. Since any information can be spoken of, we must ensure that we reveal as little as possible...”

Tidak mengherankan, apabila di saat itu banyak bermunculan proyek yang mencoba mengawinkan berbagai karakteristik transaksi tunai dari dunia nyata ke dalam jagat digital.

Hanya sayangnya, tidak ada satu pun proyek digital cash tersebut yang berhasil diadopsi oleh banyak orang. Setiap usaha yang sudah dilakukan, apakah itu hanya berhenti di tahap proposal atau product-to-market yang belum tepat, atau semata-mata proyek tersebut tidak sanggup untuk berkembang lebih jauh lagi.

Cold, hard cash had long provided an anonymous way of making payments, but this cash did not make the transition over to the digital realm. As soon as money became digital, some third party, such as a bank, was always involved and therefore able to trace the transaction.

~ Nathaniel Popper

Hingga sampai akhirnya di tahun 2008.

Di saat dunia (terutama Amerika Serikat) yang saat itu sedang ditengah badai krisis finansial tahun 2008 , tepatnya pada tanggal 31 Oktober 2008, pukul 02:10 pagi waktu New York, seseorang (sekelompok) yang menamakan dirinya Satoshi Nakamoto mengirim sebuah pesan yang dilengkapi dengan sebuah dokumen berjumlah 9 (sembilan) halaman pdf dengan judul “Bitcoin: A Peer to Peer Electronic Cash System” — yang setelahnya di kenal sebagai Bitcoin Whitepaperke sebuah mailing list kriptografi yang saat ini sudah tidak akfif lagi.

“I’ve been working on a new electronic cash system that’s fully peer-to-peer, with no trusted third party.”

~Satoshi Nakamoto

Sayangnya, hanya dua orang dari anggota milis tersebut yang memberikan komentar terhadap pesan dan whitepaper dari Satoshi tersebut. Dan keduanya memberikan komentar negatif, mengingat banyaknya proyek digital cash yang gagal sampai saat itu.

All other attempts to do this had failed. Was there any reason to believe that Nakamoto’s system would be better at generating mass appeal?

~ Paul Vigna & Michael J. Casey

Tapi Satoshi tidak menyerah sampai di sana, hingga akhirnya ada seseorang dari anggota milis tersebut yang bernama Hal Finney, yang memberikan komentar secara positif:

“This does seem to be a very promising and original idea, and I am looking forward to seeing how the concept is further developed.”

Setelah kejadian itu, komunikasi antara Satoshi dan Finney menjadi semakin intens.

Tidak hanya itu, Finney adalah orang pertama selain Satoshi (node #2) yang menjalankan Bitcoin Software untuk mendapatkan 50 BTC di setiap 10 (sepuluh) menit setelahnya.

Dan Finney jugalah node yang pertama kali menerima transaksi bitcoin sejumlah 10 BTC dari Satoshi, yang catatan transaksinya sampai kapanpun dapat kita lihat disini.

Setelah itu, the rest is history.

Mari kita lihat ke bagian introduction dari Bitcoin Whitepaper:

Commerce on the Internet has come to rely almost exclusively on financial institutions serving as trusted third parties to process electronic payments. While the system works well enough for most transactions, it still suffers from the inherent weaknesses of the trust based model.

Pada bagian tersebut, Satoshi menyampaikan bahwa digital money transaction saat ini membutuhkan kepercayaan dari para penggunanya pada sebuah pihak ketiga yang spesifik (institusi keuangan) untuk mengawasi dan mencatat posisi perpindahan kepemilikan uang (aset) — ini yang dimaksud dengan trust based model.

Walaupun sistem tersebut secara umum dapat berjalan dengan baik, tapi bagi Satoshi masih memiliki beberapa kelemahan.

Completely non-reversible transactions are not really possible, since financial institutions cannot avoid mediating disputes.

Karena artinya, apabila sangat diperlukan, sebuah institusi keuangan (bank) dapat mengembalikan transaksi yang sudah terjadi/tercatat, alias mutable.

Yang di mana hal ini mengakibatkan:

(1)The cost of mediation increases transaction costs, (2)limiting the minimum practical transaction size and cutting off the possibility for small casual transactions, and (3)there is a broader cost in the loss of ability to make non-reversible payments for non-reversible services. With the possibility of reversal, the need for trust spreads. Merchants must be wary of their customers, hassling them for more information than they would otherwise need. A certain percentage of fraud is accepted as unavoidable.

  1. biaya mediasi dari sebuah proses memediasi sebuah transaksi menjadi tinggi;

  2. perpindahan uang yang nilainya relatif kecil menjadi tidak memungkinkan;

  3. masalah tambahan untuk sebuah bisnis (merchant) yang tidak menyediakan jasa pengembalian produk atau jasa setelah terjadinya transaksi.

Bagi Satoshi, ketidakpastian dan harga yang harus dibayar oleh permasalahan di atas hanya dapati dihindari apabila jenis transaksi tunai dapat benar-benar diaplikasikan di jagat digital (digital cash).

These costs and payment uncertainties can be avoided in person by using physical currency, but no mechanism exists to make payments over a communications channel without a trusted party.

Yang hingga saat itu belum ada satu sistem pun yang dapat mengakomodir hal tersebut.

Mari kita lihat ke bagian abstract dari Bitcoin Whitepaper:

Abstract. A purely peer-to-peer version of electronic cash would allow online payments to be sent directly from one party to another without going through a financial institution.

Satoshi mengusulkan untuk membuat sebuah sistem digital money transaction dengan memanfaatkan jaringan peer-to-peer, sehingga digital cash transaction dapat terjadi tanpa melalui institusi keuangan.

Dengan menawarkan “gabungan” 4 (empat) solusi di bawah ini:

(1)Digital signatures provide part of the solution, but the main benefits are lost if a trusted third party is still required to prevent double-spending. (2)We propose a solution to the double-spending problem using a peer-to-peer network. (3)The network timestamps transactions by hashing them into an ongoing chain of hash-based proof-of-work, forming a record that cannot be changed without redoing the proof-of-work. (4)The longest chain not only serves as proof of the sequence of events witnessed, but proof that it came from the largest pool of CPU power. As long as a majority of CPU power is controlled by nodes that are not cooperating to attack the network, they'll generate the longest chain and outpace attackers. The network itself requires minimal structure. Messages are broadcast on a best effort basis, and nodes can leave and rejoin the network at will, accepting the longest proof-of-work chain as proof of what happened while they were gone.

Empat Solusi yang ditawarkan oleh Satoshi Nakamoto melalui Bitcoin
  1. Penggunaan digital signature untuk membuat sebuah transaksi di Bitcoin. Sehingga Alice tidak perlu memperkenalkan dirinya ke Bitcoin Network, untuk dapat mengirim sejumlah bitcoin ke Bob.

    Agar transaksi yang dilakukan menjadi anonymous seperti transaksi tunai di dunia nyata.

  2. Institusi keuangan sebagai pihak ketiga yang spesifik dan terpusat (centralized) diganti oleh peer-to-peer network, sebagai pihak ketiga yang tidak spesifik dan tidak terpusat (decentralized).

    Tujuannya adalah agar transaksi di Bitcoin menjadi permisionless dan di saat yang bersamaan pihak yang memediasi proses transaksi di Bitcoin dapat terhindar dari risiko single point of attack/failure.

  3. Apabila transaksi yang dibuat di no.1 adalah valid, Bitcoin Network akan mencatatnya di sebuah ongoing chain of hash-based proof of work. Ini sebenarnya yang disebut sebagai blockchain.

    Untuk konteks saat ini yang perlu kita pahami adalah bahwa pencatatan transaksi tidak dicatat oleh bank, tetapi oleh siapapun yang mau mengambil peran dan mengikuti aturan di Bitcoin Network.

  4. Bagian ke-4 ini adalah merupakan bagian dari Bitcoin Protocol yang harus disepakati oleh siapapun yang berpartisipasi aktif pada Bitcoin Network. Yang akan kita bahas di artikel mendatang mengenai bagaimana cara Bitcoin bekerja.

Secara sekilas, permasalahan yang terlihat seperti sederhana ternyata membutuhkan beberapa solusi yang terkesan sangat rumit.

Dalam konteks artikel ini, yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah:

  1. Bitcoin bukanlah usaha pertama dari seorang/sekelompok manusia untuk mencoba membawa konsep transaksi tunai ke internet.

    Although bitcoin was the first successful cryptoasset to reach a significant scale, it built on previous failed attempts. The first such attempt traces back to the 1980s and the development of the Chaum blind signature. Bitcoin’s technical architecture also borrows heavily from additional attempts, such as 1997’s Hashcash and 1998’s Bit Gold and B-Money.

    ~ Matt Hougan, David Lawant

    Tapi, Bitcoin adalah proyek digital cash pertama yang sukses, yang dapat diterima oleh banyak orang. Setidaknya sampai saat ini.

  2. Satoshi Nakamoto menggunakan beberapa gabungan teknologi, seperti: kriptografi (public key cryptography, digital signature, hash), distributed ledger technology (blockchain), dan sebuah mekanisme persetujuan (consensus mechanism) di sebuah peer-to-peer network (decentralized network) agar Bitcoin dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

    Nakamoto’s solution to this problem (and the core idea behind all blockchain databases today) was to create a single distributed database that is accessible to everyone—where anyone in the world can view balances and submit transactions at any time—but where the ledger is not controlled by any single corporation, government, person, or entity. In other words, a “distributed ledger” that is “permissionless” and is maintained on a “decentralized” basis.

    ~ Matt Hougan, David Lawant

Sehingga, sebuah gerakan yang diawali oleh Satoshi dan digawangi oleh para pendukung awalnya (early adopters) berhasil membawa digital cash ke realita jagat maya.

For the first time in history, we have a system that can send value from A to B, without the physical movement of items or using specific third-party intermediaries.

~Antony Lewis

Setidaknya, itulah tujuan awal dari Bitcoin dibuat.

Jauh sebelum akhirnya bitcoin memiliki sebuah narasi (imajinasi kolektif) seperti gold-like asset (digital gold), yang dimanfaatkan oleh kebanyakan spekulator sebagai highly-speculative store of value asset.

No posts

Read the original on budisukmana.substack.com

Comments

Nothing yet. Say the first thing.

    Sign in to join the conversation.