RSS Amplifier

BANGGHUL Media | Ghulam Tufail · Aug 4, 2026

Enak, Tapi Satu Track Ini Harusnya Gak Ada (Pintu Darurat – Jalur Evakuasi | EP Review)

0
Sign in to vote or save

This page did not load. You can still read it on the original site — the toolbar below keeps your place in the directory.

Pintu Darurat adalah trio pop punk asal Surabaya yang beranggotakan Sang Agge (vokal dan gitar), Awan (vokal dan bass), dan Dimas (drum).

Pintu Darurat adalah trio pop punk asal Surabaya yang beranggotakan Sang Agge (vokal dan gitar), Awan (vokal dan bass), dan Dimas (drum). Pada tahun 2025, mereka merilis EP debut bertajuk Jalur Evakuasi — berisi 6 track: Berantakan, Berulang Kali Aku Tersesat, Paranoia, Bacot, Jadi Superstar, dan Sarkas. Yang menarik dari proses pembuatannya: track terakhir, Sarkas, awalnya sama sekali tidak direncanakan masuk ke dalam EP ini. Band menganggapnya terlalu simple dan liriknya terlalu naïf — sampai akhirnya banyak orang yang related, dan setelah “debat sekian purnama” keputusannya diubah. EP ini diproduksi mayoritas di home studio, dan dari kesederhanaan itu, Pintu Darurat berhasil menghasilkan sesuatu yang layak — layak didengar, layak masuk playlist. Tapi ada satu hal yang bikin perjalanan dengerin EP ini jadi gak mulus, dan gue akan bahas itu di sini.

Musik: Tiga Lagu Pertama Bagus, Satu Lagu Ini Bikin Semua Berantakan

Jujur, ketika pertama kali dengerin track pembuka Berantakan, reaksi gue langsung: wow, menarik. Pop punk yang fresh — dan ini dari band yang produksinya mostly home studio, mayoritas rekaman di kamar. Dari segi komposisi aja udah bikin penasaran untuk terus dengerin lanjutannya. Track pertama lewat dengan enak. Track kedua masih enak. Track ketiga juga masih happy dengerin-nya.

Terus masuk ke track keempat: Bacot.

Mood gue langsung ngedrop. Parah. Bacot durasinya cuma 52 detik, isinya ya lirik yang basically ngatain orang doang — “banyak bacot, tutuplah mulutmu”, diulang-ulang. Selesai. Dan itu merusak segalanya. Tiga track pertama udah bangun mood yang enak banget, terus tiba-tiba Bacot ngehancurin semuanya. Track kelima pun tidak berhasil memperbaiki mood yang udah rusak itu. Untungnya track keenam, Sarkas, menyelamatkan situasi — jadi penutup yang pas, yang adem, yang cocok di posisi akhir.

Tapi tetap saja: Bacot ini menurut gue seharusnya tidak ada di dalam EP ini. Sama sekali. Kalau gue yang nyusun tracklist, Bacot gue keluarin. Jadiin konten sosmed aja — 52 detik, cocok banget. Atau simpan untuk rilisan lain. Bukan setiap hal yang kita kerjakan harus langsung dirilis sekarang, dan bukan setiap hal yang udah jadi harus masuk ke satu paket EP juga.

Yang bikin gue makin sayang adalah ironinya: di press release, Pintu Darurat justru bilang Sarkas-lah yang tadinya mau dikeluarkan dari EP ini karena dianggap terlalu simple. Kalau sampai Sarkas yang keluar dan Bacot yang masuk — itu keputusan yang buruk menurut gue. Sarkas jauh lebih layak ada di sini dibanding Bacot.

Kalau Bacot dikeluarkan, EP ini tinggal 5 track — dan 5 track itu solid. Karena dari segi komposisi, mixing, dan mastering, semuanya enak. Produksinya udah matang untuk ukuran home studio. Pintu Darurat punya karakter juga — bisa kedengeran dari tuning gitarnya, gaya komposisinya, dan gaya vokalnya. Tapi Bacot itu seperti split EP jadi dua bagian yang berbeda: tiga track pertama asik, dan tiga track terakhir ngedrop.

Lirik: Slang yang Tepat, Rima yang Jalan, Dan Cerita yang Gue Nangkep

Ini bagian yang paling gue suka dari EP ini. Penulisan liriknya pinter. Simple, mudah dipahami, ada bagian-bagian yang lucu juga. Tapi yang bikin gue kagum adalah gimana mereka bisa nulis dengan gaya bahasa sehari-hari — kayak lagi ngobrol sama temen — tapi tetap berima. Itu bukan hal yang gampang.

Kata-kata slang tongkrongan masuk. Slang bahasa Inggris masuk. Semuanya on point, tidak ada yang terasa dipaksakan. Gue bisa bilang: penulis lirik di Pintu Darurat tahu persis apa yang mereka kerjakan. Ini bukan lirik yang asal jadi.

Ambil contoh di Berulang Kali Aku Tersesat, yang juga jadi track pilihan gue:

Katanya aku seorang wibu
Dunia nyata tak pantas untukku
Berjuta kata maaf pun tak mampu
Dia bergegas meninggalkanku

Kata wibu, circle, skena coffeeshop, fomo — semua masuk secara natural dalam konteks lirik yang berima. Itu keren. Rimanya jalan, konteksnya nyambung, dan gaya bahasanya jujur — kayak lu lagi cerita ke temen soal mantan yang nyakitin.

Kalau gue baca EP ini secara keseluruhan, gue nangkepnya ini tentang seseorang yang biasa aja, yang punya mimpi untuk jadi versi yang lebih baik dari dirinya, tapi perjalanan ke sana tidak mudah — ada luka, ada drama, ada kebisingan di sekitarnya yang ganggu. Dan itu konsisten dari track pertama sampai terakhir.

Di Sarkas, misalnya, ada sisi yang lebih gelap — tentang hubungan yang kelihatannya baik-baik aja di luar, tapi aslinya melelahkan. Dan yang bikin menarik, menurut press release-nya sendiri, lagu ini dianggap “liriknya terlalu naïf” oleh band. Tapi justru di situlah kekuatannya. Banyak orang yang related.

Album Cover: Artworknya Punya Makna — Tapi Eksekusinya Bikin Sayang

Gue mau jujur soal ini. Artwork EP Jalur Evakuasi terasa terlalu childish secara visual. Gambarnya kayak anak SD yang lagi belajar menggambar — komposisinya simple banget, garis-garisnya polos. Gue gak tahu apakah memang itu yang dituju secara artistik, atau memang tidak ada budget untuk cari illustrator yang proper, atau memang begitu keahlian gambarnya. Tapi apapun alasannya, secara visual ini cukup mengganggu.

Yang menarik justru ada di maknanya. Di artwork itu ada sosok orang di tengah, ada pintu yang terbakar, dan ada kursi dengan tali gantung di situ. Kalau lo baca ulang lirik-lirik di EP ini — tentang seseorang yang pengen level up, pengen jadi versi terbaik dari dirinya — dan lo taruh di sebelah visual ini, gambarannya jadi lebih gelap dari yang terlihat di permukaan.

Pintu yang terbakar itu bisa dibaca sebagai satu-satunya jalan yang tersisa. Jalur evakuasi-nya. Dan tali gantung itu — yeah, lo bisa simpulkan sendiri ke mana arahnya. Ini menggambarkan seseorang yang sudah capek. Sudah tidak bisa melihat jalan lain. Terjebak di titik paling buntu. Dan itu, kalau dieksekusi dengan visual yang lebih matang, bisa jadi artwork yang benar-benar powerful.

Sayang banget. Konsep dan maknanya ada, dan itu dalam. Tapi eksekusi visualnya tidak bisa menyampaikan kedalaman itu dengan efektif. Gue tidak mau bilang ini jelek seutuhnya — tapi ini jelas area yang paling perlu dibenahi di rilisan berikutnya. Cari orang yang bisa mengeksekusi ide yang sudah ada itu dengan tangan yang tepat.

Lagu Pilihan

Track pilihan gue adalah Berulang Kali Aku Tersesat — track kedua di EP ini.

Dari segi komposisinya, ini yang paling gue suka di EP ini. Pop punk-nya dapet, ada energi yang langsung nangkep sejak intro. Dan liriknya, seperti yang udah gue bahas, adalah salah satu yang paling on point di EP ini — penggunaan slang-nya tepat semua, rimanya jalan, dan secara emosional gue bisa ikut masuk ke dalam lagunya.

Ketika dengerin Berulang Kali Aku Tersesat, gue terbawa suasana. Dan itu bukan sesuatu yang gampang dibuat. Jadi ya — ini track terbaik di EP ini menurut gue.

Kesimpulan

Pintu Darurat berhasil bikin EP pop punk yang enak didengar. Ada karakter di sana — dari tuning gitarnya, komposisinya, gaya vokalnya — dan yang paling kuat adalah penulisan liriknya. Itu selling point terbesar Pintu Darurat sejauh ini.

EP ini enjoyable. Enak buat didengar di sela-sela waktu. Tapi ini bukan EP yang bikin gue mau repeat terus-terusan. Sesekali oke, tapi belum sampai ke level itu.

Dan satu hal yang gue garis bawahi: keluarkan Bacot dari tracklist ini. Serius. 5 track tanpa Bacot jauh lebih solid dan konsisten pengalaman dengerin-nya dibanding 6 track yang sekarang ada. Gak semua yang kita buat harus langsung masuk ke rilisan, dan Bacot adalah contoh yang paling jelas dari itu di EP ini.

Tapi di luar itu, ini awal yang menjanjikan. Gue penasaran dengan rilisan berikutnya dari mereka.

Score:
Musik – 7/10
Lirik – 7/10
Visual – 4/10
FINAL – 6/10


Thanks for reading BANGGHUL Media | Ghulam Tufail! Subscribe for free to receive new posts and support my work.

Read on bangghulam.substack.com

Comments

Nothing yet. Say the first thing.

    Sign in to join the conversation.