Pemberontakan Angkatan Oemat Islam
| Pemberontakan Angkatan Oemat Islam | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
| Angkatan Oemat Islam | |||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
|
K.H Mahfudh Somalangu ⚔ K.H Nursodik ⚔ K.H. Hambali Kiai Taifur | ||||||
| Pasukan | |||||||
|
Batalyon Suryosumpeno Batalyon Panudju Batalyon Barus Batalyon Sruhandoyo Batalyon Infanteri 405 |
Batalyon Lemah Lanang Batalyon Bangkong Reang Hidayatul Islam Khimayatul Islam | ||||||
| Kekuatan | |||||||
| Tidak diketahui |
1000 (9 Agustus 1950)[1] 800 (Akhir Agustus 1950) 200 (21 September 1950)[2] | ||||||
Pemberontakan Angkatan Oemat Islam adalah konflik bersenjata antara pemerintah dan Angkatan Oemat Islam yang terjadi dari bulan Agustus hingga November 1950.
Latar belakang
[sunting | sunting sumber]Angkatan Oemat Islam (AOI) adalah sebuah laskar bersenjata yang didirikan pada tanggal 11 September 1945 dan dipimpin oleh Mahfudh Somalangu.[3] Selama Revolusi Nasional Indonesia, AOI menjadi kekuatan dominan di Kebumen dan selalu berada di garis terdepan.[4][5]
Ketika persetujuan Konferensi Meja Bundar (KMB) ditandatangani pada tanggal 2 November 1949, AOI menolak keras karena pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) menguntungkan Belanda.[6] Pada bulan Desember 1949, AOI mulai memperkuat pertahanannya dengan membangun lubang dari Wonosari sampai Somalangu serta meningkatkan kekuatan pos penjagaan di Bobotsari, Ungaran, dan Prembun. Pimpinan AOI juga menyuruh anggotanya untuk bersiap dalam menghadapi serangan orang Kafir.[7]
TNI menyerang markas AOI di Krowanan, Prembun pada tanggal 21 Januari 1950 dan AOI tidak membalas tembakan tersebut. Kedua belah pihak kemudian berdamai setelah menemukan bahwa TNI tidak melakukan penelusuran lebih lanjut atas informasi yang masuk mengenai AOI.[8] Namun, peristiwa serangan ini mengakibatkan TNI menangkap anggota AOI di Wadaslintang.[9] Kemudian, TNI melucuti lima anggota AOI yang membawa pistol di Prembun dengan alasan tidak mempunyai surat keterangan pemegang senjata. Merespon hal tersebut, satu kompi AOI datang ke pos TNI Prembun untuk mengambil senjatanya. Kejadian tersebut menyebabkan ketegangan antara pemerintah dan AOI.[9]
Untuk memulihkan kembali hubungan pemerintah dan AOI serta memberikan bentuk apresiasi terhadap AOI atas jasanya pada Revolusi Nasional, pasukan AOI diterima menjadi pasukan APRIS dan dimasukkan ke Batalyon Lemah Lanang APRIS bersama dengan pasukan Surengpati dan satu kompi Hizbullah pimpinan Masduki. Batalyon Lemah Lanang dipimpin oleh K.H. Mahfudh Somalangu.[10] Namun, proses integrasi pasukan AOI ke Batalyon Lemah Lanang mendapat penolakan dari K.H. Mahfudh Somalangu karena hal itu dianggap sebagai tindakan pemerintah untuk menghapus peran AOI. Namun, salah satu pimpinan AOI, K.H. Nursodik, mendukung integrasi pasukan AOI ke APRIS. Hal tersebut menyebabkan perpecahan antara K.H. Mafudz Somalangu dan K.H Nursodik. Dalam perbedaan pandangan antara dua tokoh pimpinan AOI ini, mayoritas pasukan AOI lebih berpihak kepada K.H Mafudz Somalangu sehingga hanya sedikit dari mereka yang bergabung dengan APRIS.[11]
Pemerintah juga mengajukan tawaran perundingan kepada AOI. Namun K.H. Mahfudh Somalangu menolak tawaran tersebut dan dia mendirikan pasukan yang dia namakan Batalyon Khimayatul Islam dan Hidayatul Islam.[12] Selanjutnya, pemerintah juga mengundang K.H. Mahfudh Somalangu ke Pendopo Kabupaten Purworejo pada tanggal 27 Juli 1950 untuk berunding secara damai. Namun, undangan pemerintah ditolak oleh pihak AOI dan pemerintah tidak dapat menemui K.H. Mahfudh Somalangu.[13]
Meskipun tawaran berunding ditolak, pemerintah tetap memilih untuk menyelesaikan permasalahan dengan AOI dengan jalan damai. Pemerintah mengirimkan enam delegasi untuk bertemu dengan K.H. Mahfudh Somalangu pada tanggal 29 Juli 1950 di Somalangu. Setibanya di Somalangu, K.H. Mahfudh Somalangu menolak bertemu dengan para delegasi dan lebih memilih untuk mengirimkan 4 utusannya untuk berunding dengan mereka. Delegasi pemerintah menolak bertemu dengan 4 utusan K.H. Mahfudh Somalangu, dan perundingan batal. Keesokan harinya, pemerintah mengirim Lurah Pringgowijayan, Haji Sahlan, untuk bertemu dengan K.H. Mahfudh Somalangu. Sang utusan dapat bertemu dengan K.H. Mahfudh Somalangu dan mendapatkan kabar bahwa dia tidak suka bernegosiasi.[14]
Langkah negosiasi yang buntu membuat pemerintah mengeluarkan ultimatum kepada K.H. Mahfudh Somalangu agar menyerah untuk menghindari tumpahan darah, sampai dengan tanggal 1 Agustus 1950 pukul 10.00. AOI tidak memperdulikan ultimatum tersebut dan menanggapinya dengan menunjukkan kekuatan senjata.[15][16] Mendengar respons tersebut, TNI mengirimkan pasukan dari Magelang, Gombong, dan Purworejo ke Kebumen. Pasukan dari Magelang adalah Batalyon Suryosumpeno, pasukan dari Gombong adalah Batalyon Sruhandoyo, dan pasukan dari Purworejo adalah Batalyon Panudju dan Batalyon Barus.[15] Operasi militer ini dipimpin oleh Ahmad Yani dan Gatot Subroto.[17]
Pada tanggal 31 Juli 1950, Korps Polisi Militer (CPM) menangkap anggota AOI bernama Khurmen yang mencurigakan di Stasiun Kebumen dan membawanya ke markas untuk diperiksa. Dalam perjalanan ke markas, anggota AOI yang ditangkap meninggal dunia karena mencoba menembak CPM saat ingin merebut senjata. Seusai kematiannya, seseorang melaporkan kejadian tersebut ke markas AOI di Somalangu. Menerima kabar tersebut, AOI memperkuat pertahanannya di Somalangu. Selain itu, personel CPM yang menembaki anggota AOI dihajar massa hingga luka parah karena tindakan tersebut dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap pesantren dan Islam. Merespons ketegangan tersebut, kereta Kutoarjo-Gombong melalui Kebumen ditutup dan sebagian penduduk mengungsi ke Gombong.[18][19] Sementara itu, Batalyon Lemah Lanang pimpinan K.H. Nursodik bergabung dengan AOI karena tidak setuju batalyonnya untuk bergabung dengan Depot Pendidikan yang dianggap sebagai tindakan pemerintah untuk memecah belah dan melucuti batalyonnya.[5] Akan tetapi, satu kompi dari batalyon tersebut, kompi pimpinan Masduki, melarikan diri ke Cilacap dan menjadi pasukan liar.[20] Pasukan AOI juga diperkuat dengan Batalyon Bangkong Reang yang dipimpin oleh K.H Hambali.[21]
Jalannya pemberontakan
[sunting | sunting sumber]Pertempuran Kebumen dan Somalangu
[sunting | sunting sumber]Pasukan Angkatan Oemat Islam (AOI) melancarkan serangan di sekitar Tamanwinangun pada tanggal 1 Agustus 1950 pukul 07:00. Selanjutnya, AOI menyerang markas CPM pada pukul 10:00, sehingga terjadi pertempuran sengit di kota Kebumen sebelah timur dan utara.[22] Pasukan bala bantuan TNI mendatangi Kebumen dan berhasil menggagalkan serangan AOI di kota sehingga mereka melarikan diri ke markas mereka di Somalangu. Sesampainya di Somalangu, mereka menyusun kembali kekuatan.[20]
Pertempuran meluas ke Depokrejo, Sidomoro, Mudal, Poucowarno, Wonosari, dan sepanjang jalan raya Kutowinangun.[23] Pada tanggal 3 Agustus 1950, terjadi pertempuran antara AOI pimpinan K.H. Nursodik dan TNI pimpinan Ahmad Yani selama tiga jam di Wonosari dan di sepanjang jalan raya Kebumen. Dalam pertempuran di Wonosari, banyak anggota AOI yang meninggal dunia, sedangkan di sepanjang jalan raya Kebumen, pihak AOI mencatat kematian lima anggotanya dan pemerintah mencatat ada dua korban, yaitu Sersan Dahlan dan Sugito, pembantu inspektur polisi.[24] AOI juga membuat pertahanan di Selang pada tanggal 3 Agustus.[25]
Pihak TNI mengepung markas AOI di Somalangu pada tanggal 1 Agustus 1950.[26] Kemudian, pertempuran antara pasukan TNI dan 1000 pasukan AOI yang bersenjatakan golok di sekitar Somalangu terjadi dari 4–9 Agustus. Dalam pertempuran tersebut, 30 AOI tewas dan 1 anggota TNI meninggal dunia, yaitu Letnan Tobing.[24] Pengepungan terhadap markas AOI baru berakhir pada tanggal 10 Agustus ketika TNI berhasil menghancurkannya. K.H. Mahfudh Somalangu beserta pasukannya melarikan di menuju ke daerah pegunungan yang terletak di Kebumen Utara.[26]
Pasca penghancuran markas AOI di Somalangu
[sunting | sunting sumber]Setelah melewati Sukorini dan Lipura, akhirnya K.H. Mahfudh Somalangu beserta pasukannya memutuskan untuk menetap di Sadang dan membangun kembali pertahanan di sana. Selama menetap di Sadang, mereka menggunakan kekerasan terhadap penduduk desa yang menolak untuk membantu mereka.[26]
TNI berhasil mengalahkan pasukan AOI di Sadang pada tanggal 26 Agustus 1950, sehingga mereka melarikan diri ke Kalibening.[26] Sesampainya di Kalibening, pasukan AOI terpecah menjadi dua. Pasukan K.H. Nursodik yang berjumlah 200 orang melarikan diri ke utara untuk bergabung dengan DI/TII pimpinan Amir Fatah di daerah Pekalongan. Sementara itu, pasukan pimpinan K.H. Mahfudh Somalangu yang berjumlah sekitar 600 jiwa menetap di Glempongsari. Selama menetap di Glempongsari, pasukan K.H. Mahfudh Somalangu mendapatkan pasokan makanan dari rakyat secara paksa. Apabila menolak, mereka akan merampas dan membakar rumah seperti di Kutayasa.[27] Dari tanggal 29–30 Agustus, terjadi pertempuran antara gabungan pasukan TNI dan Korps Polisi Militer dengan AOI di Kaligowong dan pasukan pemerintah berhasil merebut markas AOI. Selain itu juga, pasukan pemerintah menangkap para 40 kurir yang hendak mengirimkan nasi kepada pasukan AOI di sekitaran Kaligowong.[28]
TNI terus mengintai pergerakan pasukan K.H Mahfudh Somalangu sehingga membuat mereka lelah dan kehilangan semangat bertempur.[27] Pada tanggal 5 September 1950, K.H. Mahfudh Somalangu beserta pasukannya dikabarkan berada di Kalipuru. K.H. Mahfudh Somalangu memilih desa tersebut karena lokasinya yang berada di daerah pegunungan dan cocok untuk melancarkan serangan gerilya.[28] TNI kemudian mengepung pasukan AOI dari arah utara pada tanggal 8 September.[29] AOI dikabarkan berada di Bobotsari pada tanggal 21 September dan berkeinginan bergabung dengan pasukan DI/TII pimpinan Amir Fatah di Pekalongan.[2] Pada tanggal 26 September 1950, TNI menyerang pasukan K.H. Mahfudh Somalangu di Gunung Srandil. Pertempuran sengit tersebut menewaskan pemimpin AOI, K.H. Mahfudh Somalangu, akibat terkena pecahan mortir.[30] Dia kemudian dimakamkan di wilayah Gunung Selok, Cilacap.[31]
Sehari setelah kematian K.H. Mahfudh Somalangu, Suhardoyo menjadi pemimpin operasi penumpasan AOI menggantikan Ahmad Yani.[32] TNI menempatkan pasukannya di Sumpyuh, Karangjati, Kebarongan, Bantu, Banyumas, Krumput, Pekilciran, dan Gumelan untuk menumpas sisa-sisa pasukan AOI yang tercerai-berai.[33] Kemudian, salah satu pimpinan AOI, Kiai Taifur, menyerah di Pacekelan, dan TNI menangkap anaknya, Tarifah, serta Amir, di Pujotirto.[34] Brigade N pimpinan Kusmanto dari Batalyon Infanteri 405 juga ditugaskan untuk mengejar sisa pasukan AOI di Pekalongan pada tanggal 12 Oktober.[35] Pasukan TNI terus mengintai pergerakan pasukan sisa AOI sehingga membuat mereka sulit untuk melakukan koordinasi dan pasokan perbekalan dan persenjataan menipis.[34] Anggota sisa AOI yang terluka parah terpaksa ditinggalkan di hutan.[36]
Pasukan pimpinan K.H. Nursodik yang berjumlah 200 sampai di Pengarasan pada awal bulan Oktober 1950 dan bergabung dengan kelompok DI/TII pimpinan Amir Fatah. Kemudian pasukan Khimayatul Islam AOI pimpinan Fadjeri yang berjumlah 120 bergabung dengan DI/TII pimpinan Amir Fatah. Dengan menerima pasukan bekas AOI, salah satu pimpinan DI/TII Jawa Tengah, Kamran Cakrabuana, memutuskan untuk mendirikan divisi baru yaitu Divisi II/Syarif Hidayat.[37]
Pada awal November 1950, TNI berhasil menewaskan K.H. Nursodik saat pasukannya tiba di daerah Majalengka. Sisa pasukan K.H. Nursodik kemudian bersembunyi di hutan dan bergantung kepada penduduk sekitar untuk makanan.[36] Beberapa pasukan K.H. Nursodik, termasuk adiknya, Chutubi, baru keluar dari hutan pada bulan Agustus 1958 setelah mendengar bahwa pemerintah akan memberikan amnesti.[38]
Pemberontakan Angkatan Oemat Islam berakhir pada bulan November 1950. Setelah berakhir, komando operasi daerah Kebumen diserahkan ke pemerintahan sipil pada tanggal 24 November 1950.[38]
Tahanan pada Pemberontakan AOI
[sunting | sunting sumber]Sepanjang pemberontakan berlangsung, TNI telah menahan 102 anggota AOI, sedangkan AOI menangkap 69 orang yang terdiri dari rakyat biasa, pamong desa, dan PNS. Anggota AOI yang ditawan oleh TNI dipenjara di Nusakambangan dan Kebumen.[39] Pada bulan Maret 1952, 67 tawanan AOI yang dipenjara di Penjara Kebumen dibebaskan atas usul Soeharto. Kemudian pada bulan Desember 1958 semua tahanan AOI baik yang terlibat langsung dalam pemberontakan maupun tidak dibebaskan dari penjara dan tuntutan.[40]
Dampak dari pemberontakan AOI
[sunting | sunting sumber]Pemberontakan AOI menyebabkan terjadinya pengungsi dan timbul korban jiwa. Ketika pertempuran Kebumen terjadi pada 1 Agustus 1950, penduduk kota, khususnya PNS, mengungsi ke luar kota.[20] Penduduk Desa Somalangu mengungsi ke Purworejo, Wonosobo, dan Banyumas, sedangkan sebagian dari mereka yang mendukung AOI membakar rumah mereka yang telah dikosongkan.[24] Pada tanggal 21 Agustus, penduduk dari 11 desa di Alihan mengungsi ke Kebumen. [26] Pada bulan Oktober tercatat ada ribuan orang yang mengungsi, ratusan orang tewas, dan 18 desa hancur.[41] AOI juga dikabarkan telah menewaskan 2 lurah dan 1 guru [42] Korban jiwa dari pemberontakan ini diperkirakan berkisar di angka 1000-2000 jiwa.[19] Pemberontakan ini menyebabkan harga bahan pokok di Kebumen naik.[42]
Pusat Pemerintah Kabupaten Kebumen dipindahkan sementara waktu ke Gombong, dan lembaga pemerintah menyimpan arsip-arsip penting.[24][20] Pemerintah daerah Kebumen baru kembali ke kota Kebumen pada 31 Agustus 1950. Di samping itu, pertempuran di sepanjang jalan raya Kebumen menghancurkan jaringan telepon dan telegraf di sepanjang jalur rel kereta api yang menghubungkan Muntilan dan Jenar.[25] AOI juga menghancurkan jembatan yang menghubungkan Wonosari dan Kebumen. Pasar Malam di Kebumen yang direncanakan akan diadakan pada 5 Agustus dibatalkan.[1] Seusai pemberontakan AOI berakhir, penduduk Desa Somalangu meminta kepada pemerintah untuk mengganti nama desanya menjadi Sumbersari karena nama desa yang lama memiliki kaitan dengan AOI.[41]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 "Gevechten bij Keboemen duren voort". Nieuwe courant. 9 Agustus 1950. hlm. 1. Diakses tanggal 20 Agustus 2026.
- 1 2 "A. O. I. TERUGGETROKKEN". Nieuwe courant. 21 September 1950. hlm. 1. Diakses tanggal 20 Agustus 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Aryono, Aryono. "Perlawanan Laskar Islam". historia.id. Historia. Diakses tanggal 20 Agustus 2026.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 111.
- 1 2 Sarwoto 1994, hlm. 125.
- ↑ Sarwoto 1994, hlm. 94.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 77-78.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 78-79.
- 1 2 Widiyanta 1999, hlm. 79.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 80.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 81.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 82.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 82-83.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 83-84.
- 1 2 Widiyanta 1999, hlm. 85.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 87.
- ↑ Sarwoto 1994, hlm. 110.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 87-88.
- 1 2 Ardhi, Angga Haksoro. "Kisah Pilu Ahmad Yani Disumpah Syekh Mahfudz, Hingga Akhirnya Dieksekusi PKI". suara.com. Suara. Diakses tanggal 20 Agustus 2026.
- 1 2 3 4 Widiyanta 1999, hlm. 89.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 102.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 88.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 90.
- 1 2 3 4 Widiyanta 1999, hlm. 91.
- 1 2 "Hevig treffen tussen eenheden Apris en opstandelingen Ongeregeldheden in Midden Java". Nieuwe courant. 8 Agustus 1950. hlm. 1. Diakses tanggal 20 Agustus 2026.
- 1 2 3 4 5 Widiyanta 1999, hlm. 93.
- 1 2 Widiyanta 1999, hlm. 94.
- 1 2 "Gevechten tussen Mobiele Brigade en A.O.I." Nieuwe courant. 5 September 1950. hlm. 1. Diakses tanggal 20 Agustus 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Sarwoto 1994, hlm. 114.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 94-95.
- ↑ Nurfauzi, Yuhansyah. "Syekh Mahfudz Somalangu, Penggerak Resolusi Jihad di Kebumen". nu.or.id. NU Online. Diakses tanggal 20 Agustus 2026.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 95.
- ↑ Widiyanta 1999, hlm. 95-96.
- 1 2 Widiyanta 1999, hlm. 96.
- ↑ Sarwoto 1994, hlm. 118.
- 1 2 Widiyanta 1999, hlm. 97.
- ↑ Jayusman 2000, hlm. 101.
- 1 2 Widiyanta 1999, hlm. 98.
- ↑ Harnoko & Poniman 1986, hlm. 55 & 57.
- ↑ Harnoko & Poniman 1986, hlm. 57.
- 1 2 van Dijk, Cornelis (1981). Rebellion under the Banner of Islam: The Darul Islam in Indonesia. The Hague: Martinus Nijhoff. hlm. 149.
- 1 2 Harnoko & Poniman 1986, hlm. 56.
Bibliografi
[sunting | sunting sumber]- Harnoko, Darto; Poniman, Poniman (1986). Perang Kemerdekaan Kebumen Tahun 1942-1950 (PDF). Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.
- Jayusman, Jayusman (2000). Gerakan DI/TII Amir Fatah 1949–1950 suatu pemberontakan kaum santri di daerah Tegal-Brebes (Tesis). Universitas Indonesia.
- Sarwoto, Sarwoto (1994). Angkatan Umat Islam di Kebumen 1945-1950 dari perjuangan menuju pemberontakan (Tesis). Universitas Indonesia.
- Widiyanta, Danar (1999). Angkatan Oemat Islam 1945-1950 : Studi tentang gerakan sosial di Kebumen (Tesis). Universitas Indonesia.