Louis XIV dari Prancis
| Louis XIV | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| le Roi Soleil Louis le Grand | |||||
Lukisan Louis XIV dari Prancis oleh Hyacinthe Rigaud (1701) | |||||
| Raja Prancis | |||||
| Berkuasa | 14 Mei 1643–1 September 1715 | ||||
| Pendahulu | Louis XIII | ||||
| Penerus | Louis XV | ||||
| Wali | Ana dari Austria | ||||
| Lahir | Saint-Germain-en-Laye, Kerajaan Prancis 5 September 1638 | ||||
| Meninggal | 1 September 1715 (umur 76) Istana Versailles, Kerajaan Prancis | ||||
| Pemakaman | |||||
| Ayah | Louis XIII dari Prancis | ||||
| Ibu | Anna dari Austria | ||||
| Pasangan | Maria Teresa dari Austria (m. 1660; w. 1683) Françoise d'Aubigné, Marquise de Maintenon (m. 1683) | ||||
| Anak |
Illegitimate:
| ||||
| |||||
| Agama | Katolik Roma | ||||
| Tanda tangan | |||||
Louis XIV (bahasa Prancis: Louis-Dieudonné, 5 September 1638 – 1 September 1715) adalah Raja Prancis dan Navarre yang dinobatkan pada 14 Mei 1643 dalam usia lima tahun. Dia baru mulai berkuasa penuh sejak wafatnya menteri utamanya (Prancis: Premier Ministre) Jules Kardinal Mazarin pada 1661. Louis XIV dijuluki juga sebagai Raja Matahari (Prancis: Le Roi Soleil) atau Louis yang Agung (Prancis: Louis le Grand atau Le Grand Monarque). Ia memerintah Prancis selama 72 tahun, menjadikannya penguasa terlama dalam sejarah Prancis.
Louis XIV meningkatkan kekuasaan Prancis di Eropa melalui tiga peperangan besar: Perang Prancis-Belanda (bahasa Inggris: Franco-Dutch War), Perang Aliansi Besar (Inggris: War of the Grand Alliance) dan Perang Suksesi Spanyol (Inggris: War of the Spanish Succession) antara 1701–1714. Louis XIV berhasil menerapkan absolutisme dan negara terpusat. Ungkapan L'État c'est moi (Negara adalah saya) sering dianggap berasal dari dirinya, walaupun ahli sejarah berpendapat hal ini tidak tepat dan kemungkinan besar ditiupkan oleh lawan politiknya sebagai perwujudan stereotipe absolutisme yang ia anut. Seorang penulis Prancis, Louis de Rouvroy bahkan mengaku bahwa ia mendengar Louis XIV berkata sebelum ajalnya: "Je m'en vais, mais l'État demeurera toujours (Saya akan pergi, tetapi negara akan tetap ada)." Ia digantikan sebagai Raja Prancis, oleh cicitnya yang berusia 5 tahun, Louis XV.
Awal kehidupan dan pendidikan
[sunting | sunting sumber]Louis XIV lahir pada 5 September 1638, anak dari Raja Prancis, Louis XIII, dan permaisurinya, Ana dari Austria. Beberapa bulan sebelum ulang tahunnya yang kelima, ia diangkat menjadi raja pada 14 Mei 1643, menggantikan ayahnya yang meninggal dunia karena sakit. Mengingat usianya yang belum cukup, pemerintahan kemudian dijalankan oleh ibunya sebagai wali kerajaan dan Kardinal Mazarin sebagai perdana menteri. Mazarin berperan sebagai bapak baptisnya dan pengawas pendidikannya.[1]
Louis XIV merupakan anak yang aktif dan sehat, ia menyukai berbagai macam olahraga, termasuk berkuda dan berburu. Ia juga mendapat pelajaran tari, terutama balet, yang membuatnya mampu mengontrol gerakan tubuh dan ekspresi wajah dengan sempurna. Louis juga punya hubungan yang cukup dekat dengan saudaranya.[1]
Louis mendapat pendidikan agama dasar dari ibunya dan Mazarin, meski mereka bukan ahli teologi. Pada tahun 1644, Hardouin de Péréfixe, doktor lulusan Sorbonne yang memiliki reputasi brilian di Paris, ditunjuk sebagai tutor utama bagi sang raja muda. Louis mempelajari sejarah dari pelayannya, La Porte, yang akan membacakan buku Sejarah Prancis (bahasa Prancis: Histoire de France) karya Mézeray. Péréfixe juga menghasilkan satu buku sejarah yang dibaca Louis, meski sebagian besar isinya telah hilang, kecuali bagian terakhir mengenai Henri IV.
Péréfixe dan Mazarin membentuk fondasi pendidikan Louis XIV. Louis menemui Mazarin beberapa kali dalam sehari untuk belajar dan makin lama pertemuannya makin panjang. Sementara Péréfixe menyusun risalah tentang pendidikan pangeran yang dipublikasikan pada 1647. Ajaran-ajarannya tidak berbeda jauh dari ajaran Mazarin dan digunakan Louis untuk menulis instruksi pendidikan bagi pewaris takhta di memoarnya. Risalah Péréfixe, ajaran Mazarin, dan memoar Louis XIV menjadi satu kesatuan yang membentuk fondasi pendidikan pangeran.[2]
Selama kurang lebih 13 tahun, pemerintahan dijalankan oleh walinya dan Kardinal Mazarin. Louis menerima banyak saran dan pendapat dari kedua orang tersebut yang kemudian membentuk pemikiran dan kepercayaannya terkait kekuasaan dan kewenangan raja.
Masa pemerintahan penuh
[sunting | sunting sumber]Tahun dan reformasi awal
[sunting | sunting sumber]Pada 1651, Louis XIV dianggap sudah dewasa dan mampu memimpin secara penuh. Namun, ia baru benar-benar bisa menguasai tampuk pemerintahan setelah kematian Kardinal Mazarin pada Maret 1661 saat Louis berusia 23 tahun. Sejak saat itu, ia mengumumkan untuk menggunakan otoritasnya secara penuh dan tidak lagi mengangkat perdana menteri. Pemerintahannya dijalankan oleh para menteri dalam beberapa dewan yang berbeda.
Selama ini, saya memercayakan pengelolaan urusan saya kepada mendiang Kardinal. Kini tiba saatnya saya mengelolanya sendiri. Anda sekalian [para sekretaris dan menteri] akan membantu saya dengan nasihat saat saya memintanya. Saya meminta dan memerintahkan Anda untuk tidak membubuhkan cap resmi pada dokumen apa pun kecuali atas perintah saya... Saya perintahkan Anda untuk tidak menandatangani apa pun, bahkan surat jalan sekalipun... tanpa perintah saya; untuk melapor langsung kepada saya setiap hari; serta untuk tidak memihak siapa pun.[3]
Memanfaatkan kerinduan masyarakat luas akan perdamaian dan ketertiban setelah berpuluh-puluh tahun dilanda konflik asing dan perang saudara, sang raja muda mengonsolidasikan kekuasaan politik pusat dengan mengorbankan posisi kaum bangsawan feodal. Sembari memuji kemampuannya dalam memilih dan mendukung orang-orang berbakat, sejarawan Chateaubriand mencatat: "suara dari segala jenis kejeniusanlah yang bergema dari makam Louis".
Louis mengawali masa pemerintahannya secara langsung dengan melakukan reformasi administratif dan fiskal. Pada tahun 1661, kas negara berada di ambang kebangkrutan. Untuk memperbaiki keadaan tersebut, Louis menunjuk Jean-Baptiste Colbert sebagai Pengawas Umum Keuangan pada tahun 1665. Namun, sebelumnya Louis harus melumpuhkan Nicolas Fouquet, pejabat tinggi keuangan yang sangat berpengaruh. Meskipun penyimpangan keuangan yang dilakukan Fouquet tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan pendahulunya, Mazarin, ataupun Colbert, ambisinya membuat Louis merasa khawatir. Ia menjamu sang raja secara mewah di istana megah Vaux-le-Vicomte, memamerkan kekayaan yang mustahil terkumpul tanpa melalui penggelapan dana pemerintah.
Fouquet tampak berhasrat untuk menggantikan posisi kekuasaan Mazarin dan Richelieu; ia secara gegabah membeli dan membangun benteng pribadi di pulau terpencil Belle Île. Tindakan-tindakan inilah yang menjadi penyebab kejatuhannya. Fouquet didakwa melakukan penggelapan dana; Parlement menyatakan dirinya bersalah dan menjatuhkan hukuman pengasingan, namun pada akhirnya Louis mengubah hukuman tersebut menjadi penjara seumur hidup.
Jatuhnya Fouquet memberi Colbert keleluasaan untuk mengurangi utang negara melalui sistem perpajakan yang lebih efisien. Pajak-pajak utamanya meliputi aides dan douanes (keduanya merupakan bea cukai), gabelle (pajak garam), serta taille (pajak tanah). Pada awalnya, taille diturunkan nilainya, dan kontrak-kontrak pemungutan pajak tertentu dilelang alih-alih dijual secara pribadi kepada segelintir pihak yang diistimewakan. Para pejabat keuangan diwajibkan untuk menyelenggarakan pembukuan secara berkala, memperbarui daftar inventaris dan menghapus pengecualian yang tidak sah; hingga tahun 1661, hanya 10 persen dari pendapatan wilayah kerajaan yang sampai ke tangan raja. Upaya reformasi harus mengatasi kepentingan-kepentingan yang sudah mapan: pajak taille dipungut oleh pejabat kerajaan yang telah membeli jabatan mereka dengan harga tinggi, dan penindakan terhadap penyimpangan tentu saja menurunkan nilai pembelian jabatan tersebut. Kendati demikian, Colbert mencapai hasil yang luar biasa; defisit tahun 1661 berubah menjadi surplus pada tahun 1666, sementara beban bunga utang turun dari 52 juta menjadi 24 juta livre. Nilai pajak taille diturunkan menjadi 42 juta pada tahun 1661 dan 35 juta pada tahun 1665, sedangkan pendapatan dari pajak tidak langsung meningkat dari 26 juta menjadi 55 juta. Pendapatan dari wilayah kerajaan ditingkatkan dari 80.000 livre pada tahun 1661 menjadi 5,5 juta pada tahun 1671. Pada tahun 1661, penerimaan tersebut setara dengan 26 juta pound Inggris, yang mana 10 juta di antaranya masuk ke kas negara. Pengeluaran tercatat sekitar 18 juta pound, sehingga terjadi defisit sebesar 8 juta. Pada tahun 1667, penerimaan bersih telah meningkat menjadi 20 juta pound sterling, sementara pengeluaran turun menjadi 11 juta, menghasilkan surplus sebesar 9 juta pound.

Uang merupakan penopang utama bagi angkatan bersenjata yang telah ditata ulang dan diperbesar, kemegahan istana Versailles, serta administrasi sipil yang kian berkembang. Masalah keuangan senantiasa menjadi titik lemah monarki Prancis: pemungutan pajak memakan biaya tinggi dan tidak efisien; nilai pajak langsung seringkali menyusut saat melewati tangan berbagai pejabat perantara; sementara pajak tidak langsung dipungut oleh kontraktor swasta—yang dikenal sebagai "petani pajak"—yang meraup keuntungan besar.
Kelemahan ekonomi yang utama bermula dari kesepakatan lama antara takhta Prancis dan kaum bangsawan: raja boleh menaikkan pajak nasional tanpa persetujuan, asalkan ia membebaskan kaum bangsawan dari kewajiban tersebut. Hanya golongan "unprivileged" atau orang biasa yang membayar pajak langsung—yang pada praktiknya berarti hanya kaum petani—karena sebagian besar kaum borjuis berhasil mendapatkan pengecualian dengan berbagai cara. Sistem tersebut membebankan seluruh biaya negara ke pundak kaum miskin dan tak berdaya. Setelah tahun 1700, berkat dukungan istri simpanan Louis yang saleh, Madame de Maintenon, sang raja dibujuk untuk mengubah kebijakan fiskalnya. Meskipun sebenarnya bersedia memungut pajak dari kaum bangsawan, Louis khawatir akan konsesi politik yang akan mereka tuntut sebagai imbalannya. Baru menjelang akhir masa pemerintahannya, di bawah tekanan perang yang sangat mendesak, ia berhasil—untuk pertama kalinya dalam sejarah Prancis—memberlakukan pajak langsung terhadap kaum bangsawan. Ini merupakan langkah menuju kesetaraan di hadapan hukum dan tata kelola keuangan publik yang sehat, meskipun penerapannya, seperti yang sudah dapat diduga, berkurang akibat berbagai konsesi dan pengecualian yang diperoleh melalui desakan terus-menerus dari kaum bangsawan dan borjuis.[4]
Louis dan Colbert juga memiliki rencana berskala luas untuk mengembangkan perdagangan dan perniagaan Prancis. Pemerintahan Colbert yang menganut paham merkantilisme mendirikan berbagai industri baru serta memberikan dukungan kepada para produsen dan penemu, seperti produsen sutra Lyon dan pabrik permadani Gobelins. Ia mengundang para produsen dan perajin dari seluruh Eropa ke Prancis, seperti pembuat kaca Murano, pengolah besi Swedia dan pembuat kapal Belanda. Tujuannya adalah mengurangi impor sekaligus meningkatkan ekspor Prancis, sehingga dapat menekan arus keluar bersih logam mulia dari negara tersebut.
Louis melakukan reformasi dalam administrasi militer melalui Michel le Tellier dan putranya, François-Michel le Tellier—keduanya menyandang gelar "Marquis de Louvois" secara berturut-turut. Mereka berperan meredam semangat kemandirian kaum bangsawan serta menegakkan ketertiban di kalangan mereka, baik di lingkungan istana maupun di dalam angkatan bersenjata. Tidak ada lagi masa ketika para jenderal memperpanjang perang di wilayah perbatasan sembari berselisih mengenai urutan senioritas serta mengabaikan perintah dari ibu kota dan gambaran strategis yang lebih luas. Praktik aristokrasi militer lama seperti kaum bangsawan pedang (bahasa Prancis: noblesse d'épée) yang memonopoli jabatan militer senior dan pangkat-pangkat tinggi juga dihapuskan. Louvois memodernisasi angkatan darat dan menatanya kembali menjadi kekuatan yang profesional, disiplin dan terlatih dengan baik. Ia menaruh perhatian besar pada kesejahteraan materi dan moral para prajurit, bahkan berupaya mengarahkan jalannya kampanye militer.
Hubungan dengan negara koloni
[sunting | sunting sumber]Reformasi hukum Louis dituangkan dalam berbagai "Maklumat Agung" miliknya. Sebelumnya, sistem hukum di Prancis sangat beragam dan terfragmentasi; terdapat rezim hukum tradisional yang berbeda-beda di setiap provinsi, serta dua sistem hukum yang berlaku berdampingan—yaitu hukum adat di wilayah utara dan hukum perdata Romawi di wilayah selatan. Maklumat Agung tentang Hukum Acara Perdata tahun 1667—yang dikenal sebagai Code Louis merupakan kodifikasi hukum komprehensif yang memberlakukan aturan seragam mengenai hukum acara perdata di seluruh wilayah kerajaan. Antara lain, aturan ini mewajibkan pencatatan pembaptisan, pernikahan dan kematian dalam daftar negara—bukan daftar gereja—serta mengatur secara ketat hak Parlement untuk mengajukan keberatan resmi (remonstrate). Code Louis kemudian menjadi dasar bagi Code Napoléon, yang pada gilirannya menginspirasi banyak kodifikasi hukum modern.
Salah satu dekret Louis yang paling kontroversial adalah Maklumat Agung tentang Koloni Tahun 1685, atau Code Noir (Undang-Undang Kulit Hitam). Meskipun melegalkan perbudakan, aturan ini berupaya memanusiakan praktik tersebut dengan melarang pemisahan anggota keluarga. Selain itu, di wilayah koloni, hanya umat Katolik Roma yang diperbolehkan memiliki budak, dan para budak tersebut wajib dibaptis.
Louis memerintah melalui sejumlah dewan:
- Dewan Tinggi (bahasa Prancis: Conseil d'en haut): terdiri atas raja, putra mahkota, pengawas umum keuangan, dan para menteri negara yang membawahi berbagai departemen. Anggota dewan tersebut disebut menteri negara.
- Dewan Pesan (bahasa Prancis: Conseil des dépêches): dewan yang mengurus semua pemberitahuan dan laporan administratif dari provinsi-provinsi.
- Dewan Hati Nurani (bahasa Prancis: Conseil de Conscience): mengenai urusan keagamaan dan pengangkatan uskup.
- Dewan Keuangan Kerajaan (bahasa Prancis: Conseil royal des finances): dipimpin oleh chef du conseil des finances (jabatan kehormatan dalam kebanyakan kasus)—ini adalah salah satu dari sedikit jabatan di dewan yang tersedia bagi kaum bangsawan tinggi.
Puncak kekuasaan
[sunting | sunting sumber]Sentralisasi kekuasaan
[sunting | sunting sumber]
Menjelang awal tahun 1680-an, Louis telah memperbesar pengaruh Prancis secara signifikan di dunia. Di dalam negeri, ia berhasil meningkatkan pengaruh serta otoritas takhta atas gereja dan kaum bangsawan, sehingga mengukuhkan monarki absolut di Prancis.

Dengan mengharuskan kaum bangsawan hadir di istananya di Versailles, Louis berhasil memperketat kendali atas aristokrasi Prancis. Menurut sejarawan Philip Mansel, sang raja mengubah istana tersebut menjadi:
Paduan yang begitu memikat antara ajang perjodohan, pusat penyaluran pekerjaan dan pusat hiburan bagi kaum bangsawan Eropa, yang menawarkan teater, opera, musik, perjudian, seks, serta—yang terpenting—kegiatan berburu terbaik.[5]
Apartemen-apartemen dibangun untuk menampung mereka yang bersedia hadir di istana demi menghadap raja. Namun, uang pensiun dan hak-hak istimewa yang diperlukan untuk hidup sesuai dengan status mereka hanya bisa diperoleh dengan senantiasa berada di dekat Louis. Untuk tujuan ini, diciptakanlah sebuah ritual istana yang rumit, di mana raja menjadi pusat perhatian dan diamati oleh khalayak sepanjang hari. Berkat daya ingatnya yang luar biasa, Louis dapat mengetahui siapa saja yang hadir di istana dan siapa yang tidak, sehingga memudahkannya dalam memberikan anugerah maupun jabatan di kemudian hari. Sarana lain yang digunakan Louis untuk mengendalikan kaum bangsawan adalah penyensoran, yang sering kali melibatkan pembukaan surat untuk mengetahui pendapat penulisnya mengenai pemerintah dan raja.
Gaya hidup mewah Louis di Versailles jauh melampaui sekadar ritual istana yang megah. Ia menerima seekor gajah afrika sebagai hadiah dari Raja Portugal. Ia mendorong para bangsawan terkemuka untuk tinggal di Versailles. Hal ini, ditambah dengan larangan memiliki pasukan pribadi, mencegah mereka menghabiskan waktu di tanah milik sendiri maupun di basis kekuasaan daerah mereka—tempat yang secara historis mereka gunakan untuk mengobarkan perang lokal dan merancang perlawanan terhadap otoritas kerajaan. Dengan demikian, Louis memaksa sekaligus membujuk kaum aristokrat militer lama (yang dikenal sebagai "bangsawan pedang") untuk menjadi abdi istana yang menjalankan peran seremonial, sehingga semakin melemahkan kekuasaan mereka.
Prancis sebagai poros peperangan
[sunting | sunting sumber]Di bawah pemerintahan Louis, Prancis merupakan kekuatan utama Eropa dan sebagian besar peperangan berpusat pada sikap agresifnya. Tidak ada negara Eropa lain yang melampaui jumlah penduduknya, serta tidak ada yang mampu menandingi kekayaan, lokasi strategis serta kekuatan tentara profesionalnya yang sangat tangguh. Wilayah ini sebagian besar terhindar dari kehancuran akibat Perang Tiga Puluh Tahun. Kelemahan Prancis antara lain sistem keuangan yang tidak efisien—yang kewalahan membiayai berbagai petualangan militernya—serta kecenderungan sebagian besar kekuatan lain untuk bersekutu melawannya.
Selama masa pemerintahan Louis, Prancis terlibat dalam tiga perang besar: Perang Prancis-Belanda, Perang Sembilan Tahun dan Perang Suksesi Spanyol. Terdapat pula dua konflik berskala lebih kecil: Perang Devolusi dan Perang Reunifikasi. Peperangan-peperangan tersebut memakan biaya yang sangat besar namun menjadi ciri utama kebijakan luar negeri Louis XIV. Didorong oleh "perpaduan antara kepentingan perdagangan, hasrat balas dendam, dan rasa tersinggung", Louis memandang perang sebagai cara ideal untuk meningkatkan kejayaannya. Di masa damai, ia memusatkan perhatian pada persiapan menghadapi perang berikutnya. Ia menanamkan pemahaman kepada para diplomatnya bahwa tugas mereka adalah menciptakan keunggulan taktis dan strategis bagi militer Prancis. Menjelang tahun 1695, Prancis masih mempertahankan sebagian besar dominasinya namun telah kehilangan kendali atas lautan di hadapan Inggris dan Belanda, sementara sebagian besar negara—baik yang beragama Protestan maupun Katolik—telah bersekutu melawannya. Sébastien Le Prestre de Vauban, ahli strategi militer terkemuka Prancis, memperingatkan Louis pada tahun 1689 bahwa "Aliansi" yang memusuhi Prancis tersebut memiliki kekuatan yang terlalu besar di laut. Ia menyarankan agar Prancis melakukan perlawanan dengan memberikan izin kepada kapal dagang Prancis untuk bertindak sebagai "privateer" (perompakan atas izin negara) dan menyita kapal dagang musuh, sembari menghindari angkatan laut musuh:
- Prancis menghadapi musuh-musuh yang telah menyatakan diri sebagai lawan, yaitu Jerman beserta seluruh negara yang bernaung di bawahnya; Spanyol dengan segala wilayah kekuasaannya di Eropa, Asia, Afrika dan Amerika; Adipati Savoy [di Italia], Inggris, Skotlandia, Irlandia, serta seluruh koloni mereka di Hindia Timur dan Barat; dan Belanda dengan segala wilayah miliknya yang tersebar di berbagai penjuru dunia tempat mereka memiliki basis-basis besar. Prancis memiliki musuh-musuh yang tidak menyatakan diri secara terbuka—baik yang memusuhi secara tidak langsung maupun terang-terangan, serta mereka yang iri akan kebesarannya—yaitu Denmark, Swedia, Polandia, Portugal, Venesia, Genoa dan sebagian Konfederasi Swiss; negara-negara ini secara diam-diam membantu musuh-musuh Prancis melalui pengerahan pasukan sewaan, pemberian pinjaman dana, serta perlindungan dan dukungan terhadap kegiatan perdagangan mereka.[6]
Vauban bersikap pesimistis terhadap pihak-pihak yang disebut sebagai teman dan sekutu Prancis:
- Untuk urusan sekutu yang setengah hati, tidak berguna, atau tidak berdaya, Prancis memiliki Paus yang bersikap acuh tak acuh; Raja Inggris (James II) yang terusir dari negerinya; Adipati Agung Tuscany; para Adipati Mantua, Modena, dan Parma [semuanya di Italia]; serta faksi Swiss lainnya. Sebagian dari mereka terlena oleh kenyamanan akibat masa damai yang berkepanjangan, sementara yang lainnya bersikap dingin dalam dukungannya. Oleh karena itu, kita harus beralih pada praktik "privateering" (perompakan berizin negara) sebagai metode peperangan yang paling layak, sederhana, murah, dan aman, serta paling minim biaya bagi negara—terlebih lagi karena kerugian apa pun tidak akan dirasakan oleh Raja, yang praktis tidak menanggung risiko apa pun.... Cara ini akan memperkaya negara, melatih banyak perwira cakap bagi Raja, dan dalam waktu singkat memaksa musuh-musuhnya untuk memohon perdamaian.
Kehidupan pribadi
[sunting | sunting sumber]Pernikahan dan anak
[sunting | sunting sumber]
Louis dan istrinya, Maria Theresa dari Spanyol, memiliki enam orang anak dari pernikahan yang dilangsungkan pada tahun 1660. Namun, hanya satu anak—yang tertua—yang berhasil bertahan hidup hingga dewasa: Louis le Grand Dauphin, yang dikenal dengan sebutan "Monseigneur". Maria Theresa wafat pada tahun 1683; saat itu, Louis berkomentar bahwa mendiang istrinya tidak pernah sekalipun menimbulkan kegelisahan baginya.
Meskipun terdapat bukti adanya kasih sayang pada masa awal pernikahan mereka, Louis tidak pernah setia kepada Maria Theresa. Ia memiliki sejumlah wanita simpanan, baik yang berstatus resmi maupun tidak resmi. Di antara hubungan yang tercatat dengan cukup baik adalah dengan Louise de La Vallière (yang memberinya lima anak; 1661–1667), Bonne de Pons d'Heudicourt (1665), Catherine Charlotte de Gramont (1665), Madame de Montespan (yang memberinya tujuh anak; 1667–1680), Anne de Rohan-Chabot (1669–1675), Claude de Vin des Œillets (satu anak lahir pada 1676), Isabelle de Ludres (1675–1678), dan Marie Angélique de Scorailles (1679–1681), yang meninggal dunia pada usia 19 tahun saat melahirkan. Melalui hubungan-hubungan ini, ia memiliki sejumlah anak di luar nikah, yang sebagian besar kemudian dinikahkan dengan anggota cabang kadet keluarga kerajaan.
Louis terbukti relatif lebih setia kepada istri keduanya, Madame de Maintenon. Ia pertama kali mengenalnya melalui perannya dalam mengasuh anak-anak Louis dari Madame de Montespan. Louis memperhatikan kasih sayang yang Madame de Maintenon berikan kepada anak kesayangannya, Louis Auguste, Duke of Maine. Awalnya, sang raja merasa kurang sreg dengan praktik keagamaan Maintenon yang ketat, namun sikapnya melunak berkat perhatian wanita itu terhadap anak-anaknya.[7]
Ketika ia melegitimasi anak-anaknya dari Madame de Montespan pada tanggal 20 Desember 1673, Madame de Maintenon menjadi pengasuh anak-anak kerajaan di Saint-Germain. Sebagai pengasuh, ia adalah satu dari sedikit orang yang diizinkan berbicara kepada raja sebagai sesama, tanpa batasan. Mereka diyakini telah menikah secara diam-diam di Versailles sekitar tanggal 10 Oktober 1683 atau Januari 1684.[8] Pernikahan ini, meskipun tidak pernah diumumkan atau dibicarakan secara terbuka, merupakan rahasia umum dan bertahan hingga akhir hayatnya.
Kesehatan dan kematian
[sunting | sunting sumber]Terlepas dari citra raja yang sehat dan bugar yang ingin ditampilkan oleh Louis, terdapat bukti yang mengindikasikan bahwa kondisi kesehatannya sebenarnya kurang baik. Ia menderita berbagai gangguan kesehatan, misalnya gejala diabetes—sebagaimana dikonfirmasi oleh laporan mengenai periostitis bernanah pada tahun 1678 dan abses gigi pada tahun 1696—serta bisul yang kambuh, serangan pingsan, encok, pusing, sensasi panas mendadak dan sakit kepala.
Antara tahun 1647 dan 1711, tiga dokter pribadi utama sang raja (Antoine Vallot, Antoine d'Aquin, dan Guy-Crescent Fagon) mencatat segala masalah kesehatannya dalam Journal de Santé du Roi (Jurnal Kesehatan Raja), sebuah laporan harian mengenai kondisi kesehatannya. Pada tanggal 18 November 1686, Louis menjalani operasi yang menyakitkan untuk mengatasi fistula anus; prosedur tersebut dilakukan oleh ahli bedah Charles-François Félix de Tassy, yang telah menyiapkan pisau bedah melengkung dengan bentuk khusus untuk keperluan operasi itu. Luka bekas operasi tersebut membutuhkan waktu lebih dari dua bulan untuk sembuh.

Louis meninggal dunia akibat gangren atau kelemayuh di Versailles pada tanggal 1 September 1715—empat hari sebelum ulang tahunnya yang ke-77—setelah bertakhta selama 72 tahun. Setelah menanggung penderitaan hebat di hari-hari terakhirnya, ia akhirnya "mengembuskan napas terakhir tanpa kesulitan, bagaikan lilin yang padam", sembari melantunkan mazmur Deus, in adjutorium me festina (Ya Tuhan, segeralah datang untuk menolongku). Jenazahnya dimakamkan di Basilika Saint-Denis di luar kota Paris. Jenazah tersebut tetap berada di sana tanpa gangguan selama sekitar 80 tahun, hingga kaum revolusioner membongkar makam dan menghancurkan seluruh sisa-sisa jenazah yang ditemukan di basilika itu. Pada tahun 1848, di Nuneham House, sepotong jantung Louis yang telah dimumikan—yang diambil dari makamnya dan disimpan dalam sebuah liontin perak oleh Lord Harcourt, Uskup Agung York—diperlihatkan kepada Dekan Westminster, William Buckland, yang kemudian memakan sebagian darinya.
Kardinal Armand Gaston Maximilien de Rohan memberikan Sakramen Terakhir (pengakuan dosa, viatikum, dan pengurapan) kepada Raja Louis XIV.
Referensi
[sunting | sunting sumber]Catatan kaki
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Lossky 1994, hlm. 64-65.
- ↑ Lossky 1994, hlm. 66-68.
- ↑ "Louis XIV - the Sun King: Absolutism". louis-xiv.de. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Oktober 2013. Diakses tanggal 6 Desember 2013.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Petitfils 2002, hlm. 250–253, 254–260.
- ↑ Philip Mansel, King of the World: The Life of Louis XIV (2020) cited in Tim Blanning, "Solar Power," The Wall Street Journal, 17 October 2020, p. C9.
- ↑ Quoted in Symcox 1974, hlm. 236–237
- ↑ Bryant 2004, hlm. 80.
- ↑ Bryant 2004, hlm. 77.
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]- Lossky, Andrew (1994). Louis XIV and the French monarchy. New Brunswich, N.J.: Rutgers University Press. ISBN 9780813520810.
{{cite book}}:|ref=harvtidak validPemeliharaan CS1: Status URL (link)
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Inggris) Acton, J. E. E., 1st Baron. (1906). Lectures on Modern History. London: Macmillan and Co.
- (Inggris) Goyau, G. (1910). "Louis XIV". The Catholic Encyclopedia. (Volume IX). New York: Robert Appleton Company.
- (Inggris) Cambridge Modern History vol 5 The Age of Louis XIV (1908)
Louis XIV dari Prancis Cabang kadet Dinasti Kapetia Lahir: 5 September 1638 Meninggal: 1 September 1715 | ||
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Louis XIII |
Raja Prancis 1643-1715 |
Diteruskan oleh: Louis XV |