Kita sering kali terjebak pada pemikiran bahwa untuk dicintai secara utuh, kita harus dikenal seutuhnya. Kita percaya bahwa seseorang harus memahami setiap lekuk masa lalu kita, bahasa kita, dan trauma kita, barulah cinta itu tervalidasi.
Namun, ada banyak hal tentang diriku yang luput dari pandangan orang yang saat ini paling kusayangi.
Ia tidak tahu bahasaku. Ia tidak tahu seberapa besar aku mencintai puisi dan bagaimana aku suka merangkai tulisan layaknya sebuah bait sajak. Ia tidak tahu bahwa aku pernah membacakan puisi di depan umum tentang religious trauma, tepat di tempat di mana trauma itu bersemayam. Ia tidak tahu bahwa setiap kali aku berbicara dalam bahasa Sunda, itu bukan semata karena aku menyukai bahasa daerahku. Aku melakukannya karena aku suka membatasi siapa saja yang bisa memahamiku, membiarkan orang lain mengira aku hanya melantur tak karuan. Ia bahkan tidak tahu betapa aku menyukai aroma buku, dan bagaimana aku sering mendatangi toko buku Togamas di Yogyakarta hanya untuk menyesap wanginya, walau sangat tidak estetik kayak kafe-buku yang banyak itu di sana.
Ia juga tidak tahu sisi-sisi gelapku.
Ia tidak tahu bahwa kadang aku bisa memanipulasi orang hanya untuk mendapatkan apa yang kuinginkan, atau sekadar untuk merasa berkuasa. Ia tidak tahu bahwa gangguan mental yang kumiliki—seperti BPD dan bipolar—sudah kurasakan sejak aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku punya cara yang sangat berbeda dan rentan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Ia tidak tahu bahwa aku pernah memendam perasaan pada teman perempuanku di masa sekolah, berpura-pura bersikap santai seolah aku hanya sahabatnya.
Luka-luka di keluargaku pun tidak ia ketahui. Ia tidak tahu bahwa saat ayahku kuliah, ayah harus menjadi tukang becak agar bisa mengisi perutnya dengan makanan murah demi menghemat uang untuk orang tuanya. Ia tidak tahu bahwa ibuku memiliki pengalaman yang sangat traumatis saat tinggal di Bandung, di sebuah kamar sempit berukuran tiga kali tiga meter di dalam gang yang dipenuhi orang mabuk, senjata, dan kekerasan pada kerusuhan 1998. Ia tidak tahu bahwa kakak laki-lakiku pernah menamparku dengan keras di depan nenekku.
Hal-hal yang tidak ia ketahui ini sering membuatku ragu. Aku merasa ia tidak mengenalku dengan baik. Ia hanya satu dari semua orang kulit putih yang aku selalu tertawakan karena aku benci mereka dan superioritas mereka.
Belakangan, aku menyadari sesuatu yang mengubah caraku memandang kehidupan. Aku menyadari bahwa aku memiliki kapasitas rasa cinta yang besar. Dan yang sering kulupa adalah, aku tak perlu membagi-baginya atau bahkan meluapkannya ke satu tempat saja. Aku hanya perlu membiarkan rasa cinta itu tumbuh ke orang-orang yang kusayang, dan ke hal-hal yang ada di sekitarku.
Bentuk cinta itu bermacam-macam. Merasa disayangi, menyayangi orang lain, menyayangi tanah yang dipijak, benda, planet, dan manusia. Pun, aku menghidupi hidup dan manusia-manusia yang kusayang. Dan itu lebih dari cukup.
Di masa lalu, aku tidak pernah benar-benar mencintai beberapa orang yang singgah dalam hidupku; aku hanya merasa terikat. Tapi aku selalu menyimpan kekaguman pada sahabat-sahabat perempuanku. Aku selalu merasakan kelembutan hati yang sama saat bersama teman-teman yang memahamiku secara utuh.
Ia mungkin tidak mengerti bahasaku, tapi dia mengetahui seberapa gila aku cinta pada musik hyperpop. Dan hal yang paling magis adalah, kehadirannya membuatku—untuk pertama kalinya dalam hidupku—jatuh cinta pada diriku sendiri. Terdengar aneh mungkin, tapi ini adalah perasaan paling hebat yang pernah kualami. Bahwa seseorang yang tidak mengerti bahasaku, yang tidak tahu seluruh detail masa lalu dan traumaku, justru menjadi alasan aku akhirnya bisa menerima diriku sendiri.
Hal terbaik dalam hidup ini adalah cinta. Dan kita tidak pernah tahu apakah cinta masih ada setelah kematian. Jadi, aku memilih untuk sangat mencintai kehidupan ini sekarang.
Pada akhirnya, kita memang tidak harus berbicara dalam bahasa yang sama untuk saling menyembuhkan. Karena perasaan selalu punya jalannya sendiri, dan bahasa yang paling jujur, kadang sama sekali tidak membutuhkan kata-kata.

Comments
Nothing yet. Say the first thing.
Sign in to join the conversation.