RSS Amplifier

Blog

Drone Emprit Publications

We don't claim to be neutral, but insist on being truthful.

pers.droneemprit.idSource feed ↗10 posts

Live Last read · last published · next check

Written by

Latest posts

SENTIMEN PUBLIK TERHADAP TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS MENTERI PU

Menteri Pekerjaan Umum jadi sorotan selama dua pekan terakhir. Bagaimana percakapan publik membentuk persepsi terhadap transparansi dan akuntabilitas Menteri PU? Mari kita bedah! By DE (@ismailfahmi) Kontroversi berkembang dari surat perjalanan dinas ke New York hingga isu mutasi ASN, dugaan nepotisme, penggunaan private jet, dan intimidasi terhadap pengkritik. Beragam

SENTIMEN PUBLIK TERHADAP KISRUH KEJAKSAAN VS KEPOLISIAN

Kisruh lembaga penegak hukum tengah jadi sorotan! Sepekan terakhir, linimasa medsos dan berita online dipenuhi perbincangan soal dinamika tajam ini. Mari kita bedah sentimen publiknya! By DE (@ismailfahmi) Penggeledahan Polri mengungkap 74kg emas & uang ratusan miliar rupiah milik Eks Jampidsus. Ia mundur & resmi tersangka,

SENTIMEN PUBLIK TERHADAP DAKWAAN VONIS TERHADAP NADIEM MAKARIM

Vonis 10 tahun penjara terhadap Nadiem Makarim atas kasus korupsi Chromebook memicu respons publik yang sangat masif di jagat maya. Bagaimana sebenarnya perbincangan netizen di media sosial dan media online? Yuk, simak analisis lengkapnya di sini! By DE (@ismailfahmi) Kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook memasuki babak baru setelah

SENTIMEN PUBLIK TERHADAP PEMADAMAN LISTRIK OLEH PLN

Juni 2026 diwarnai pemadaman bergilir di Pulau Jawa. Krisis batu bara atau murni gangguan teknis? Mengapa publik begitu marah? Mari bedah data percakapan digital terkait polemik kelistrikan ini! By DE (@ismailfahmi) Mati listrik meluas di Jawa awal Juni 2026. Defisit batu bara PLN & gangguan teknis jadi

Aspirasi Publik dalam Aksi Demonstrasi Pertengahan Juni 2026

Aksi demonstrasi mahasiswa kembali bergema! Mengawal keresahan atas kondisi ekonomi, bagaimana warganet merespons isu ini di berbagai platform pada 11-15 Juni 2026? Simak utas analisisnya! By DE (@ismailfahmi) Harga BBM naik di tengah mahalnya sembako memicu protes mahasiswa di Bundaran HI. Aksi bertajuk "Menuju Indonesia Bangkrut"

ASPIRASI PUBLIK DALAM KAMPANYE REFORMASI JILID 2

Ramai wacana 'Reformasi Jilid 2' di media sosial & portal berita awal Juni 2026. Utas ini merangkum data percakapan publik untuk melihat eskalasi secara objektif. Mari kita cek analisisnya! By DE (@ismailfahmi) Pelemahan rupiah & IHSG memicu mahasiswa beri ultimatum 18 hari pada 5 Juni 2026. Mereka mengancam

SENTIMEN PUBLIK TERHADAP PERGANTIAN KEPALA BGN

Pergantian Kepala BGN tuai atensi masif. Publik apresiasi ketegasan Presiden, tapi skeptis pada sosok pengganti dan cemas soal korupsi anggaran. Mari bedah datanya di utas ini! by DE (@ismailfahmi) Presiden mencopot Kepala BGN atas evaluasi tata kelola. Kasus memanas usai Kejagung menggeledah kantornya, memicu kekhawatiran anggaran negara. Bagaimana metode

SENTIMEN PUBLIK TERHADAP PEMUTARAN FILM PESTA BABI

Heboh film "Pesta Babi" picu debat di ruang digital! Mulai isu deforestasi Papua hingga aksi pembubaran nobar oleh aparat. Mari bedah data sentimen publik lintas platform (9 April-26 Mei 2026)! By DE (@ismailfahmi) Sejak tayang perdana, gerakan nobar marak namun berujung rentetan pembubaran aparat pada Mei. Rilis YouTube

SENTIMEN PUBLIK TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH MELEMAH

Rupiah tembus level kritis di pertengahan Mei 2026. Isu ini seketika meledak dan mendominasi obrolan linimasa. Penasaran bagaimana dinamika respons publik merespons gejolak ekonomi ini? Mari bedah datanya! By DE (@ismailfahmi) Depresiasi Rupiah hingga Rp17.800/USD tak sekadar angka, tapi ancaman nyata biaya hidup harian. Kepanikan

Sentimen Publik terhadap Pernyataan Presiden soal Orang Desa Tidak Pakai Dolar

Pernyataan Presiden soal "orang desa tak pakai dolar" picu debat panas saat rupiah anjlok. Benarkah warga desa aman dari imbas kurs? Mari bedah data respons publik dan media periode 16-19 Mei 2026 ini melalui utas berikut. By DE (@ismailfahmi) Rupiah tembus Rp17.000, Presiden sebut warga desa tak