⚠️Author’s Note & Content Warning⚠️
Halo semuanya, Michies tersayang 💖.
Sebelum kalian melangkah lebih jauh dan menyelami setiap bab dalam cerita ini, ada beberapa hal penting yang ingin aku sampaikan dari hati ke hati sebagai pengingat awal agar perjalanan membaca kita tetap nyaman.
Kisah ini lahir dari eksplorasi dinamika yang cukup kontras, intens, dan tidak biasa. Di sini, kalian akan menemukan dinamika hubungan yang sangat berat sebelah, di mana karakter utama wanita memegang kendali penuh, dominan secara fisik maupun mental, serta memiliki sifat posesif yang cenderung agresif terhadap karakter pria yang jauh lebih lembut, rentan, dan defensif. Karena fokus utamanya mengangkat tema femdom, dubious/non-consensual dynamics, pergeseran batas persetujuan yang kabur (consent issues), serta ketegangan emosional yang manipulatif dan erotis, cerita ini secara jelas ditujukan untuk pembaca yang sudah dewasa dan bijak dalam menyaring bacaan fiksi.
Aku ingin menegaskan bahwa segala bentuk tindakan, paksaan, kekerasan emosional, maupun dominasi sepihak yang terjadi di dalam narasi ini murni merupakan elemen artistik fiksi untuk membangun tensi drama gelap (dark romance/psychological tension). Cerita ini sama sekali tidak ditulis untuk membenarkan, menormalisasi, apalagi mengagungkan perilaku pemaksaan dan perampasan hak dalam hubungan di dunia nyata. Hubungan yang sehat di kehidupan nyata tentu harus selalu berlandaskan rasa saling menghormati, kesetaraan, dan persetujuan penuh dari kedua belah pihak tanpa ada rasa takut atau tekanan.
Jika tema-tema semacam ini terasa sensitif, memicu rasa tidak nyaman, atau bukan merupakan preferensi membaca kalian, aku sangat menyarankan untuk berhenti di sini demi kenyamanan pikiran dan suasana hati kalian sendiri. Namun, bagi Michies yang sudah siap menyelami pergulatan batin Evan yang rapuh dan dominasi liar (Y/N) yang tanpa kompromi, silakan lanjutkan dengan pikiran yang terbuka dan penuh kedewasaan.
Happy reading, nikmati setiap dinamika karakternya, dan terima kasih banyak karena selalu menjadi pembaca yang bijak serta suportif di setiap karya yang aku tulis. Peluk hangat untuk kalian semua.🫂💖
Aku mau nyoba nulis dari sudut pandang yang berbeda juga, semoga kalian bersedia membacanya🫶🏻
[AUTHOR POV’s]
Aroma vanila bercampur peach blossom menguar tipis dari humidifier sudut ruangan Pilates berlantai kayu itu. Evan menyugar rambut pirang terangnya yang baru minggu lalu ia cat ulang. Sejujurnya, rambut pirang itu membuat wajahnya yang memang sudah bersih dan berpipi tirus tampak semakin cerah atau dalam istilah menyebalkan para kliennya: terlalu cantik.
Orang-orang sering salah paham. Mereka melihat perawakan Evan yang ramping dengan garis rahang manis, kebiasaannya mengoleksi lip balm aroma stroberi, atau bagaimana ia menyukai sweater rajut berwarna pastel, lalu seenaknya mengambil kesimpulan bahwa Evan adalah laki-laki yang bisa disetir atau bahkan menyimpang. Padahal di balik cardigan lembut dan senyum ramahnya, Evan Lee adalah laki-laki tulen dengan batas prinsip yang sekokoh tembok baja.
Ia tidak buta. Sejak SD, lokernya selalu penuh surat cinta dan cokelat dari anak-anak perempuan. Tapi ia juga tak pernah lupa tatapan-tatapan aneh dari sebagian anak laki-laki yang menganggap kelembutannya sebagai kelemahan atau lebih buruk, undangan terbuka.
Puncaknya terjadi saat kelas tujuh SMP. Di gudang belakang sekolah yang pengap dan berdebu, tiga anak laki-laki bertubuh jauh lebih besar menyudutkannya, berniat melucuti celananya hanya untuk membuktikan “Evan beneran cowok apa bukan”. Rasa takut yang membekukan itu masih sesekali terasa di ujung sarafnya. Namun sebelum kancing celananya terlepas seutuhnya, sebuah batu melayang keras, menghantam pelipis salah satu perundung hingga berdarah.
Di ambang pintu gudang berdiri seorang anak perempuan dengan seragam kusut, memegang batu lain di tangan kanannya, berteriak lantang mengancam akan membawa guru BK dan kepala sekolah detik itu juga. Gerombolan itu lari terbirit-birit. Dan gadis itu dengan mata tajam tapi jemari yang luar biasa lembut berlutut di depan Evan, membantu membetulkan kancing seragamnya yang robek, menepuk pundaknya yang bergetar hebat sampai Evan tak tahan untuk tidak memeluknya erat sambil menangis terisak.
“Lo cowok, Evan. Mau lo suka warna pink, mau lo suka boneka, lo tetep cowok. Suara lo berhak didengar, jangan diem aja kalau ada yang kurang ajar,” bisik gadis itu waktu itu.
Sayangnya, belum genap pertengahan semester kelas delapan, gadis itu pindah tanpa sempat Evan tanyai nama lengkap atau tujuannya. Kalimat itu yang mengubah Evan. Selama sepuluh tahun, di usianya yang kini menginjak 25 tahun, ia bertahan melajang bukan karena tidak laku, melainkan karena sosok penyelamat itu telanjur menempati ruang paling dalam di sudut hatinya.
Suara gemerincing bel pintu studio membuyarkan lamunan Evan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Klien sesi privat terakhirnya telat tepat satu jam penuh. Evan berbalik dengan napas tertahan, siap memberikan teguran tegas yang sopan tapi menusuk, namun kata-katanya mendadak tercekat di tenggorokan.
Pintu terbuka lebar, memperlihatkan sosok perempuan berpostur jangkung—hampir sejajar dengan tinggi Evan—dengan rambut hitam potongan wolfcut sebahu yang berantakan terkena angin. Ia mengenakan jaket kulit hitam yang dibiarkan terbuka, menampakkan crop top abu-abu ketat yang memamerkan lekuk pinggang ramping berotot, dipadu legging hitam pekat yang membungkus kaki jenjangnya dengan begitu pas.
anggap ae visualnya begini pake croptop
Perempuan itu menurunkan kacamata hitamnya ke hidung bangirnya, menatap Evan dari atas sampai bawah tanpa rasa bersalah, lalu mengacungkan dua jari membentuk pose peace dengan seringai seksi yang luar biasa percaya diri.
“Macet gila di Sudirman, Coach. My bad,” suaranya serak-serak basah, rendah dan bergetar santai.
Evan mengerjap, buru-buru mengembalikan raut wajah profesionalnya meski dadanya mendadak berdegup tak beraturan. “Sesi Anda tinggal tiga puluh menit, Nona. Dan keterlambatan satu jam tanpa kabar biasanya berarti sesi hangus.”
Begitu perempuan itu melangkah masuk, aroma vanila yang memenuhi ruangan Evan mendadak kalah telak. Digantikan oleh wangi parfum maskulin berkarakter leather yang tajam, berseling sensualnya dark coffee dan pink pepper. Ia melepas jaket kulitnya dengan gerakan lambat, melemparnya asal ke sofa tunggu, sebelum berjalan mendekat ke arah Evan. Setiap langkahnya adalah intimidasi yang tenang.
“Tapi lo belum pulang, kan?” tanyanya santai, berdiri tepat satu langkah di depan Evan. Dari jarak sedekat ini, Evan harus sedikit mendongak hanya untuk menatap matanya yang tajam dan familiar. “Gue bayar double buat tiga puluh menit ini. Gimana?”
Evan menyipitkan mata, menolak untuk terintimidasi. “Ini bukan soal uang. Ini soal disiplin.”
“Bagus dong,” perempuan itu terkekeh pelan, bibirnya melengkung asimetris. “Gue suka pelatih yang galak tapi mukanya semanis gula kapas gini. Kenalin, gue (Y/N).”
(Y/N) mengulurkan tangannya yang lentik namun berotot kencang. Saat telapak tangan mereka bersentuhan, Evan merasakan sensasi sengatan listrik yang aneh—ada bekas luka goresan tipis di punggung tangan perempuan itu yang terasa saat jari mereka bertaut.
“Evan,” jawabnya pendek, berusaha menarik tangannya, tapi (Y/N) menahannya sedetik lebih lama sambil memberi remasan lembut yang penuh arti sebelum melepaskannya.
“Oke, Evan. Tunjukin apa yang bisa lo lakuin sama badan gue dalam setengah jam ini.”
Udara di studio mendadak terasa jauh lebih hangat dari sebelumnya. Evan menarik napas panjang, mengarahkan (Y/N) ke mesin Reformer. Ia memposisikan dirinya di samping mesin saat (Y/N) mulai merebahkan punggungnya di atas matras carriage.
“Tarik napas dari hidung, kunci otot perut, dorong perlahan dengan tumit,” instruksi Evan dengan nada datar dan tenang.
(Y/N) bergerak mengikuti instruksi, namun matanya sama sekali tidak lepas dari wajah Evan. Ketika (Y/N) meluruskan kakinya, otot-otot pahanya menegang sempurna. Evan mencondongkan tubuhnya ke depan, berniat membetulkan posisi panggul (Y/N) yang sedikit miring.
“Panggulnya jangan terlalu naik,” ujar Evan sambil meletakkan kedua telapak tangannya di sisi pinggang (Y/N) untuk mengoreksi posturnya.
(Y/N) mendadak berhenti mendorong, membiarkan tubuhnya tertahan di posisi meregang. Napasnya yang mulai hangat berhembus mengenai lengan bawah Evan yang terbuka.
“Tangan lo dingin, Coach,” bisik (Y/N) dengan nada menggoda, sorot matanya berkilat nakal tepat menatap bibir Evan. “Tapi pegangan lo kuat juga ya, di balik muka imut begini.”
Evan tidak menarik tangannya. Alih-alih mundur, ia justru sedikit menekan telapak tangannya di pinggang (Y/N), memastikan perempuan itu merasakan ketegasan otot lengannya. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa jengkal.
“Fokus pada pernapasan Anda, (Y/N),” balas Evan dengan suara rendah yang dibuat sehalus mungkin namun sarat ancaman dingin. “Atau Anda mau saya tambah beban pegasnya jadi dua kali lipat?”
(Y/N) tidak terkejut, seringainya justru makin lebar, dadanya naik turun dengan ritme napas yang mulai memburu karena posisi menahan beban. “Coba aja kalau berani. Gue pengen tahu seberapa jauh lo bisa neken gue.”
Ketegangan di antara mereka membakar pelan, mengaburkan batas antara instruksi latihan yang disiplin dan tarikan gravitasi yang tak terelakkan. Dan jauh di dalam benak Evan, tatapan tajam nan liar di hadapannya itu mulai memanggil kembali memori anak perempuan dengan lemparan batu sepuluh tahun yang lalu.
[POV You]
Tantangan itu ternyata menjadi bumerang paling mematikan bagi egomu.
Sebagai perempuan yang terbiasa mengangkat beban puluhan kilogram di gym, kamu mengira Pilates hanyalah latihan peregangan santai dengan mesin estetis. Namun, dugaanmu meleset total. Evan tidak main-main saat tangannya yang ramping memindahkan kait pegas merah dan biru di ujung Reformer, menambah berat beban tanpa mengubah raut wajahnya yang tenang.
“Sekarang, tahan di sudut empat puluh lima derajat. Pulse kecil sepuluh kali,” suara Evan mengalun santai, begitu kontras dengan rasa terbakar yang mulai menjalar liar dari paha dalam hingga otot perut terdalammu.
Otot-ototmu yang terbiasa dengan gerakan eksplosif mendadak dipaksa berkontraksi secara mikro dan lambat. Sensasi panasnya luar biasa pekat. Pelipismu mulai dibanjiri peluh, tetesannya mengalir melewati rahang hingga membasahi belahan dadamu di balik crop top. Gigimu gemeletuk menahan perih.
“E-Evan... gila ya lo... ini berat banget,” rengekmu spontan. Suara serak seksi yang tadi sempat kamu pamerkan kini berganti menjadi erangan manja tanpa daya. “Bentar... aduh, sakit banget, sumpah.”
Evan tidak tersenyum mengejek, tidak pula mengeluarkan sarkasme untuk membalas godaanmu tadi. Baginya, erangan, rengekan, dan sumpah serapah dari klien berotot yang sok kuat adalah rutinitas sehari-hari. Tatapannya tetap dingin, profesional, namun luar biasa fokus mengawasi tiap milimeter pergerakan tubuhmu.
“Buang napas saat menahan, (Y/N). Jangan kunci leher kamu,” titahnya datar, jemarinya yang dingin menyentuh tengkukmu untuk memperbaiki lekukan tulang leher agar tidak tegang. “Tiga lagi. Tahan.”
Tubuhmu mulai bergetar hebat. Rasanya seperti ada kabel listrik yang dipasang di serat-serat pahamu. Pandanganmu bahkan sempat berkunang-kunang karena rasa lelah yang menumpuk bercampur syok pada otot. Tepat di menit kelima belas, saat Evan memintamu melakukan single-leg stretch, kakimu kehilangan daya seutuhnya. Kamu tumbang lemas di atas matras carriage, napasmu terengah-engah rakus dengan dada yang naik turun tanpa kendali. Ego anak gym yang tadi kamu banggakan hancur lebur di hadapan cowok berwajah boneka ini.
Evan segera mengaitkan kembali tali pengaman mesin agar kamu tidak tergelincir. Melihat getaran di kakimu yang tak kunjung reda dan warna kulitmu yang pucat kemerahan, ia tidak memaksakan sisa lima belas menit latihan.
“Selesai untuk hari ini,” ucap Evan tenang sambil meraih sebotol air mineral dingin dan handuk kecil bersih dari rak samping.
Ia berlutut di sebelah mesin, menyodorkan botol itu kepadamu dengan gerakan halus. “Badan kamu terlalu kaku karena terbiasa beban statis tanpa mobilitas sendi. Jangan berdiri dulu, nanti pusing.”
Kamu hanya bisa mengangguk pasrah sambil menerima botol itu dengan tangan yang masih gemetaran. Evan kemudian meraih pergelangan kakimu dengan hati-hati, mengangkatnya sedikit untuk diletakkan di atas balok busa, membantu mengalirkan kembali peredaran darahmu. Sentuhan tangannya yang tegas namun luar biasa telaten dan lembut saat memijat titik simpul otot betismu membuat seluruh tubuhmu perlahan rileks.
“Tarik napas panjang dari hidung... lalu hembuskan perlahan dari mulut,” bisik Evan dengan nada yang kini jauh lebih hangat, menatapmu lurus tanpa secuil pun niat menghakimi kekalahanmu barusan. “Lepasin semua tegangannya. Biarin badannya istirahat.”
Setelah memastikan sirkulasi darahmu kembali stabil dan getaran hebat di otot pahamu mulai mereda, Evan berdiri dengan gerakan luwes. Ia merapikan ujung kaos latihannya yang sedikit terangkat, menatapmu sekali lagi dengan sorot mata profesional yang tenang tanpa cela.
“Lakuin pendinginan ringan di matras ujung sana selama sepuluh menit. Setelah itu kamu bisa mandi di shower roomsebelah kiri,” ujar Evan sambil melangkah mundur menuju pintu kaca studio. “Saya ada urusan sebentar di meja depan buat rekap jadwal. Jangan langsung bangun mendadak, santai aja.”
Pintu studio menutup perlahan dengan denting lonceng halus, meninggalkanmu sendirian di ruangan yang kini hanya menyisakan deru pelan pendingin udara dan aroma terapi yang menenangkan.
Rasa remuk di seluruh persendianmu nyata adanya, tapi entah mengapa rasa penasaran di kepalamu jauh lebih dominan. Kamu menyeret tubuhmu menuju kamar mandi pribadi yang disediakan khusus klien privat. Air hangat yang mengguyur sela-sela rambut wolfcut-mu berhasil meluruhkan peluh dan ketegangan otot yang tadi sempat membuatmu nyaris pingsan.
Dua puluh menit kemudian, kamu keluar dari ruang ganti dengan penampilan yang sudah jauh lebih santai dan segar. Celana training longgar abu-abu bertengger di pinggangmu, dipadu kaos hitam polos berpotongan longgar yang tetap tidak bisa menyembunyikan siluet bahumu yang tegas. Jaket kulit hitam tebal milikmu tersampir di sandaran sofa tunggu lobi studio, bersanding dengan helm full-face hitam matte yang biasanya menemanimu membelah jalanan kota di atas Ducati Scrambler kesayanganmu.
Alih-alih menyambar kunci motor dan tancap gas pulang untuk rebahan, kamu justru memilih menghempaskan tubuhmu ke sofa empuk di lobi. Menyilangkan kaki jenjangmu, kamu menunggu.
Tak berselang lama, pintu ruang staf terbuka. Evan melangkah keluar, dan pemandangan itu sukses membuat napasmu tertahan sesaat.
Laki-laki itu sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Kaos ketat olahraganya telah berganti dengan oversized knit sweater berwarna krem lembut dengan rajutan longgar yang jatuh manis di bahunya, dipadukan dengan celana kain berpotongan lurus warna cokelat muda. Rambut pirangnya yang masih sedikit lembap tersugar acak tanpa produk penata rambut, membingkai wajahnya yang luar biasa bersih, bercahaya, dan polos. Tetesan air tipis yang sesekali membasahi tengkuknya membuat perpaduan antara kesan maskulin dan cantiknya terlihat begitu memabukkan.
Evan membawa sebuah map tipis dan duduk di single sofa tepat di hadapanmu, meletakkan secangkir teh chamomile hangat di atas meja kopi kayu di antaramu.
“Belum pulang?” tanya Evan pelan, suaranya kini terdengar jauh lebih rileks dibanding saat berada di dalam studio tadi.
“Nungguin lo,” jawabmu enteng, menyandarkan punggung sambil menopang dagu dengan satu tangan, matamu terkunci lurus ke arahnya.
Evan mendengus pelan, berusaha mengabaikan tatapan lekat itu sambil membuka map di pangkuannya. “Karena tadi kamu nekat maksa tubuh kamu di luar batas mobilitas dasar, ada beberapa aturan penting yang wajib kamu patuhi kalau mau lanjut sesi berikutnya.”
Evan mulai memaparkan daftarnya dengan intonasi yang luar biasa lugas, terstruktur, dan jelas.
“Pertama, Do’s: kamu wajib tidur minimal tujuh jam sebelum jadwal sesi, minum air putih minimal satu liter sebelum datang, dan mulai sekarang kurangi ego angkat beban maksimal di gym selama tiga hari ke depan. Fokus ke peregangan dinamis. Kedua, Don’ts: jangan pernah telat lagi—apalagi sampai satu jam. Jangan skip sarapan atau makan padat dua jam sebelum kelas, dan yang paling penting, jangan pernah nahan napas saat kontraksi otot berlangsung seperti tadi.”
Evan berbicara dengan ketegasan yang mutlak. Jari-jemarinya yang ramping menunjuk poin demi poin pada lembar evaluasi, bibir merah mudanya yang terpoles tipis lip balm bergerak lincah dan runut. Masalahnya, otakmu sama sekali gagal mencerna kata demi kata tentang asam laktat, mobilitas panggul, atau stabilitas core.
Dari jarak sedekat ini, kamu terlalu sibuk mengagumi pahatan wajah di depanmu. Bagaimana mungkin seorang laki-laki bisa memiliki rahang yang tegas namun memiliki sorot mata bulat berbinar yang begitu manis? Kulitnya yang seputih susu, bibirnya yang tampak ranum, aroma manis vanila yang kembali menguar pekat dari tubuhnya—semuanya menciptakan kontras yang luar biasa berbahaya. Dia terlihat seperti sosok yang rapuh dan menggemaskan untuk dilindungi, namun caranyanya bertutur kata memancarkan dominasi pendirian yang tak tergoyahkan.
Tatapanmu yang begitu intens, perlahan dan tanpa tedeng aling-aling turun dari manik matanya, menyusuri batang hidungnya yang bangir, hingga berhenti tepat di bibirnya yang masih terus bergerak menjelaskan aturan. Evan mendadak menghentikan kalimatnya di tengah jalan.
Keheningan melanda ruangan lobi. Suara detak jarum jam dinding kini terdengar begitu jelas. Evan menatapmu kembali, mendapati sepasang matamu yang tidak berkedip memindai setiap jengkal wajahnya dengan sorot yang sarat akan ketertarikan mentah dan rasa penasaran yang membakar. Udara di sekitar meja kopi itu mendadak terasa menghangat.
Tenggorokan Evan terasa kering. Perlahan tapi pasti, rona merah muda merayap naik dari pangkal leher jenjangnya, menyebar cepat melintasi rahang hingga mewarnai kedua daun telinga dan pipinya yang putih. Ia yang biasanya begitu lihai memasang topeng dingin dan sarkas terhadap klien yang genit, mendadak kehilangan kendali atas reaksi biologis tubuhnya sendiri hanya karena cara kamu menatapnya.
Evan berdeham canggung, buru-buru menutup map di tangannya sedikit lebih keras dari yang ia rencanakan, mencoba menyelamatkan sisa-sisa wibawanya yang mendadak goyah.
“Kamu... dengerin saya ngomong nggak sih?” tegur Evan dengan suara yang sedikit bergetar, meski ia berusaha keras membuatnya terdengar tegas. Tangannya tanpa sadar menyugar rambut pirangnya untuk menutupi telinganya yang sudah merah padam.
Bla bla bla... proper name, place name, backstory stuff, whatever you say, pretty boy...
Kalimat itu cuma berputar di dalam kepalamu saat bibir merah muda Evan terus bergerak tanpa henti, memaparkan jadwal sesi latihan berikutnya, pembagian hari untuk melatih fleksibilitas otot paha, sampai pantangan makan larut malam. Kamu bahkan tidak peduli studio ini ada di kawasan elite mana atau sertifikasi apa yang menggantung di dinding lobi. Di matamu, ruangan itu mendadak sempit hanya untuk eksistensi satu orang: cowok berambut pirang dengan sweater rajut krem kebesaran yang tampak terlalu manis untuk profesi yang menuntut disiplin keras.
Hingga lambaian tangan dengan jemari lentik mengibas cepat tepat di depan matamu.
“Hei.”
Kamu terkesiap sedetik, lalu dengan mulus menguasai keadaan seolah tidak ada yang salah. Kamu menyandarkan punggung ke sofa, menyilangkan satu kaki di atas lutut yang lain dengan gestur santai dan tomboi andalanmu, lalu menatapnya santai. Mengabaikan tumpukan poin jadwal yang baru saja ia rapikan, kamu melontarkan pertanyaan yang sama sekali melenceng:
“Pulang naik apa, Coach?”
Evan mengernyit, jeda sejenak karena peralihan topik yang kelewat mendadak. “Bukan urusan kamu.”
“Kalau sendiri, bareng gue aja. Gue anterin lo balik,” sahutmu enteng sambil mengetuk helm cadangan di sebelahmu. “Kebetulan gue bawa helm dobel. Tadi pagi abis nganterin adek cowok gue sekolah.”
Evan langsung menggeleng tegas, raut wajahnya kembali terkunci dalam mode profesional. “Nggak perlu, (Y/N). Ini di luar batasan profesionalitas kita. Saya terbiasa pulang sendiri, dan urusan transportasi staf bukan fasilitas yang harus kamu sediakan.”
Tentu saja, kamu bukan tipe orang yang mudah mundur begitu saja.
[EVAN LEE POV’s]
Jam digital di sudut layar ponselku menunjukkan pukul 20.08 WIB. Harusnya jadwal KRL arah Manggarai atau TransJakarta koridor pusat masih banyak yang melintas di halte depan gedung studio. Tapi penolakan kerasku barusan rupanya tidak mempan sama sekali di telinga cewek berambut wolfcut itu. Dia malah melontarkan penawaran konyol—bilang kalau menolak, dia bakal nungguin di depan gerbang studio sampai tengah malam biar aku merasa bersalah.
Tawaran manipulatif yang kekanak-kanakan, tapi melihat betapa keras kepalanya tatapan matanya, aku tahu dia tidak sedang main-main. Menghembuskan napas panjang yang sarat rasa pasrah, aku mengunci pintu kaca studio, menenteng tas selempang kanvas favoritku, dan melangkah keluar menuju pelataran parkir yang mulai sepi. Udara malam ibu kota menyapa kulitku dengan hawa dingin yang tipis.
Di sana, di bawah temaram lampu jalan, cewek itu sudah siap berdiri bersandar di samping motornya. Dan begitu mataku menangkap wujud kendaraannya, nafasku sempat tercekat di tenggorokan.
Bukan skuter matik biasa, melainkan Ducati Scrambler hitam pekat berotot dengan ban gambot dan knalpot besar yang memancarkan aura maskulin liar. Begitu dia menegakkan motor itu hanya dengan tumpuan satu kakinya yang jenjang, karismanya melonjak berkali-kali lipat tanpa ampun. Dia tampak begitu dominan, menyatu sempurna dengan mesin monster di bawahnya.
Tapi tetap saja, kekaguman sepersekian detik itu tidak bisa menutupi fakta bahwa dia luar biasa tidak sopan dan pemaksa.
“Nih, naik,” katanya santai, menepuk jok penumpang yang sedikit menungging di belakangnya. “Gue bonceng sampe depan kosan atau apartemen lo.”
Aku mematung di tempat, menyilangkan tangan di dada dengan dahi berkerut rapat. “Aneh banget kalau kamu yang bonceng saya.”
“Aneh di mananya? Gue yang bawa motor, lo yang nebeng. Simpel.” Dia membalas dengan seringai jahil yang membuat sudut bibirnya tertarik naik.
“Saya cowok, (Y/N). Rasanya konyol kalau saya harus duduk pasrah di belakang cewek yang bawa motor segede itu.”
Kata-kataku meluncur begitu saja, tapi jauh di lubuk hatiku yang terdalam, ada sesuatu yang berdesir aneh. Dulu, sepuluh tahun yang lalu, ada anak perempuan yang juga sering memboncengku mengelilingi komplek menggunakan sepeda mininya yang berkarat setelah kami kabur dari anak-anak nakal sekolah. Tapi itu sepeda kayuh, bukan monster jalanan bermesin 800cc yang siap meraung liar dan mengancam keseimbanganku. Naik motor ini bersamanya terasa seperti menyerahkan seluruh kendali hidupku ke tangannya.
Melihatku yang terus berdiam diri tanpa bergerak selangkah pun, tatapan (Y/N) mendadak berubah sedikit melembut, meski nada bicaranya tetap terdengar sok santai.
“Nggak usah banyak mikir, Evan. Nggak bakal ada yang ngira lo berkurang cowoknya cuma gara-gara duduk di belakang.”
Tanpa memberiku ruang untuk mendebat lagi, dia meraih helm cadangan—helm full-face hitam milik adik laki-lakinya—lalu melangkah mendekat. Sebelum aku sempat mundur menghindar, kedua tangannya sudah terangkat, menyematkan helm itu ke kepalaku dengan gerakan yang luar biasa hati-hati.
Jarak kami terkikis habis dalam sekejap. Jemarinya yang ramping bergerak di bawah daguku, mengunci tali pengaman helm dengan bunyi klik yang mantap. Ukurannya ternyata pas di kepalaku, menangkup pipi dan pelipisku dengan sempurna. Selama beberapa detik saat tangannya merapikan helai rambut pirangku yang terjepit di pinggir busa helm, matanya menatap tepat ke manik mataku dari balik visor yang terbuka.
Aroma black opium segar dan wangi jaket kulitnya kembali mengaburkan fokusku. Pipiku yang tadi sempat memerah di dalam studio mendadak kembali memanas di balik bantalan helm.
“Pas kan?” bisik (Y/N) dengan nada puas, lalu menepuk pelan puncak helmku seperti memperlakukan anak kecil sebelum dia kembali melompat ke atas jok kemudinya. “Pegangan yang bener nanti. Mesinnya agak ngejut.”
Aku menelan ludah pelan, menatap punggung tegapnya yang dibalut jaket kulit hitam tebal. Mau tidak mau, dengan sisa gengsi yang tercerai-berai, aku melangkah naik ke jok belakang. Begitu mesin Ducati itu menyala dengan raungan bass yang menggelegar membelah keheningan malam, kedua tanganku secara refleks mencengkeram erat sisi jaket kulitnya—membiarkan cewek itu membawaku larut dalam deru angin ibu kota.
to be continued
hi ntik nya aku evanniee🫶🏻
mau tes ombak nanti setelah “The Taste of Nanny’s Milk”t amat lanjut ini...
apa ada yang mau?
kalo sepi aku bakal takedown
No posts

Comments
Nothing yet. Say the first thing.
Sign in to join the conversation.