Sebuah inisiatif untuk mengabadikan, sekaligus menyimpan, cerita-cerita pendek karya sastra para penulis Indonesia. Sekaligus membuka kemungkinan makna baru lewat media bukan teks. Cita-citanya sederhana: sebagai arsip daring cerpen Indonesia dalam bentuk audio. Karena semakin banyak yang menikmati, semakin kaya dan panjang umurlah sebuah karya. - Kritik dan saran sila kontak IG @febrianputra @membacakancerpen
Dibacakan oleh Febrian - Seno Gumira Ajidarma (lahir 1958) adalah salah satu sastrawan paling disegani dalam sejarah sastra Indonesia modern seorang penulis yang menjadikan kata-kata bukan sekadar medium estetika, tetapi juga alat perlawanan. Di tengah era ketika kebenaran kerap dibungkam, Seno hadir sebagai suara yang tak bisa disenyapkan. Melalui cerpen, novel, dan esainya, ia meretas batas…
Dibacakan oleh Febrian Seno Gumira Ajidarma (lahir 1958) adalah salah satu sastrawan paling disegani dalam sejarah sastra Indonesia modern seorang penulis yang menjadikan kata-kata bukan sekadar medium estetika, tetapi juga alat perlawanan. Di tengah era ketika kebenaran kerap dibungkam, Seno hadir sebagai suara yang tak bisa disenyapkan. Melalui cerpen, novel, dan esainya, ia meretas batas antara…
Kuntowijoyo (1943–2005) adalah sastrawan, sejarawan, dan intelektual Indonesia yang dikenal karena karya-karyanya yang memadukan sastra, sejarah, dan pemikiran Islam. Ia lahir di Yogyakarta dan menempuh pendidikan hingga meraih gelar Ph.D di bidang sejarah dari University of Michigan. Dalam dunia sastra, Kuntowijoyo menulis cerpen, novel, puisi, dan esai—dengan gaya yang reflektif, filosofis, dan…
Fragmen Sisipan - Umar Kayam (Diambil dari Kumcer Seribu Kunang-Kunang di Manhattan) Umar Kayam (1932–2002) adalah seorang intelektual multitalenta Indonesia yang dikenal sebagai sosiolog, budayawan, dan sastrawan terkemuka. Lahir di Ngawi, Jawa Timur, ia meraih gelar doktor dari Cornell University dan menjadi Guru Besar di Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain dedikasinya di dunia akademik,…
Fragmen Sisipan - Umar Kayam (Diambil dari Kumcer Seribu Kunang-Kunang di Manhattan) Umar Kayam (1932–2002) adalah seorang intelektual multitalenta Indonesia yang dikenal sebagai sosiolog, budayawan, dan sastrawan terkemuka. Lahir di Ngawi, Jawa Timur, ia meraih gelar doktor dari Cornell University dan menjadi Guru Besar di Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain dedikasinya di dunia akademik, ia…
Fragmen Sisipan - Umar Kayam (Diambil dari Kumcer Seribu Kunang-Kunang di Manhattan) Umar Kayam (1932–2002) adalah seorang intelektual multitalenta Indonesia yang dikenal sebagai sosiolog, budayawan, dan sastrawan terkemuka. Lahir di Ngawi, Jawa Timur, ia meraih gelar doktor dari Cornell University dan menjadi Guru Besar di Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain dedikasinya di dunia akademik, ia…
Sugiarti Siswadi, sepanjang tahun 1960an menjadi bagian dari anggota pimpiman pusat Lekra. Sugiarti pernah menjadi co-editor di majalah Api Kartini, dan menerbitkan sejumlah tulisannya di Harian Rakjat. Cerpen "Sorga di Bumi" merupakan karya yang ia terbitkan di Harian Rakjat pada masanya menjabat sebagai anggota Lekra. Sugiarti merupakan perempuan yang vokal dan lantang membicarakan betapa…
Dibacakan oleh Febrian. - Bachtiar Siagian merupakan seorang sutradara film dan penulis poros kiri pada masanya. Ia bergabung dan menjadi salah satu figur Lekra pada tahun 1950. Karyanya yang berjudul Turang (1957) berhasil meraih empat penghargaan di Festival Film Indonesia tahun 1960. Pada masa Soeharto mulai berkuasa, Siagian sedang berada di Jepang dalam proyek pembuatan dokumenter.…
Dibacakan oleh Febrian - Harsono Setiadi adalah seorang penulis puisi yang berasal dari Banyuwangi yang lebih dikenal dengan nama pena Nusananta. Kuliah Hukum Ekonomi Sosial Politik (HESP) di Pagelaran. Sesudah bergelar doktorandus, pada tahun 1965 ia menjadi kepala jawatan kebudayaan di Semarang, Jawa Tengah. Seiring terjadinya Peristiwa G30S, ia ditangkap karena ketokohannya di dalam Himpunan…
Dibacakan oleh Dea - Ratna Indraswari Ibrahim merupakan penulis perempuan Indonesia kelahiran 24 April 1949. Pada masa kanak-kanak, Ratna menderita radang tulang yang mengakibatkan kedua kaki dan tangannya tidak berfungsi. Hal inilah yang menyebabkan Ratna harus menjalani semua aktivitas kehidupannya dengan duduk di atas kursi roda semenjak berusia 10 tahun. Walaupun kemampuan fisiknya sangat…