Dalam suasana Idul Adha, belakangan muncul pertanyaan terkait kisah perintah penyembelihan yang dialami Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putranya, Nabi Isma’il ‘alaihissalam1. Dikisahkan dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat bagaimana Nabi Ibrahim yang dianugerahi seorang putra diperintahkan oleh Allah melalui mimpi untuk menyembelih putranya tersebut2. Pertanyaannya: bagaimana bisa seorang ayah, yang juga adalah seorang Nabi, hendak menyembelih putranya? Bahkan, perintah tersebut diterima Nabi Ibrahim melalui mimpi. Jika tindakan ini dibenarkan, bagaimana jika di dunia modern ini ada yang melakukan hal serupa? Bagaimana jika ada seorang ayah yang berbasis mimpi atau merasa diperintah oleh suara-suara di kepalanya atau bahkan didorong oleh gangguan kejiwaannya kemudian melakukan kekerasan pada anaknya? Bukankah ini mestinya tidak bisa diterima? Tapi, tidakkah penolakan terhadap kasus ini di era modern mestinya juga berlaku untuk kasus Nabi Ibrahim? Atau lebih general lagi: mengapa Tuhan Yang Maha Pengasih memerintahkan hambanya untuk melakukan perbuatan semacam ini?
Tulisan ini akan merespon pertanyaan-pertanyaan di atas melalui berbagai perspektif.
Pertama, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak mendapat perintah dari sosok fiktif atau imajinasi atau suara-suara asing di kepalanya, tetapi oleh Tuhan pencipta semesta! Jauh sebelum peristiwa perintah penyembelihan terjadi, beliau sudah terlebih dahulu diilhami bukti rasional soal keberadaan Tuhan3! Dalam da’wah kepada kaumnya, beliau menunjukkan bagaimana bintang, bulan, matahari bukanlah Tuhan karena mereka semua terbit dan terbenam4. Adanya sifat-sifat yang mungkin dan bermula pada objek ini berimplikasi rasional bahwa objek-objek ini semuanya butuh kepada Entitas Yang Menentukan dan Menciptakan mereka dari ketiadaan. Inilah Tuhan Yang Maha Wajib (Wajib al-Wujud/Necessary Being) yang wujud tanpa permulaan. Karena segala sesuatu bergantung pada Tuhan, maka Ia lah satu-satunya yang mendatangkan manfaat dan mudharat5, bukan berhala atau objek fisik lainnya meskipun ukurannya besar6, terlebih jika objek-objek tersebut adalah ciptaan dari manusia itu sendiri!7 Dari sini kita tahu beliau bukan bertindak berbasis wahm atau problem kejiwaan, wal ‘iyadzubillah! Bagaimana bisa sedangkan ia datang dengan bukti rasional yang tak terbantahkan? Bahkan, saking banyaknya bukti rasional (hujaj) yang diilhamkan kepada beliau dalam Al-Qur’an, beliau disebut sebagai nabiyyul hujjah!
Kedua, jauh sebelum perintah penyembelihan terjadi, beliau sudah tahu bahwa beliau adalah Utusan Tuhan! Selain diilhami dengan bukti rasional, beliau juga dianugerahi mu'jizat, yaitu sesuatu di luar regularitas alam yang terjadi di tangan mereka yang mengklaim sebagai Utusan Tuhan yang mengindikasikan Konfirmasi Ilahiah dari Tuhan tentang kebenaran klaim tersebut. Kisah paling eksplisit soal ini adalah bagaimana beliau diperlihatkan burung-burung yang sudah mati dihidupkan kembali8 dan bagaimana beliau selamat dari api9. Maka, semua yang beliau sampaikan tidak lain adalah pesan Tuhan! Termasuk di dalamnya adalah validitas mimpi seorang Nabi sebagai salah satu bentuk turunnya wahyu dari Tuhan10. Maka, jelas keliru menyamakan mimpi seseorang yang sudah terbukti secara rasional sebagai seorang Utusan Tuhan dengan mimpi orang biasa pada umumnya!
Ketiga, mengapa di era modern memahami mimpi sebagai bentuk wahyu itu tidak valid? Karena sudah datang seorang Nabi, dengan bukti rasional yang terkandung dalam firman yang diberikan Tuhan kepadanya dan dengan mu'jizat yang begitu banyaknya, yang menyampaikan pesan Tuhan bahwa ia adalah utusan terakhir Tuhan. Ia lah Rasulullah Muhammad bin Abdullah shallahu ‘alaihi wasallam. Maka, tidak akan ada pengakuan kenabian yang valid setelah kedatangan beliau. Tidak akan terjadi mu’jizat di tangan pendusta yang mengklaim kenabian sesudah beliau. Mengapa? Karena ini berimplikasi adanya kebohongan dan kontradiksi pada Kalam Tuhan sedangkan Kalam Tuhan merefleksikan Pengetahuan Tuhan dan Pengetahuan-Nya mustahil tidak sesuai dengan realita.11
Keempat, pertanyaan soal mengapa Tuhan Yang Maha Pengasih memerintahkan hamba-Nya untuk menyembelih putranya sendiri, jawaban paling mendasarnya adalah: Tuhan bebas berbuat apa pun. Kita sudah banyak membahas soal ini di blog ini, bagaimana adanya kejahatan, kepunahan hewan, dan semacamnya tidak berpengaruh apa pun pada argumentasi keberadaan Tuhan. Sebagai Pencipta, Tuhan lah Pemilik yang sejati dan Ia bebas melakukan apa pun pada semua ciptaan-Nya. Ia tidak bisa disifati dengan dzulm (meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya) karena memang Ia lah pemilik mutlak segala sesuatu. Dari sini kita juga memahami bagaimana sejatinya baik-buruk suatu perbuatan sejatinya kembali kepada perintah Tuhan sebagai Pencipta dan Pemilik sejati manusia.
Kelima, meski Tuhan bebas berbuat apa pun, Tuhan juga mengabarkan melalui Wahyu-Nya bahwa Ia Maha Penyayang dan Maha Bijaksana. Artinya, Tuhan memilih menganugerahkan kebaikan kepada ciptaan-Nya dan perintah Tuhan selalu penuh hikmah yang manfaatnya kembali kepada ciptaan-Nya. Dalam konteks kisah Nabi Ibrahim, Tuhan sudah menunjukkan langsung kasih sayang-Nya dengan menganugerahkan anak yang begitu didamba, yaitu Nabi Isma'il. Allah juga menganugerahkan anak kedua, yaitu Nabi Ishaq, meskipun beliau dan istri sudah lanjut usia12. Di sisi lain, Tuhan juga sudah menguji Nabi Ibrahim dengan memberikan perintah yang sekilas sulit untuk diterima, seperti meninggalkan Nabi Isma’il dan Siti Hajar di padang pasir13. Pada akhirnya, dari perintah tersebut, muncul kota baru bernama Mekkah yang nantinya menjadi tempat lahir Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam sekaligus tempat dibangunnya rumah peribadatan yang kelak menjadi kiblat umat Islam yaitu Ka’bah14. Karena Tuhan Maha Sempurna dan Maha Wajib, Sifat-Nya tidak mengalami perubahan. Maka, apa pun perintah yang diberikan Tuhan, pasti di dalamnya ada Kasih Sayang dan Kebijaksanaan Tuhan, bahkan jika kita tak sepenuhnya mampu memahaminya!
Keenam, perintah Tuhan di atas sama sekali bukan dimaksud untuk menyiksa atau menyengsarakan hamba-Nya, tapi sebagai ujian yang justru mendatangkan manfaat untuk Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il! Keberserahan diri (tawakkul) kedua Nabi dalam menjalankan perintah Tuhan justru semakin meninggikan derajat keduanya! Mereka sudah melihat langsung bukti kasih sayang dan kebijaksanaan Tuhan. Maka, mereka menerima segala perintah-Nya dengan sukarela, tanpa paksaan, dan penuh kepercayaan bahwa Tuhan memilih Rahmat dan Hikmah dalam setiap perbuatan-Nya. Artinya, tindakan keduanya bukanlah tindakan delusional, wal iyadzubillah, tapi justru adalah tindakan yang rasional dan bahkan adalah konsekuensi iman yang sesungguhnya! Bahkan, perbuatan ini justru memperdalam cinta antara keduanya, yang tercermin dari bagaimana keduanya saling berdialog dengan panggilan penuh cinta sebelum menyepakati untuk menjalankan perintah Tuhan! Dan ini lah mengapa, di akhir kisah, Tuhan mengganti perintah yang sudah Ia berikan sebelumnya dengan perintah baru: berkurban dengan hewan ternak.15 Artinya, penyembelihan anak memang tidak pernah menjadi tujuan akhir yang harus dicapai, melainkan sebagai bentuk ujian bagi kedua hamba-Nya yang Ia cintai.
Dari poin-poin di atas, alih-alih mempermasalahkan perintah penyembelihan, semestinya kita fokus pada pelajaran yang bisa kita ambil. Kisah ini barangkali mengajarkan kita untuk lebih mensyukuri segala anugerah Tuhan. Terkadang, nikmat Tuhan baru kita sadari ketika kita tak lagi memilikinya. Di sisi lain, Tuhan barangkali ingin menunjukkan bahwa Ia lah pemilik mutlak segala sesuatu, termasuk anak yang dianugerahkan kepada kita. Maka, sebagai Pemilik, Tuhan pun bebas mengambil kembali anugerah-Nya setiap saat. Sejatinya, ini lah mindset orang beriman ketika mengalami kehilangan. Merasa terpuruk dalam kehilangan hanya terjadi karena pernah merasa memiliki, padahal sejatinya kita tak pernah memiliki apa pun!
"Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Di seluruh alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."
Wallahu a’lam.
Ingin membaca lebih detail tentang bukti rasional di balik pokok-pokok keimanan Islam? Silahkan baca buku “Logika Keimanan” edisi terbaru.
Jika ingin mentraktir kopi penulisnya, silahkan klik di sini.
Jika tulisan ini bermanfaat, silahkan bagikan ke rekan-rekan anda:
Dalam literatur tafsir, ada perdebatan mengenai siapa yang sebetulnya diperintahkan untuk disembelih oleh Nabi Ibrahim, apakah Nabi Isma’il atau Nabi Ishaq, ‘alahimussalam. Tulisan ini tidak hendak fokus pada perdebatan tersebut dan memilih pendapat masyhur yaitu Nabi Isma’il.
Surat Ash-Shaffat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka ketika anak itu sampai pada usia dapat berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Dia menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
Surat Al-An’am ayat 83:
وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami mengangkat derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”
Al-An’am 76-69:
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ
“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang lalu berkata: ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi ketika bintang itu tenggelam dia berkata: ‘Aku tidak suka kepada yang tenggelam.’”
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
“Kemudian ketika dia melihat bulan terbit dia berkata: ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi ketika bulan itu tenggelam dia berkata: ‘Sungguh jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk kaum yang sesat.’”
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ
“Kemudian ketika dia melihat matahari terbit dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini lebih besar.’ Tetapi ketika matahari tenggelam dia berkata: ‘Wahai kaumku! Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan.’”
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”
Maryam ayat 42:
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا
“Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?”
Asy-Syuara’ 72-73:
قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ
أَوْ يَنفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ
“Ibrahim berkata: ‘Apakah mereka mendengar kalian ketika kalian berdoa? Atau memberi manfaat atau mudarat kepada kalian?’”
Al-Anbiya’ 66:
قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ
“Ibrahim berkata: ‘Apakah kalian menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula memberi mudarat kepada kalian?’”
Al-Anbiya’ 63:
قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِن كَانُوا يَنطِقُونَ
“Ibrahim berkata: ‘Sebenarnya patung besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.’”
Ash-Shaffat 95-96:
قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ
“Ibrahim berkata: ‘Apakah kalian menyembah apa yang kalian pahat sendiri?’”
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
“Padahal Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat.”
Al-Baqarah 260:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Dia (Allah) berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang.” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu dekatkanlah kepadamu (potong-potonglah). Kemudian, letakkanlah di atas setiap bukit satu bagian dari tiap-tiap burung. Selanjutnya, panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
Al-Anbiya’ 69:
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
“Kami berfirman: ‘Wahai api! Jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.’”
أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ
“Permulaan wahyu yang diberikan kepada Rasulullah ﷺ adalah mimpi yang benar.”
(HR Bukhari)
Jika ditanya, “Bukankah Tuhan Maha Kuasa melakukan apa pun, termasuk mewahyukan sesuatu yang tidak sesuai realita?”, jawaban yang tepat: Kekuasaan Tuhan hanya berkaitan dengan sesuatu yang mungkin secara rasional. Adanya kebohongan pada Kalam Tuhan termasuk sesuatu yang mustahil secara rasional sebagaimana disinggung di tulisan. Detail argumentasi soal mustahilnya kebohongan pada Kalam Tuhan di luar scope tulisan ini.
Ibrahim ayat 39:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di usia tua Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar doa.”
Ibrahim ayat 37:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di sebuah lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati. Ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan agar mereka bersyukur.”
Al-Baqarah 127:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”
Ash-Shaffat 104-107:
وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا
“Kami memanggilnya: ‘Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.’”
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ
“Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata.”
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar.”
No posts

Comments
Nothing yet. Say the first thing.
Sign in to join the conversation.