“What do you think happens when we die, Keanu Reeves?”
“I know that the ones who love us will miss us.”
Percakapan di tahun 2019 antara Stephen Colbert dan Keanu Reeves ini sudah ditonton oleh jutaan orang. Tidak ada yang menyangka jawaban itu akan keluar karena bahasan sebelumnya cenderung ringan. Bahkan setelah Colbert bertanya, penonton masih tertawa.
Semua terdiam saat mendengar jawaban Reeves.
Ia adalah aktor yang sudah mengalami banyak kehilangan. Banyak orang mungkin tahu hal ini dan sering mengaitkannya dengan kebaikan hatinya. Walaupun menurutku kebaikan hati tidak harus muncul akibat banyak kehilangan orang tersayang terlebih dulu.
Apa yang akan terjadi setelah kita meninggal?
Keanu Reeves memilih untuk berempati. Di saat orang pada umumnya mungkin akan mengaitkan dengan agama atau kepercayaan (baik itu percaya ada kehidupan setelah kematian atau jawaban nihilistik), Reeves melihat dari sudut pandang orang lain yang merasa kehilangan.
Pasangan kita, orang tua, anak, keluarga, teman-teman. Semua yang menyayangi kita pasti akan merasa kehilangan dan rindu.
Kerinduan yang tidak akan hilang walau bertahun-tahun lamanya.
Beberapa waktu lalu, aku membaca blog Matthew Dicks, pengarang buku Storyworthy. Ia membagikan pandangannya, tentang apa yang ingin ia tulis di batu nisannya pada saat meninggal nanti.
Menurutku ini juga menarik. Dicks mengambil sudut pandang dari orang yang meninggal, bahwa tentu kematian adalah hal tersulit bagi si orang yang meninggal. “Kalau tidak percaya, coba tanyakan pada dirimu sendiri: Lebih baik aku atau kamu yang dikubur di bawah batu nisan ini?”
Entah ada sedikit canda di situ atau memang pola pikirnya.
Jawaban yang berbeda, yang tentunya memiliki latar belakang yang berbeda. Pendapatku, saat nantinya ada orang terdekat Dicks, orang yang ia cintai sepenuh hati, ternyata meninggalkan dunia ini terlebih dulu, ia akan mengubah jawaban tersebut.
Apabila kubayangkan, seorang Stephen Colbert mewawancaraiku, lalu menanyakan apa yang akan terjadi setelah kita meninggal, kurasa aku tidak akan memiliki jawaban yang bijak.
Sebagai seorang Katolik, aku percaya ada kebangkitan setelah kematian. Ada pengampunan dosa, kehidupan yang kekal.
Aku berharap ada orang-orang yang mencintaiku, yang merasa kehilangan, akan merasa rindu terhadapku.
Tapi di sisi lain, ketika aku melihat istriku, yang begitu merasa kehilangan akan kedua orang tuanya, yang tetap masih sering terbawa mimpi, yang tetap menangis tersedu jika mengingat bapak dan ibunya, ada perasaanku yang tidak tega.
Bagaimana kalau aku meninggal dan hal itu terjadi kembali pada istriku?
Bagaimana kalau Raya merasakan hal yang sama dengan ibunya?
Kematian adalah bagian dari kehidupan. Satu hal yang pasti.
Namun kepastian itu ternyata tidak bisa mengurangi duka dan luka bagi yang ditinggalkan.

Comments
Nothing yet. Say the first thing.
Sign in to join the conversation.