RSS Amplifier

Jagad Raya · Aug 19, 2026

Gym dan Nursery Room

0
Sign in to vote or save

Stefanus Jagad · Jagad Raya

Raya akan berumur 8 bulan sebentar lagi.

Tingkah polahnya semakin beragam. Dia sudah lancar duduk tegak, semakin pecicilan, mau makan apa saja kecuali buah naga.

Sekarang ini dia sedang belajar merangkak. Sudah sempat berhasil satu langkah maju, tapi kemudian duduk lagi. Ada coach-nya di gym yang mengatakan seharusnya sudah bisa merangkak, tapi karena pahanya gembil jadi dia mager (talk about body shaming, eh?).

Barang favoritnya adalah tali karet untuk digigit, mainan yang bisa ditempel di kaca lalu diputar, dan balon dari bungkus plastik yang diikat.

Walaupun ekspresi defaultnya tetap merengut, sekarang Raya sudah sering tersenyum dan tertawa, terutama saat main cilukba dan saat melihat ayahnya.

Yap, salah satu hal yang paling membuatku berat tiap harus meninggalkan rumah adalah karena Raya selalu tersenyum saat melihatku. Aku tidak mengerti apakah ini insting seorang anak atau memang ada yang lucu di mukaku sehingga membuat ia selalu tersenyum.

Mungkin ini pendapat pribadi yang belum tentu benar (dan tentu banyak orang tua akan merasa seperti ini pada anaknya), tapi aku takjub dan bangga dengan daya ingat Raya. Selain mukaku, Raya juga ingat dengan baju seragam training coach di gym, serta ruang ganti popok di mall.

Ada salah satu aktivitas di gym di mana bayi akan bergelantungan di tiang. Coach memegang tangan bayi di tiang, lalu bayi tersebut akan berayun-ayun atau kakinya memanjat ke atas.

Raya selalu menangis bila dibawa mendekat ke tiang tersebut. Selalu! Seakan-akan ia sudah tahu apa yang akan terjadi setelahnya, bahkan sebelum kami sampai di tiang.

Ia ingat wajah coach yang mendampingi anak bergelantungan. Tiap sebelum kelas dimulai atau setelahnya, Raya akan membuang muka atau menangis lagi bila didekati oleh coach itu.

Begitu juga dengan ruang nursery room untuk ganti popok. Asumsiku dan Dina, Raya teringat kamar rumah sakit tempat ia harus diimunisasi setiap kali masuk ke nursery room.

Awalnya ini terjadi saat kami masuk nursery room di Pacific Place. Saat ditidurkan untuk ganti popok, Raya menangis sejadi-jadinya.

Sontak kami kaget dan kebingungan. Kami cepat-cepat mengganti popoknya lalu menggendongnya keluar ruangan.

Beberapa hari lalu hal ini terjadi lagi di PIM. Bahkan sebelum masuk ke ruangan, ketika Raya melihat pintu dengan logo seorang ibu mengganti popok, ia langsung menangis kencang.

Perasaanku bercampur aduk. Antara kasihan karena Raya sudah memiliki trauma bahkan sebelum mencapai umur 8 bulan, tapi juga takjub dengan ingatannya.

Bagaimana agar Raya tetap mau mengikuti kelas gym dan mungkin nantinya bisa bergelantungan untuk melatih kekuatan tangannya masih menjadi PR-ku dan Dina. Begitu pun dengan nursery room.

Namun inilah realita yang baru kusadari sebagai orang tua.

Betapa banyak hal tidak terduga yang muncul saat membesarkan anak.

Dibelikan beragam mainan, anak lebih memilih balon dari bungkus plastik. Jarang sekali bertemu, tapi selalu tersenyum saat melihat wajah ayahnya. Bisa menangis menjerit saat melihat lambang nursery room walaupun hanya ingin diganti popoknya.

Lalu bagaimana cara seorang ayah mendidik anaknya? Memaksakan anak untuk menghadapi hal yang ia takuti supaya bisa berani, dengan mengabaikan tangisannya? Apakah membiarkan nantinya anak itu menjadi seorang yang berani menghadapi apapun namun ada rasa sakit hati yang tersimpan untuk ayahnya?

Pilihan-pilihan ini muncul dari hal kecil dan sepele, yang terus akan berjalan seumur hidup.

Tentu akan ada banyak kesalahan yang kubuat. Namun, sebisa mungkin aku tidak hanya mendidik anakku agar menjadi anak yang baik, melainkan juga menjadi orang dewasa yang baik.

Raya akan mengalami banyak hal dan menjalani hidupnya sendiri. Semoga ketika ia menemui “tiang gelantungan” atau “nursery room” lain dalam hidupnya kelak, ia akan dengan berani menghadapi sambil tersenyum mengingat wajah ayahnya.

Read the original on jagadgp.substack.com

Comments

Nothing yet. Say the first thing.

    Sign in to join the conversation.