Meets & Gigs mencapai edisi ketiga — masih berupa kolaborasi antara Bintaro Bawah Tanah, Shoutbox, Deathrockstar, dan Flavor Bliss. Konsepnya tetap konsisten: mempertemukan berbagai komunitas kreatif dalam satu ruang gigs. Karena itu, selain penampilan musik, pengunjung juga bisa menikmati berbagai booth kreatif yang diisi oleh Gambar Selaw, Winsoi, hingga komikus Lele Larasputri. Sementara itu, panggung utama diisi oleh band-band independen segar dari kawasan Tangerang Raya dan Jakarta.
Set Meet and Gigs 3 dibuka oleh Painted House Parties—alias Ghazi Awandi dengan gitarnya—membawa suasana yang berbeda. Meski dikenal lewat rilisan-rilisan akustik yang mengingatkan pada Elliott Smith atau Red House Painters, di kesempatan kali ini ia memberi kejutan. Begitu diberi ruang untuk keluar dari estetika kamar tidurnya, ia langsung tancap gas ke arah full distorted, seperti yang ia tunjukkan di panggung Meets & Gigs tadi malam.
Dilanjutkan oleh Ikan Bakar Sulawesi, band yang banyak menyerap referensi dari berbagai band emo obscure dunia. Daftar lagu terbaru mereka didominasi demo sendiri serta cover lagu-lagu yang relatif tidak dikenal. Justru di situlah letak daya tarik mereka — sebuah keunikan yang membuat kita menantikan rilisan terbaru mereka, dengan harapan tidak ikut tenggelam menjadi se-obscure sumber inspirasinya.
Penampilan berikutnya datang dari LIMOCAT, yang menghadirkan perpaduan progresif antara progressive rock, soundtrack anime, pop Indonesia, dan alternative rock. Mereka baru saja merilis EP debut “Prolog”, yang mengangkat tema pergulatan batin dan harapan. Di panggung, karakter mereka semakin terasa: dinamis, eksperimental, dan menunjukkan bagaimana setiap personel berkontribusi dalam proses kreatif meski datang dari preferensi musik yang berbeda-beda.
Set kemudian berlanjut dengan Turbokidz, yang tampil semakin solid dengan formasi terbarunya. Mereka membawakan berbagai single yang pernah dirilis, penuh energi dan presisi.
Dari ranah indie pop/dream pop, After Hours tampil membawakan set list dari rilisan terbaru mereka, termasuk favorit saya;“Forever” sebuah lagu lembut tentang cinta yang bertahan melampaui waktu. Suasana langsung berubah menjadi lebih mengawang-ngawang.
Menutup malam, Mock-Tale, band indie rock bernuansa pop ala British dari Tangerang, membawakan beberapa materi mereka — termasuk lagu yang belum rilis berjudul “Tulip,” yang mereka tampilkan pertama kali di Meets & Gigs 3 di Broadway, The Flavor Bliss, Alam Sutera.
Secara keseluruhan, edisi ketiga Meets & Gigs menghadirkan akhir pekan yang penuh warna: dosis lengkap musik independen muda, bergairah, dan penuh semangat untuk terus tumbuh bersama komunitasnya.

Comments
Nothing yet. Say the first thing.
Sign in to join the conversation.