RSS Amplifier

BANGGHUL Media | Ghulam Tufail · Aug 17, 2026

HUMERROR Rilis Album Debut "Liturgy of the Synthetic Gods", Kritik Berhala Modern

0
Sign in to vote or save

BANGGHUL Media | Ghulam Tufail · BANGGHUL Media | Ghulam Tufail

HUMERROR akhirnya nunjukin taringnya lewat album debut penuh, “Liturgy of the Synthetic Gods”. Band deathgrind/grindcore asal Palembang ini sebelumnya dikenal dengan nama Ta’zia, tapi transformasi jadi HUMERROR bukan sekadar ganti nama — ini rebirth artistik total, lengkap sama bahasa konseptual yang lebih tajam, identitas visual yang lebih gelap, dan sound yang dirancang buat nembus pasar extreme metal internasional. Nama HUMERROR sendiri merujuk ke gagasan sentral mereka: human error sebagai sumber kehancuran — arogansi, kepatuhan buta, iman yang korup, penyalahgunaan kekuasaan, ketergantungan teknologi, dan ilusi soal kemajuan.

Sebelas track di “Liturgy of the Synthetic Gods” dibangun sebagai satu konsep utuh soal runtuhnya kepercayaan dan lahirnya sistem dominasi baru. Gagasan intinya sederhana tapi bikin merinding: manusia nggak pernah berhenti menyembah, cuma ganti sesembahan. Teknologi jadi nubuat, pemerintah jadi doktrin, konsumerisme jadi devosi, dan iman yang korup berubah jadi alat kontrol. Ini tercermin di tracklist-nya — “Invocation of the Burned” buka album kayak ritual pemanggilan, “Vicious Dominion” dan “Error Divine” ngebahas kekuasaan yang lahir dari iman yang rusak, “Chapel of Chains” dan “Dogma Machine” ngulik kepatuhan sebagai mekanisme kontrol, “Digital Overkill” nyorot kecanduan layar dan dominasi algoritma, sementara “Government Terror” dan “State of Parasite” ngarah ke kekerasan politik dan eksploitasi. Album ditutup lewat “Deus Silentium,” doa terakhir yang suram buat dunia yang habis dilahap berhala sintetisnya sendiri.

Secara musikal, HUMERROR ngeramu kecepatan grindcore, kepadatan death metal, dan sentuhan industrial yang halus tapi kerasa. Albumnya digarap Adityo Wibisono dan Fikri Dasa Putra buat lirik, diproduseri Kevin Pangestu, direkam di 33 Production Studio Indonesia, dan di-mix-master Arif Hadianto — sementara artwork pendeta mekanis di reruntuhan katedral industrial digarap @am_syahrizal. Di atas semua kegelapan itu, HUMERROR negasin satu hal lewat manifesto mereka: berhala sintetis itu nggak pernah dipaksakan ke kita, kita sendiri yang membangunnya.

Read the original on bangghulam.substack.com

Comments

Nothing yet. Say the first thing.

    Sign in to join the conversation.