Di balik riuhnya narasi konseptual “Annihilation”, ternyata ada cerita yang jauh lebih personal. Lewat pernyataan di akun Instagram pribadinya, Ramzi Firhad — otak utama di balik Antrodemus — ngungkap kalau album ini digarap sepenuhnya sendirian sepanjang 2025, sebelum akhirnya rilis di 2026, entah lewat label atau independen. Buat Ramzi, “Annihilation” bukan cuma kumpulan lagu, tapi satu proses belajar buat mendorong dirinya sendiri melewati apa yang terasa mungkin secara manusiawi, dan di titik itulah dia ngerasa paling dekat sama transendensi.
Ramzi juga jujur soal fase kelam yang sempat dia lewatin: kejebak dalam permainan popularitas media sosial yang dia sebut sebagai jebakan kapitalistik yang ngedrain energi dan menumpulkan kesadaran berkarya. Padahal itu bertentangan sama sifat aslinya yang emang benci cari perhatian. Sampai titik tertentu, dia bahkan mulai mempertanyakan harga dirinya sebagai seniman ketika semuanya cuma direduksi jadi angka engagement dan popularitas sesaat. Buat dia, mencipta adalah bentuk ibadah tanpa agama, sebuah respons murni terhadap dunia lewat pemahamannya yang terbatas — dan “Annihilation” jadi eksplorasi soal transendensi lewat kekosongan, pertanyaan-pertanyaan ilahi yang nggak butuh jawaban, cuma butuh dirasakan sebagai gejolak batin.
"For me, creating art is a form of worship without religion. A pure act of creation." — Ramzi Firhad
Secara musikal, album ini juga jadi bentuk pembangkangan Ramzi terhadap konvensi kaku death metal dan black metal yang menuntut “trve-ness”. Dia malah makein organ gereja secara sakrilegius sebagai gitar kedua, dan alih-alih menyembah nabi-nabi old-school genre ini, dia justru murtad, mengabdikan diri ke pengaruh proto-rock era 1970-an. Sesuai semangat D.I.Y. sejati, nggak ada satupun orang lain yang masuk ke ruang sakral penciptaannya — rekaman, mixing, mastering, artwork, sampai promosi, semuanya dikerjain tangannya sendiri.
"This album is not just a collection of songs, but a body of work and a process of learning, about pushing myself beyond what feels humanly possible. That threshold is where I find joy, and where I feel closest to transcendence." — Ramzi Firhad

Comments
Nothing yet. Say the first thing.
Sign in to join the conversation.